27.5 C
Jakarta

Peran Pesantren dalam Memberangus Radikalisme-Ekstremisme

Artikel Trending

KhazanahResensi BukuPeran Pesantren dalam Memberangus Radikalisme-Ekstremisme
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Judul Buku: Jihad Keilmuan dan Kebangsaan Pesantren, Penulis: Dr. Jamal Ma’mur Asmani, M.A., Tebal Buku: 268 hlm, Penerbit: IRCiSoD, Tahun Terbit: 2022, ISBN: 978-623-6166-91-8, Peresensi: Bagis Syarof, S.H.

Harakatuna.com – Pesantren adalah sebuah sistem pendidikan unik yang dimiliki Indonesia. Siswa di pesantren lazimnya disebut sebagai santri. Para santri harus menginap di pesantren, alias mondok, untuk belajar berbagai ilmu yang diajarkan di pesantren.

Dalam sejarahnya, para santri juga mempunyai kontribusi besar dalam perebutan kekuasaan bangsa Indonesia dari tangan penjajah. Para santri terlibat di dalam berbagai pertempuran demi untuk memerdekakan Indonesia. Menurut Galun Eka Gemini dalam artikelnya, Jejak Perlawanan Ulama-Santri, para santri terlibat dalam beberapa perang melawan penjajah.

Pada tahun 1820-1880 di Indonesia telah terjadi empat kali perlawanan besar yang dimotori ulama-santri. Ada perlawanan santri di Sumatera Barat (1821-1828), Perang Jawa (1825-1830), Perlawanan di Barat Laut Jawa pada 1840 dan 1880, serta Perang Aceh pada 1873-1903. Sementara di Jawa Barat, ada Perang Kedongdong (1808-1819).

Yang paling fenomenal adalah perang revolusi kemerdekaan yang terjadi pada tanggal 10 November 1945. Perang tersebut melibatkan ribuan santri di dalam medan pertempuran, yang mengakibatkan tentara Inggris mengalami kekalahan, dan bangsa Indonesia menang di dalam pertempuran tersebut.

Saat ini, ada beberapa pihak yang ingin mengambil kendali terhadap bangsa Indonesia yang berasaskan Pancasila, yakni radikalisme dan ekstremisme. Mereka tidak setuju dengan konsep negara Indonesia yang berlandaskan Pancasila, mereka ingin negara Indonesia harus berlandaskan syariat Islam.

Para radikalis dan ekstremis sudah melakukan berbagai upaya untuk mengubah asas negara Pancasila menjadi khilafah. Tentu saja itu harus dilawan karena akan merongrong NKRI.

Ada dua hal yang menyebabkan radikalisme, ekstremisme dan lain-lain, mudah berkembang di Indonesia. Pertama, Indonesia sangat menghargai kebebasan berserikat dan kebebasan berpendapat. Kedua, banyak masyarakat Indonesia yang berpemahaman sedikit tentang agama, tapi ingin berkontribusi banyak terhadap agama. Dua hal tersebut memudahkan paham radikalis dan ekstremis berkembang di kalangan masyarakat Indonesia.

Jihad Menjaga Indonesia

Bung Karno pernah berkata bahwa “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Artinya hidup di dalam negara merdeka, akan selalu ada potensi oknum yang tidak bertanggung jawab yang ingin merongrong keutuhan bangsa Indonesia.

BACA JUGA  Dinamika Zaman dan Sisi Lain Gerakan Radikal

Pesantren dalam buku karya Jamal Ma’mur ini mempunyai dua tugas untuk menjaga Indonesia dari paham-paham yang dapat merongrong keutuhan bangsa, dan negara. Adalah jihad dari segi keilmuan, dan segi kebangsaan.

Jihad dalam segi keilmuan adalah harus mendidik dan mencerdaskan seluruh generasi muda dan masyarakat secara umum tentang berbagai ilmu pengetahuan. Masyarakat tidak harus mondok di pesantren untuk belajar tentang ilmu yang diajarkan di pesantren. Akan tetapi ustaz atau santri di pesantren harus terjung ke masyarakat langsung untuk mengajarkan ilmu yang sudah didapatkan di pesantren kepada masyarakat luas, baik ilmu agama atau ilmu lainnya.

Jihad dalam segi kebangsaan adalah mendidik santri pesantren agar tidak mudah tergoyahkan kecintaannya kepada tanah air. Sehingga para santri yang sudah keluar dari pesantren, meskipun harus berhadapan langsung dengan oknum yang ingin merongrong persatuan bangsa dan negara, tidak akan pernah goyah rasa cintanya kepada Indonesia yang berasaskan Pancasila.

Dalam buku tersebut dibahas tentang gagasan Islam wasatiah. Islam mengajarkan pentingnya menganut moderasi, keadilan, kemaslahatan, dan keadilan dalam beragama. Paham tersebut bisa dijadikan tameng untuk memberangus keberadaan ekstremis dan radikalis.

Paham tersebut bertentangan dengan ekstremisme, radikalisme, dan terorisme. Ciri khas dari paham radikal dan ekstrem adalah tidak menerima pemahaman kelompok lain. Artinya seluruh ajaran di luar kelompok tersebut adalah salah. Dalam Islam wasatiah diajarkan tentang kemaslahatan. Artinya kelompok lain dapat kita terima pendapatnya demi kemaslahatan di dalam beragama dan bernegara.

Buku ini adalah karya yang penting untuk dibaca berbagai kalangan, untuk memperluas gagasan tentang Islam, dan kebangsaaan. Penyajian di dalam buku ini sangat ringan sehingga mudah untuk dipahami masyarakat secara umum. Harapan saya, semoga buku ini banyak menyadarkan masyarakat Indonesia, tentang pentingnya menjaga bersama keutuhan bangsa dan negara.

Bagis Syarof, S.H
Bagis Syarof, S.H
Alumni Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru