27.8 C
Jakarta

Melacak Buku Radikal, Ikhtiar Mencegah Bibit Terorisme

Artikel Trending

KhazanahPerspektifMelacak Buku Radikal, Ikhtiar Mencegah Bibit Terorisme
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Sebelum membahas tentang buku radikal, penting untuk diketahui bahwa dalam konteks Indonesia, tamsil keberagaman sudah tidak bisa dielakkan lagi. Di satu sisi dengan karakteristik plural; bahasa, budaya, suku bahkan agama, menjadikan Indonesia sebagai negara yang mempunyai ciri dan gaya tersendiri dibandingkan negara lain.

Namun sisi yang lain, dengan keberagaman yang ada, tidak menutup kemungkinan akan menjadi faktor utama pecahnya suatu negara. Tentunya, ini akan terjadi jika dalam kultur dan dinamika kehidupan warga negara, tidak ada rasa kasih sayang dan toleransi. Oleh karena itu, penting dalam menumbuhkan kedua sikap ini semata untuk tujuan mempertahankan, merawat, dan menjaga stabilitas negara.

Menumbuhkan semangat moderasi beragama sudah lama menjadi proyek utama Menteri Agama Indonesia. Moderasi beragama diyakini sebagai solusi terbaik dalam mengantisipasi beragam potensi konflik di tengah dinamika kehidupan bernegara. Hampir di setiap kesempatan, Menteri Agama Indonesia sekarang, Yaqut Cholil Qoumas, menyampaikan akan pentingnya moderasi beragama.

Namun ironisnya, hampir di setiap tahunnya telah tercatat berbagai macam kasus tindak kekerasan atas nama agama. Tidak lepas dari praktik itu, ditemukan hal unik yang luput dari perhatian, perihal bagaimana para teroris melancarkan aksinya. Dalam drama penangkapan teroris di Ciputat 2014 lalu, pihak aparat mengamankan sekitar 50 buku yang diduga menjadi sumber inspirasi pelaku. Di tahun sebelumnya, tepatnya di pertengahan Mei 2013 juga terjadi penggerebekan di Solo Jawa Tengah. Saat itu, polisi juga menemukan sejumlah buku dan membakarnya.

Dalam penangkapan seorang PNS teroris di Tangerang Banten beberapa bulan lalu (Jawa Pos 15/03/22), Densus 88 Anti Teror Polri kembali mengamankan 4 buku bacaan, buku tabungan, handphone dan kartu ATM. Lagi-lagi, buku menjadi barang bukti dalam penangkapan itu. Sampai di sini, kita bisa sedikit berkesimpulan bahwa eksistensi buku, tidak bisa dipisahkan dari ruang gerak terorisme di Indonesia.

Dari sejumlah buku yang dijadikan barang bukti dari setiap penangkapan, berdasarkan hasil penelusuran rata-rata bertemakan tentang bagaimana jihad dilakukan. Dari situ, para pengamat yakin bahwa buku adalah salah satu alat vital dalam membangun ideologi makar, yang kemudian mengalir dari satu kepala ke kepala lainnya.

Sampai di sini kita dihantui pertanyaan; apakah hanya karena buku, seseorang nekat akan melakukan aksi teror? Lantas, seberapa besar dampak buku dalam memotivasi pelaku? Kemudian, bagaimana kita meresponsnya?

Abu Ezza dalam bukunya Pengantin Teroris: Memoar Jihad NA (2010), mengatakan bahwa rata-rata para pelaku seringkali termotivasi dari doktrin-doktrin agama yang bernuansa radikal. Dari doktrin-doktrin religi inilah kemudian membentuk ideologi keras yang bersifat kaku, yang pada akhirnya malah menjadi stimulus dan landasan teologis untuk melakukan aksi teror.

BACA JUGA  Kontra-Intoleransi; Menyemarakkan Moderatisme Islam di Tengah Maraknya Budaya K-Pop

Hal ini tentu kembali mengorek kesadaran kolektif kita, bahwa terorisme masih menjadi pekerjaan rumah untuk kita secara umum, dan untuk pemerintah secara khusus. Lebih-lebih, penyakit kronis bernama “terorisme” ini tidak hanya menjangkiti masyarakat biasa, tetapi sudah masuk dalam lapisan pemerintahan. Seperti kasus di atas, yang tercatat sebagai PNS di Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tangerang.

Sampai di sini kita menemukan sedikit konklusi, bahwa dua dekade pasca-reformasi, problem atas nama terorisme masih marak. Persebaran ideologi teroris masih berjalan di sendi-sendi kehidupan kita, baik dari wilayah yang satu ke wilayah yang lain, dari satu pintu ke pintu yang lain, tentu dengan model yang terbaru.

Ketika dulu proses indoktrinasi dilakukan secara bertemu langsung, untuk sekarang indoktrinasi dan pemantapan ideologi dilakukan lewat narasi di dalam buku. Terbukti, dalam setiap drama penangkapan, aparat selalu mengamankan sejumlah buku yang erat kaitannya dengan ideologi para pelaku.

Apa boleh buat, buku dengan genre bagaimana pun adalah jejak dari intelektualisme. Secara tidak langsung, melawan terorisme sejatinya juga melawan buku. Para teroris bukanlah orang bodoh, mereka adalah kaum berpendidikan. Buku demi buku yang dibacanya bisa mereka jadikan dalil dan dipertanggungjawabkan.

Prof Sarlito dalam bukunya Terorisme di Indonesia Tinjauan Psikologi (2012) menguraikan bahwa tidak satu pun teroris bodoh dan tidak paham agama. Setidaknya ini terlihat dalam keseharian kasus PNS di atas. Kesaksian tetangga dan teman kerjanya mengenalnya sebagai sosok yang bertanggung jawab menjalankan tugas sebagai abdi negara, juga sosok yang santun dan rajin ibadah. Tidak sedikit pun ada tanda-tanda yang menunjukkan TB seorang teroris.

Membangun kewaspadaan tetap jauh lebih penting. Karenanya, kita harus berhati-hati dalam memilih buku untuk dijadikan bahan bacaan. Mengingat, proses indoktrinasi dan pembangunan ideologi makar ala terorisme dilakukan dengan menerbitkan buku beraliran radikal. Mereka tahu, satu peluru hanya bisa menembus satu kepala, tetapi satu buku mampu menembus beribu-ribu kepala.

Tidak menutup kemungkinan, tanpa disadari, kita terbawa oleh kedahsyatan kata-kata yang memuat paham terorisme. Dan tentunya, ini harus menjadi perhatian khusus dari pemerintah, entah nantinya mengontrol dalam setiap penerbitan buku, atau mungkin mengeluarkan kebijakan tentang larangan penerbitan buku yang bernuansa radikal. Semoga, Wallahu A’lam.

M. Faidh Fasyani
M. Faidh Fasyani
Santri PP Al-Anwar Sarang Rembang/Mahasiswa Ilmu Alquran dan Tafsir STAI Al-Anwar Sarang Rembang. Beberapa tulisannya telah termuat di beberapa media cetak dan online.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru