25.7 C
Jakarta

Masjid Sebagai Penangkal Terorisme, Penguat Moderatisme

Artikel Trending

Milenial IslamMasjid Sebagai Penangkal Terorisme, Penguat Moderatisme
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Banyak masjid-masjid di Indonesia masih dijadikan sebagai tempat doktrin hijrah dan jihad ala ISIS dan Al-Qaeda. Di masjid-masjid seperti ini, biasanya keadaannya tertutup atau tidak bisa sembarang orang masuk, pun untuk sekadar beribadah.

Bukti Jadi Rumah Teroris

Maka bisa dipastikan, masjid-masjid ini malah dijadikan sebagai tempat khusus untuk menyuburkan ajaran terorisme, sekaligus menyembunyikan terorisme itu sendiri agar tidak tercium aparat negara. Sudah banyak contohnya di mana masjid ini menjadi temeng daripada kegiatan ideologisasi terorisme.

Di Jawa Barat, tepatnya di masjid kampus ITB dulunya subur dalam mengajarkan ajaran radikalisme. Juga di masjid-masjid kampus seperti kampus IPB tercium juga telah dijadikan sebagai tempat dalam penyebaran semaian ideologi Hizbut Tahrir Indonesia. Begitu juga di masjid kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, telah dijadikan sebagai tempat pembaiatan mereka yang bergabung dengan ISIS.

Itu baru masjid-masjid yang tercium dan tampak kabarnya. Bagaimana dengan masjid-masjid di pelosok yang tak bisa semua orang masuk dan tahu keberadaanya, misalnya di perbukitan di Bogor, Aceh, Ploso, dan Papua sana?

Tentunya ini menjadi hal yang mengkhawatirkan jika kita tidak menjadi tangan panjang untuk memberikan pengayaan bagi masyarakat yang buta akan taktik dan strategi yang dilakukan teroris. Kabarnya, tahun lalu, malah masjid-masjid BUMN, yang dijadikan sarang dalam sebaran radikalisme. Miris!

Perlu Dilihat dari Banyak Sisi

Oleh sebab itu, sudah saatnya, melihat masjid tidak dilihat hanya sekadar tempat ibadah saja. Melainkan masjid harus dilihat dari sisi yang lain. Masjid bisa dijadikan sebagai tempat belajar. Masjid juga bisa dijadikan sebagai tempat istirahat, dan pemakmur masyarakat secara umum.

Namun yang terjadi, seringkali masjid hanya difungsikan sebagai hal yang nofmatif saja, sehingga keberadaan masjid menjadi gersang, kosong, dan jauh dari hadirnya masyarakat. Apalagi hanya dijadikan sebagai tempat indoktrinasi paham radikalisme atau pencari suaka.

Maka itu, dewan masjid Indonesia perlu melirik kembali fungsi dan kondisi masjid yang ada di Indonesia. Jauhkah masjid-masjid di Indonesia dari orang-orang radikal. Jauhkah masjid-masjid di Indonesia dalam pengelolaan paham-paham radikal? Jika jawabannya tidak tahu, maka inilah tantangan kita dan umat Islam secara keseluruhan di dalam bentangan aktivitas beragama.

BACA JUGA  Kasus ACT: Mungkinkah Dana Umat Itu Dikembalikan?

Semangat memakmurkan masjid harus beriringan dengan semangat dalam manajemen untuk memberikan pamahaman keagamaan yang moderat bagi masyarakat. Semangat dalam berdakwah di dalam masjid, wajib menyatukan ukhwah masyarakat. Ini perlu adanya, implementasi dari kegiatan yang di dalamnya berisi tentang nilai-nilai keagamaan yang mengarah pada wujud Islam yang ramah, santun, dan rahmatan lil alamin.

Nuansa progressifitas masjid tak harus tidak boleh diukur/dilihat bagaimana program masjid yang terlihat banyak, bikin capek, atau sekadar mengundang ceramah dari Timur Tengah. Di mana masyarakatnya tidak paham apa yang diucapkan penceramah, karena selain tidak bisa mengerti bahasanya, penceramah tersebut juga tidak tahu kultur dan tradisi masyarakat Indonesia. Yang harus ditekankan adalah pada program masjid, bisakah masjid memberi program keagamaan yang bisa menyatukan semua umat. Itu!

Fungsi Masjid Ala Rasulullah

Jangan salah, Rasulullah mendirikan masjid tidak hanya diklaim milik orang Islam. Tapi orang selain Islam pun diperbolehkan Rasul untuk beribadah. Artinya, masjid pada masa Rasulullah benar-benar difungsikan untuk menjembati orang-orang yang tersisihkan, yang hatinya penuh kesesakan masalah-masalah dunia yang tak selesai.

Dari kebijakan ini, masjid terlihat tampak hadirnya, bukan dengan tampilan yang mentereng tinggi membumbung langit, yang diresmikan oleh pejabat tinggi dengan menggunting pita putih. Tapi program masjid harus membumi dan bermanfaat bagi semua manusia. Inilah fungsi masjid di era Rasulullah.

Fungsi masjid ala Rasul, adalah dijadikan sebagai basis menanamkan keharmonisan sosial. Semangat ukhwahnya, adalah semangat menghormati semua umat yang ada. Itu semua sudah nyata adanya di dalam Al-Qur’an. Cirinya adalah program yang jauh dari radikalisme, ekstremisme, apalagi terorisme.

Oleh sebab itu, kiranya masjid harus menjadi tempat nomor satu penghapus kedengkian sosial, dan ajaran-ajaran radikalisme terorisme yang terus-terusan disuburkan oleh ajaran keagamaan. Posisi masjid wajib sebagai sarana penghapus terorisme, dan berlomba mewujudkan berbagai kebaikan.

Agus Wedi
Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru