27.8 C
Jakarta

Mengapa Laki-laki Lebih Mudah Intimidasi Kaum Perempuan?

Artikel Trending

Islam dan Timur TengahIslam dan KebangsaanMengapa Laki-laki Lebih Mudah Intimidasi Kaum Perempuan?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Minggu kemarin saya menghadiri diskusi rutin mingguan di kantor. Tema diskusi seputar Hak Asasi Manusia (HAM). Mulanya saya bertanya-tanya, menariknya di mana tema ini? Seberapa pentingkah HAM dibahas? Lebih penting mana hak atau kewajiban? Dan masih banyak pertanyaan lain yang terbersit di benak.

Secara naluriah semua manusia punya hak dan kewajiban sejak lahir. Itu poin dasarnya yang mesti harus dipahami. Hak ini kepemilikan seseorang dan orang lain harus tahu. Semisal hak seorang perempuan harus diperlakukan adil oleh laki-laki dan sebaliknya. Jadi, kewajiban seseorang harus menegakkan keadilan tanpa terkecuali.

Masalahnya, sering kali penegakan hak itu diabaikan. Banyak korban yang tak terhubung jumlahnya. Hak-haknya dirampas, sehingga intimidasi datang silih berganti. Masih ingatkah bagaimana budaya patriarki pada masa sebelum Islam datang?

Perempuan tidak mendapatkan tempat yang layak sebagai haknya. Perempuan dipandang sebelah mata, bahkan tidak terlihat sama sekali kehadirannya.

Lalu, intimidasi budaya patriarki mulai dilawan ketika Islam datang. Buktinya, Islam membela sosok perempuan pertama Siti Hawa bukan sebagai biang kesalahan diturunkannya Adam dari surga. Islam juga menegaskan bahwa relasi antar suami dan istri bukanlah relasi superior-inferior, tapi relasi ”kesalingan”. Masing-masing harus saling melengkapi.

Bahkan, pada kesempatan yang lain Islam menegaskan bahwa suami harus memperlakukan istrinya dengan sikap yang baik dan santun. Karena, pasangan itu bagaikan pakaian yang menutup aib pasangannya dan menghangatkan di kala kedinginan. Ini merupakan bagian dari misi Islam dalam mencegah budaya patriarki dan menghadirkan nilai-nilai keadilan dalam relasi laki-laki dan perempuan.

BACA JUGA  Serial Pengakuan Eks Napiter (C-LI-XXII): Perjuangan Eks Napiter Emha untuk Kembali ke tengah-tengah Masyarakat

Mirisnya, masih banyak ditemukan budaya patriarki di tengah masyarakat. Hak perempuan untuk belajar dibatasi. Hak perempuan untuk menentukan pilihan pasangannya dirampas. Hak perempuan untuk berkarir di tengah publik diisolasi. Dan seterusnya. Intinya ruang gerak dan kebebasan berpendapat bagi perempuan tidak seluas laki-laki.

Biasanya budaya patriarki di zaman sekarang masih mengakar di beberapa tempat yang belum diberi pemahaman tentang relasi gender. Relasi gender dapat membantu seseorang bahwa hidup itu bukan berkompetisi, tapi berkolaborasi. Semua, laki-laki dan perempuan, sangat dibutuhkan kehadirannya. Mereka punya potensi yang sama. Masih ingatkah Ratu Bilqis yang kisahnya termuat dalam Al-Qur’an? Sudah baca kisah Siti Aisyah yang tampil dalam ranah publik sebagai pimpinan perang?

Beberapa fakta tentang kehebatan perempuan menjadi anti-tesis atas budaya patriarki yang telah merampas hak-hak perempuan. Semua manusia sama di sisi Tuhan. Hanya yang membedakan kualitas ketakwaannya. Orang yang paling baik adalah mereka yang bertakwa. Lalu, siapakah yang paling bertakwa, laki-laki atau perempuan?[] Shalallahu ala Muhammad.

Dr. (c) Khalilullah, S.Ag., M.Ag.
Dr. (c) Khalilullah, S.Ag., M.Ag.
Penulis kadang menjadi pengarang buku-buku keislaman, kadang menjadi pembicara di beberapa seminar nasional

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru