32 C
Jakarta

Membangun Jakarta ala Anies Baswedan

Artikel Trending

Islam dan Timur TengahIslam dan KebangsaanMembangun Jakarta ala Anies Baswedan
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Semenjak Anies menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, dia seringkali mendapat tudingan ”pemimpin yang gagal”. Klaim semacam ini dialamatkan oleh para pembencinya atau lawan politiknya. Bagi mereka, Anies gagal dalam mengatasi banjir, disebut-sebut sebagai si politik identitas, si janji manis ”doang”, dan masih banyak yang lainnya.

Tuduhan sumir yang diterima oleh Anies tidak membuatnya berhati kecil. Anies tetap bangkit dan bangkit untuk membuktikan kepada para pembencinya bahwa apa yang dituduhkan mereka tidaklah benar. Karena, bagi Anies, satu-satunya cara untuk mengonter fitnah adalah berkarya. Dan, Anies membuktikan bahwa Jakarta di tangannya akan jauh lebih eksotis, menarik, dan membanggakan. Let’s see!

Beberapa hari yang lalu saya membaca buku soal karya Anies selama memimpin DKI Jakarta sekitar lima tahun. Judul bukunya, Negara Kesejahteraan ala Anies Baswedan yang ditulis oleh empat orang dan penulis utamanya adalah Prof. Sukron Kamil, guru besar UIN Jakarta dan pernah menempuh studi S1 sampai S3 dalam jurusan Sastra Arab Banding dan Politik Islam Modern. Mulanya, saya kira buku ini hanyalah berisi pujian tak berdasar terhadap Anies. Ternyata, buku dengan judul cukup sederhana memuat uraian yang cukup ilmiah, sehingga membacanya seakan membaca hasil riset tesis bahkan disertasi.

Saya cukup terkejut baru kali ini ada buku yang memuat uraian tentang biografi politikus yang ditulis dengan cukup ilmiah dan penuh dengan data yang objektif. Memang, seperti pengakuan penulis pada mukadimahnya, bahwa buku ini dihadirkan dengan argumentasi yang logis dan ilmiah guna membantah fitnah dan hoaks yang dialamatkan kepada sosok Anies Baswedan. Maka, satu-satunya cara mengonter fitnah adalah data. Karena, data jauh lebih kuat kebenarannya dibandingkan fitnah itu sendiri.

Fakta pertama tentang Anies adalah konter mengenai banjir di DKI Jakarta yang dari masa gubernur sebelumnya sampai Anies memimpin masih tetap terjadi. Kebijakan bagaimana pun yang dilakukan gubernur, Jakarta tetap banjir, apalagi hujannya deras. Karena, secara geografis Jakarta terletak di dataran rendah, sehingga sangat mudah air mengalir, apalagi di ibu kota ini banyak bangunan pencakar langit yang tidak ramah lingkungan.

Lalu, apa keberhasilan Anies dalam mengatasi banjir? Pada masa Anies memimpin tahun 2018 genangan banjir surut selama 72 jam, lalu pada tahun 2019 turun lagi waktu surutnya menjadi 48 jam, dan tahun 2020/2021 menjadi 24 jam saja. Percepatan surut banjir pada masa Anies ini adalah prestasi yang butuh diapresiasi. Karena, itu langkah menuju Jakarta lebih baik ke depan. Anies tidak bisa mengatasi banjir di Jakarta dengan tuntas, karena letak geografis Jakarta yang tidak memungkinkan. Persisnya, itu bagaikan usaha menyatukan air dan minyak. Selaras apa pun usahanya tetap mustahil.

Yang paling tandas daripada banjir adalah tuduhan Anies sebagai si politik identitas. Tuduhan ini memang benar. Tapi, tidak selamanya tepat. Karena, politik identitas Islam sudah berlangsung sejak Orde Lama, Order Baru, bahkan era Reformasi serta pasca-Reformasi sekarang. Buktinya, pada era Orde Baru pemerintah tidak melarang Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sebagai partai Islam yang menggunakan simbol Islam, Ka’bah.

BACA JUGA  Tafsir Lingkungan di Tengah Kebijakan Penguasa

Lalu, dukungan partai politik pada saat kampanye Anies di Pilkada DKI Jakarta, selain Partai Keadilan Sejahtera (PKS), banyak partai nasionalis, di antaranya, Gerindra, Partai Amanat Nasional (PAN), dan Perindo. Meski diakui atau tidak Anies mendapatkan dukungan dari organisasi keagamaan yang dipimpin Habib Rizieq Shihab (HRS), yaitu Front Pembela Islam (FPI).

Pada buku itu Prof. Sukron Kamil sepakat bahwa FPI adalah organisasi garis keras, tapi Anies tidak membawa model dakwah FPI ketika terpilih dan memimpin DKI Jakarta. Anies membuktikan bahwa dia mampu membangun persatuan di tengah keberagaman agama. Buktinya, Anies satu-satunya gubernur yang memberikan legalitas pembangunan tempat ibadah agama Kristen yang pada pemerintahan gubernur sebelumnya cukup dipersulit dan kurang mendapat perhatian.

Maka, kata Prof. Sukron Kamil, menggunakan politik identitas merupakan sesuatu yang wajar-wajar saja dan tentunya dapat dibenarkan selagi politik identitas itu didasarkan pada nilai-nilai multikulturalisme. Di mana multikulturalisme merupakan paham yang melihat kebenaran bukan berpijak pada kelompok tertentu saja, tetapi dapat ditemukan pada kelompok-kelompok yang lain. Dengan sikap Anies yang terbuka terhadap semua agama membuktikan bahwa Anies bukanlah si politik identitas yang eksklusif, tetapi cukup inklusif.

Lebih dari itu, Jakarta di tangan Anies jauh lebih eksotis, menggugah, dan elegan. Mari lihat, Jakarta sekarang kelihatan seperti kota di Eropa dan Amerika, terlebih di sekitar Sarinah. Di sana dibangun jalan bukan hanya untuk transportasi, tetapi juga untuk sepeda, pejalan kaki, dan disabilitas. Ini membuktikan bahwa kebijakan Anies berupaya mengatasi kemacetan di Jakarta. Karena, semenjak Anies memimpin warga jauh lebih tertarik naik transportasi umum dibanding kendaraan pribadi.

Anies mengajak warga naik transportasi umum bukan hanya dengan janji manis saja, tetapi dengan usaha kerja nyata. Bisa dilihat, bagaimana Anies membangun jembatan yang menghubungkan halte busway dengan stasiun MRT, KRL, dan LRT. Sehingga, warga Ciputat yang punya hajat ke Jakarta Pusat cukup memarkirkan kendaraannya di Lebak Bulus dan bisa langsung berpindah ke MRT atau busway. Langkah-langkah semacam ini jauh efektif dan warga lebih tertarik naik transportasi umum.

Sebagai penutup, tuduhan yang dialamatkan kepada Anies Baswedan tidak dapat dibenarkan, sehingga jatuhnya fitnah semata. Karena, tuduhan itu tidak memiliki bukti/data yang akurat. Buku Prof. Sukron Kamil adalah satu-satunya buku yang mampu menyangkal tuduhan tidak berdasar itu dan membuktikan bahwa Anies mampu membangun Jakarta sesuai dengan slogannya ”Maju Kotanya, Bahagia Warganya”. Dan, kalau Anies ditakdirkan sebagai Presiden nanti, maka slogan itu akan berubah menjadi ”Maju Negaranya, Bahagia Warganya”.[] Shallallahu ala Muhammad.

Dr. (c) Khalilullah, S.Ag., M.Ag.
Dr. (c) Khalilullah, S.Ag., M.Ag.
Penulis kadang menjadi pengarang buku-buku keislaman, kadang menjadi pembicara di beberapa seminar nasional

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru