28.3 C
Jakarta

Mengawali Tahun Baru dengan Nilai-nilai Moderasi dan Spirit Kebangsaan

Artikel Trending

Baru saja kita merayakan tahun baru 2021. Kendati kita merayakannya di rumah. Karena, merayakan di tempat umum belum mendapat izin dari pemerintah. Tapi, tidak masalah. Yang terpenting pesan perayaannya tetap sama. Tahun baru adalah spirit kebangsaan baru seluruh elemen masyarakat kita.

Memasuki tahun baru, hendaknya kita menghadirkan cara pandang yang baru tetang masa depan. Sesuatu yang penting diperhatikan adalah masa depan Islam dan kebangsaan. Islam memang sudah mencapai puncak kemenangan pada masa Nabi. Tapi, ke depan kemenangan Islam mulai dipertanyakan semenjak agama semitik ini dijadikan jembatan sebagian kelompok untuk kepentingan pribadi.

Kelompok yang berlindung di bawah instrumen Islam tak lain dan tak bukan adalah kelompok radikal. Siapa sebenarnya kelompok radikal? Mereka adalah kelompok yang memahami pesan-pesan Islam secara tertutup. Islam hanyalah apa yang mereka tahu dan terima, sehingga mereka tidak terbuka terhadap pandangan orang lain yang berbeda. Mereka memandang, perbedaan adalah petaka.

Kelompok radikal tentu pikirannya tekstualis. Padahal, nilai-nilai Islam tidak dapat dibatasi dengan teks yang serba terbatas. Kelompok radikal mulai tampak ke permukaan pada masa kepemerintahan Sayyidina Ali Ibu Abi Thalib. Kelompok radikal yang saya maksud adalah Khawarij. Kelompok ini menyesatkan, bahkan mengkafirkan Ali beserta pengikutnya, karena tidak menggunakan hukum Allah.

Mungkin kita pikir, paham radikal hanya tumbuh pada masa sahabat. Sayang, semua itu hanyalah sebatas mimpi. Paham radikal ternyata semakin berkembang dari zaman ke zaman. Sampai sekarang pun paham radikal masih tampak di depan mata. Paham radikal di Indonesia dikampanyekan oleh HTI dan FPI yang telah dibubarkan oleh pemerintah. Kedua kelompok ini berafiliasi dengan organisasi radikal internasional ISIS.

BACA JUGA  Pesantren Salaf Tersandera Paham Radikal?

Sampai di sini kita perlu memerangi paham ini. Paling tidak mulailah dari diri sendiri. Cara memerangi paham radikal adalah menghadirkan nilai-nilai Islam yang moderat, terbuka terhadap perbedaan dan menguatkan spirit kebangsaan. Keterbukaan ini akan dapat mengantarkan kita menjadi pribadi yang tidak gemar mengkafirkan orang lain, karena mereka berbeda dengan kita.

Perbedaan dalam Islam itu bukan petaka, tapi rahmat. Kita lahir karena perbedaan ayah dan ibu. Cinta menjadi indah karena tumbuh di antara perbedaan laki-laki dan perempuan. Bahkan, Indonesia sejahtera karena mampu berdiri di tengah perbedaan, mulai perbedaan bahasa sampai perbedaan agama.

BACA JUGA  Hoax di Sekitar FPI dan Muhammad Rizieq Shihab

Setelah kita berhasil menghadirkan nilai-nilai Islam yang moderat dengan spirit kebangsaan, kita baru membangkitkan spirit kebangsaan (nasionalisme). Penting menekankan sikap kebangsaan karena kita lahir dan berkembang di sebuah tanah air. Spirit kebangsaan ini harus diiringi dengan cinta dan kasih. Karena, tanpa cinta spirit kebangsaan kita hanyalah omong kosong. Jadilah bangsa yang sejati seperti Nabi Muhammad dan Nabi Ibrahim yang keduanya sama-sama mencintai tanah airnya Mekkah. Mereka tetap mendoakan Mekkah, kendati penduduk di sana mulanya mengusir mereka.

Hanyalah orang yang radikal pikirannya yang tidak memiliki spirit kebangsaan. Mereka telah melupakan jasa tanah air yang menjadi saksi mereka dilahirkan. Sungguh mereka tidak tahu berterima kasih. Kebenaran itu akan abadi, sementara kebatilan itu akan musnah. Paham radikal akan musnah beriring waktu persis seperti musnahnya FPI yang baru-baru ini dibubarkan oleh pemerintah. Semoga orang FPI sadar, bahwa mereka tersesat dalam kebatilan.[] Shallallah ala Muhammad.

Khalilullah
Khalilullah
Lulusan Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru