24.6 C
Jakarta

Mahasiswa Baru, Terget Teroris, dan Urgensi Bantengi Kampus dari Terorisme

Artikel Trending

Milenial IslamMahasiswa Baru, Terget Teroris, dan Urgensi Bantengi Kampus dari Terorisme
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Di seluruh kampus Indonesia, satu minggu ini, ramai dengan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Kampus. Mahasiswa-mahasiswi baru dengan senang mengikuti aktivitas kampus yang melelahkan. Mereka mengikuti seluruh rangkaian pengenelan kampus. Mereka mengikuti suruhan senior-senior yang dianggap baik, meyakinkan dan bermartabat, serta religius.

Mahasiswa baru ini biasanya ingin banyak tahu tentang dunia kampus. Mereka cukup senang jika didekati, apalagi sering disebut-sebut namanya oleh seniornya di depan teman-temannya. Mereka bertanya tentang apa saja yang ada di dalam kampus. Biasanya mereka bertanya, “organisasi apakah yang cocok untuk saya?”

Titik Masuk Doktrin Teroris

Pertanyaan ini yang bisa jadi mengantarkan mahasiswa masuk ke pelosok terdalam organisasi kampus yang sebenarnya ia tidak inginkan. Dari pertanyaan kecil ini, mahasiswa bisa didoktrin dan diperalat untuk meneruskan sebagai regenerasi organisasinya.

Kita tahu, target terpenting senior dan organisasi mahasiswa adalah mereka yang nol dalam pengetahuan organisasi kampus. Banyak di antara mahasiswa ingin berenang dan bermain di arena kampus. Baik dalam organisasi intra maupun organisasi ekstra. Ini yang memantik semangat mereka untuk banyak tahu dalam semua hal mengenai kampus. Apakah ini salah? Tidak, justru itu baik.

Tapi satu hal yang sering terlewat. Mahasiswa seringkali tidak melihat kepala, buntut, dan kaki, daripada organisasi yang mereka pilih dan ikuti. Mahasiswa sering tidak melihat apa tujuan, ajaran, dan doksa daripada organisasi yang dipilih. Hingga akhirnya, secara tidak sadar, apa yang mereka lakukan, dari semua hal itu, adalah kebalikan dari keinginan sebelumnya. Mulai dari pekerjaan tidak penting, ajaran nihilism, nihil hasil, dan doktrin-doktrin basah dari seniornya. Apalagi mereka menjalankan karena hasil doktrin yang kemudian mengubah pikiran mahasiswa menjadi fanatik pada ajaran dan organisasinya.

Menjadi Mahasiswa Bebek

Ini yang membelokkan mahasiwa pada tujuan awalnya. Awalnya, mahasiswa ini berkeinginan punya pengetahuan seribu juta buku. Intelektual organik yang menjadi penyambung lidah intelektual menara gading di dalam kampus. Menjadi mahasiswa pembebek pada ucapan-ucapan dan motivasi-motivasi absurd seniornya. Ucapan-ucapan dramatis dan bangga-banggaan yang jauh dari semesta kenyataan di lapangan. Mahasiswa ini seringkali hanya menjadi pemuas nafsu dari ocehan rangkaian kata bahasa-bahasa normatif seniornya. Tapi ia menikmatinya. Tapi sampai di sini tidaklah membahayakan bagi kejiwaan mahasiswa.

Yang menjadi bahaya, adalah ketika mahasiswa ikut sebuah organisasi keagamaan ekstrem yang masih eksis di dalam dan di luar kampus. Kita tahu, masa mahasiswa baru, lagi senang-senangnya dengan dunia keagamaan. Mahasiswa baru, mereka lagi semangat-semangatnya mencari jati diri dari perihal keagamaan. Sesuatu yang niscaya bagi mahasiswa baru. Ini yang bisa dimanfaatkan oleh oknum untuk doktrin keagamaan yang membawa mereka kepada ajaran yang keras, yang mengarah pada terorisme.

Apakah semua dari atas tidaklah terbukti? Banyak buktinya. Mungkin orang-orang sekitar kita adalah salah satu korbannya. Baik korban kibulan senior, atau korban doktrin dari oknum teroris. Kita sering melihat mahasiswa dan mahasiswi pernah menggendong bom dan melakukan amaliah bunuh diri. Mahasiswa-mahasiswi ini sebelumnya pernah didoktrin di organisasi keagamaan kampus.

BACA JUGA  Dakwah Islamisme Fatih Karim yang Salah Kaprah

Mereka dikenalkan pada literatur-literatur keislaman ekstrem. Mahasiswa ini dikenalkan kepada tokoh-tokoh keislaman yang keras. Mahasiswa ini dikenalkan ajaran jihad dan hijrah ala ISIS dan Al-Qaeda. Jadinya, mahasiswa tahu Islam hanya pada sebatas jihad, hijrah, dan takbir. Bukan suatu ajaran keislaman yang kental dengan ajaran yang santun, toleran, dan moderat. Akhirnya, ia hanya menjadi korban amaliah daripada ajaran jihad yang mematikan ratusan orang.

Inilah yang barangkali harus kita lihat seutuhnya. Tidak semua organisasi selalu mengajarkan kepada ajaran keagamaan untuk kemaslahatan. Tidak selalu organisasi bertujuan dan membuat orang kepada kebaikan dan toleran. Tapi ada juga organisasi yang tujuannya memang membuat mahasiswa masuk ke jurang neraka dunia yang mematikan.

Bantengi Kampus dari Terorisme

Maka dari itu, kita dan pemangku kebijakan wajib melihat dan mencegahnya. Kampus sebagai semaiannya ilmu pengetahuan tidak boleh dikotori dengan doktrin-doktrin sesat mematikan. Pemangku kebijakan harus tahu dan paham bagaimana mencegah mereka mendoktrin dan merekrut anak menjadi radikal dan menjadi teroris.

Kampus dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), kiranya memiliki data dan memantau aktivitas kampus/mahasiswa yang mengarah pada terorisme di kampus-kampus seluruh Indonesia. Agar mahasiswa, organisasi dan kampus, bisa tercegah dari rayuan pihak-pihak di dalam lingkungan kampus untuk terlibat dalam organisasi ataupun aksi yang mengarah kepada terorisme.

Karena hingga tahun ini, terlalu banyak mahasiswa yang sudah menjadi korban doktrin teroris. Bahkan pada bulan Mei (23/5/2022), ada mahasiswa Universitas Brawijaya berinisial IA, menjadi simpatisan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Ia berencana melakukan tindakan teror penyerangan ke kantor polisi dengan senjata api.

IA diduga terlibat dalam kegiatan mengumpulkan dana untuk membantu kegiatan ISIS di Indonesia. IA juga disebut mengelola media sosial dalam rangka untuk menyebarkan materi-materi ISIS terkait tindak pidana terorisme. Mahasiswa ini juga terlibat komunikasi intensif dengan seseorang berinisial MR, yang merupakan tersangka teroris kelompok Jamaah Ansharud Daulah (JAD) yang telah ditangkap pada awal 2022, terkait rencana amaliyah (bom bunuh diri) di fasilitas umum dan kantor-kantor polisi. Mahasiswa ini telah menjadi simpatisan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang fanatik.

Artinya apa? Kampus dan negara harus secara aktif memantau dan tahu bagaimana aktivitas kampus dari dekat. Tidak ada gunanya semau program deradikalisasi dan seminar, jika mahasiswa masih banyak yang menjadi korba. Oleh sebab itu, di tengah maraknya mahasiswa baru masuk kampus, dan ingin tahu banyak hal tentang kampus, sungguh urgen kita membantengi kampus dari ajaran moderat, toleran, yang mencintai kemanusiaan dan kenegaraan. Sebelum semuanya terlambat!

Agus Wedi
Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru