27.7 C
Jakarta

Mengenal Yudian: Belajar Pancasila pada Nakhoda BPIP

Artikel Trending

KhazanahResensi BukuMengenal Yudian: Belajar Pancasila pada Nakhoda BPIP
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Judul: Mengenal Lebih Dekat Sosok dan Pemikiran Kepala BPIP RI Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, MA., Ph.D., Penulis: (Ed.) Khoirul Anam, dkk., Tahun Terbit: 2021, Penerbit: SUKA Press, Tebal Halaman: 198 hlm, ISBN : 978-623-7816-29-4, Peresensi: Saiful Bari.

Harakatuna.com – Mungkin, sebagian pembaca yang budiman mengenal Prof. KH. Yudian Wahyudi, Ph.D., sebagai sosok yang kontroversial. Hal ini karena membaca pernyataannya “Agama musuh besar Pancasila”. Karena pernyataan inilah, sebagian publik menganggap sosok yang kasar dan tempramental.

Seyogianya, Prof. KH. Yudian tidaklah demikian. Bagi kolega dan muridnya atau bahkan bagi mereka yang hanya berjumpa beberapa kali (meskipun hanya sebatas melalui karyanya) tentu mereka akan menganggap kalau Prof. KH. Yudian adalah sosok yang sederhana, dermawan, cerdas, humanis, nasionalis dan visioner.

Dengan kata lain, tindak lakunya tak jauh dari nilai-nilai Pancasila. Bahkan, jauh sebelum menjadi Kepala BPIP, Prof. Yudian telah memaparkan dan sekaligus mengenalkan ide Pancasila sebagai kalimat bersama (kalimatun sawa’) di Harvard University [hlm.70].

Maka, buku “Mengenal Lebih Dekat Sosok dan Pemikiran Kepala BPIP RI Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, MA., Ph.D.” yang diramu oleh Khoirul Anam, dkk ini berusaha mengenalkan lebih dekat siapa dan bagaimana pemikiran Prof. KH. Yudian. Kemudian memaparkan pandangannya tentang Pancasila sebagai konsensus tertinggi di Indonesia. Dengan demikian, harapannya, kita dapat belajar Pancasila kepada Kepala BPIP ini.

Pada kenyataannya, tak jarang generasi milenial belum memahami kesaktian Pancasila. Di lain sisi, mereka rentan dan bahkan rapuh terhadap hal-hal baru termasuk radikalisme, yang selalu berupaya ingin mencabut Pancasila dari bumi Indonesia. Maka, adalah penting generasi muda sekarang mencari figur atau sosok yang bisa diteladani.

Adalah tepat jika mereka meneladani sosok Prof. KH. Yudian Wahyudi yang telah mampu mengimplementasikan Pancasila dalam tindakan, sukses menjadi Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta meratakan jalannya menjadi Kepala BPIP. Oleh karena itu, hadirnya buku ini dapat menjadi “wasilah” (perantara) kita untuk lebih mengenal Kepala BPIP RI itu.

Buku ini merupakan antologi. Artinya, terdapat banyak penulis di dalamnya. Uniknya, para penulis: yang terdiri dari kolega dan muridnya itu menulis sosok Kepala BPIP tidaklah melalui undangan sebagaimana menulis buku bersama, melainkan mereka menulis berdasarkan “panggilan” nurani. Yaitu, panggilan untuk melakukan kontra narasi terhadap mereka yang menuduh Yudian tak pancasilais. Di lain sisi, mereka berupaya memberikan pemahaman kepada masyarakat luas tentang pemikiran “Sang Nakhoda BPIP”.

BACA JUGA  Nurcholish Madjid; Sang Neo-Modernis yang Anti-Partai Islam

Buku ini dibagi menjadi empat bagian. Kata pengantar dan bab I berisikan pandangan orang lain tentang diri Yudian yang diberi judul “Profil Yudian di Mata Kolega”. Bab II berisikan ulasan tentang “Keilmuan Yudian dari Berbagai Perspektif”. Bab selanjutnya, diberi judul, “Yudian dalam Pembelaan?”. Bab terakhir, mengulas “Yudian Nakhoda BPIP: Sebuah Harapan Masa Depan?”.

Keteladanan yang bisa dicontoh dari sosok Prof. KH. Yudian ini ada tiga karakter baik yang pertama, selalu bersyukur. Dikatakan begitu karena Yudian kerap menegaskan untuk selalu bersyukur karena Pancasila adalah anugerah terbesar tidak hanya bagi bangsa ini tetapi juga bagi bangsa-bangsa di dunia pada abad 2020 [hlm.170].

Menurut Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Phil Al Makin, karakter berikutnya yang dapat diteladani ialah menghargai persahabatan. Dikatakan menghargai persahabatan, karena Yudian selalu memberi jalan yang mudah kepada kolega maupun muridnya serta siapa pun yang berurusan dengannya. Yudian juga bisa menjadi sahabat yang melampaui kesusahan dan kesenangan [hlm. IX].

Karakter yang terakhir ialah menjunjung tinggi kejujuran. Dikatakan demikian, karena Yudian memiliki insting yang tinggi sehingga, ia tahu saat berhubungan dengan seseorang itu jujur atau tidak jujur, tulus atau tidak tulus. Yang paling penting, Yudian dalam pandangan Prof. Fauzul Iman, adalah sosok penolong dan mudah tersentuh untuk membangun empati sosial [hlm. 24].

Bagi milenial yang kesulitan mencari teladan dalam pengamalan nilai-nilai Pancasila maka sebaiknya meluangkan waktu untuk membaca buku ini. Di samping bacaan atau literatur yang tersedia, untuk mendalami Pancasila sebagai ilmu.

Tentu saja buku ini tak lepas dari kekurangan dan kesalahan pengamatan/penilaian dari subjektivitas penulisnya masing-masing namun, tidak mengurangi sumbangannya dalam memberikan informasi, sehingga patut dipertimbangkan secara cermat dan kritis.

Saya berharap, tim redaksi dapat menampilkan sosok-sosok “Yudian” yang lain. Pada akhirnya, generasi muda Indonesia dapat memilih teladan sesuai dengan karakteristiknya.

Saiful Bari
Saiful Bari
Alumnus Program Studi Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Juga, pernah nyantri di Ponpes Al-falah Silo, Jember. Kini menjadi Redaktur Majalah Silapedia.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru