34.1 C
Jakarta

Metamorfoshow: Propaganda Kebangkitan Khilafah HTI yang Wajib Diboikot

Artikel Trending

Milenial IslamMetamorfoshow: Propaganda Kebangkitan Khilafah HTI yang Wajib Diboikot
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Sebanyak 1.200 orang berbondong-bondong hadir ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, pada Sabtu (17/2) kemarin. Mereka semua hendak menghadiri talkshow di ruang Teater Tanah Airku, TMII, pukul 09.00-12.00 WIB. Acara tersebut diberi nama metamorfoshow dengan tajuk “It’s Time to be One Ummah (Inilah Saatnya Menjadi Satu Umat)”. Apa kaitan metamorfoshow dengan HTI?

Pertama-tama perlu dicatat, HTI adalah organisasi terlarang yang mempunyai agenda transnasionalisme. Sejak dekade lalu, mereka menebarkan propaganda penegakan khilafah di Indonesia. Mereka anti-demokrasi, dan secara umum menentang aspek sosial-politik-keagamaan di negara ini dengan label kapitalisme, sekularisme, dan liberalisme. Bagi HTI, khilafah adalah kewajiban yang harus ditegakkan.

Sekarang mari telaah hubungannya dengan acara di TMII kemarin. Kata “metamorfoshow” yang mereka gunakan sebenarnya merupakan singkatan dari metamorphosis show alias pertunjukan metamorfosis. Metamorfosis adalah proses perubahan bentuk atau struktur pada organisme hidup dari satu tahap ke tahap lainnya. Perubahan apa yang dimaksud? Jelas, perubahan dari “demokrasi” ke “khilafah”.

Merombak demokrasi jadi khilafah adalah propaganda utama HTI. Acara kemarin merupakan upaya cuci otak, membuat para hadirin membenci demokrasi, anti-NKRI, dan punya semangat penegakan khilafah—tentu saja khilafah ala HTI. Ironisnya, acara metamorfoshow akan digelar di seluruh Indonesia dalam beberapa waktu mendatang. Dari sini sudah cukup alasan bahwa metamorfoshow harus diboikot segera.

Mengkhilafahkan NKRI

Agenda HTI untuk menegakkan khilafah di negara ini, pada acara kemarin, dipromosikan oleh sejumlah tokoh. Mereka berasal dari beberapa kalangan, baik ustaz, pengkaji sejarah, hingga influencer dengan ratusan ribu pengikut.

Acara kemarin dihadiri langsung dan diisi oleh Ismail Yusanto (Jubir HTI), Aab El-Karimi (influencer HTI), Ihsan Akbar (influencer Gen Z HTI), Akhmad Adiasta (produser film HTI Jejak Khilafah di Nusantara), Nicko Pandawa (sutradara film Jejak Khilafah di Nusantara), Subhan Nur Sobach (stand up komedian), Doni Riwayanto (musisi dan pegiat hijrah), dan Alif Ridho (pendiri Komunitas Cinta Gaza).

Lantas apa isi acara metamorfoshow tersebut? Propaganda bahwa NKRI saat ini sangat bobrok, bahkan dunia ini bobrok, dan hanya khilafah ala HTI yang menjadi solusinya. Setelah acara tersebut selesai, ada 1.200 pemuda Indonesia punya spirit transnasionalisme: bahwa khilafah Islam harus diperjuangkan dan ditegakkan dengan segala cara di negeri ini. Bagaimana siasat mereka untuk agenda mengkhilafahkan NKRI tersebut?

Pertama, mereka tidak pakai label HTI. Acara kemarin sama sekali tidak menggunakan embel-embel ke-HTI-an. Tidak ada logo kalimat tauhid—bendera khas HTI. Juga sama sekali tidak menyebut nama “HTI”, namun puluhan kali menyerukan penegakan khilafah. Siasat ini tujuannya agar tidak ditindak dan dibubarkan, sebab HTI adalah organisasi terlarang. Mereka melepas baju HTI, namun ideologi yang disebarkan seratus persen masih transnasionalisme.

BACA JUGA  Paslon yang Didukung Abu Bakar Ba'asyir Membahayakan Indonesia?

Kedua, pergerakan mereka masif targetkan generasi muda. Rata-rata yang hadir kemarin adalah pemuda-pemudi, yang entah dimobilisasi melalui apa. Berdasarkan penyelidikan pada salah satu peserta, mereka digerakkan melalui grup WhatsApp, eksklusif—semacam komunitas kepemudaan. Hal tersebut mempertegas bahwa HTI menjadikan pemuda sebagai aset dan target propaganda khilafah mereka.

Ketiga, memanfaatkan momentum politik. Harus diakui bahwa iklim politik tanah air saat ini sedang tidak stabil—efek dari Pemilu 2024. HTI dengan propaganda kebangkitan khilafahnya, yang dikemas dengan acara metamorfoshow, mencoba memanfaatkan peluang tersebut. Alih-alih ingin memperbaiki iklim demokrasi, mereka malah ingin merombaknya. Narasi utama mereka jelas: “mari khilafahkan NKRI!”.

Boikot dan Bubarkan!

Apa yang digelar di TMII kemarin hanyalah permulaan belaka. Ke depan akan digelar banyak sekali matamorfoshow, di berbagai kota dan majelis, hingga menjadi tren kepemudaan. Bahkan, jika tidak ada hambatan, acaranya akan digelar terbuka dan tidak lagi sembunyi-sembunyi seperti di TMII. HTI tengah merancang sebuah program yang menjadikan generasi muda Indonesia membenci demokrasi dan Pancasila.

Ket.: Ismail Yusanto, Jubir HTI, sedang menyebarkan propaganda khilafah pada generasi muda di TMII (17/2).

Dengan melihat fakta-fakta tersebut, apakah mereka layak dibiarkan? Apakah metamorfoshow HTI tidak perlu disikapi apa pun, tidak perlu dibubarkan atau bahkan boikot? Semoga jawabannya “tidak”. Para otoritas terkait mesti segera bertindak untuk mencegah acara-acara seperti di TMII kemarin kembali digelar. Boikot dan pembubaran wajib dilakukan, jika metamorfoshow terulang lagi di mana pun.

Tentu yang jadi masalah bukan metamorfoshow-nya. Masalah paling berat dan tidak bisa ditoleransi adalah mobilisasi, indoktrinasi, dan penjejalan ideologi HTI di dalamnya. Para generasi muda didoktrin untuk membenci sistem politik dan corak keberagamaan di negara ini. Para generasi muda didorong untuk memberontak, hingga pada akhirnya propaganda-propaganda tersebut menjelma sebagai “gerakan revolusi”.

Tidak ada yang menginginkan itu terjadi. NKRI, Pancasila, dan demokrasi sudah final dan tidak lagi perlu diperdebatkan. HTI dan segala jurus mereka untuk mengelabui anak bangsa harus dicegat total, karena itu merupakan bentuk pemberontakan. Sekalipun mereka tidak makar secara tindakan, mereka sudah makar secara pemikiran. Dan dalam konteks itu, mereka bahkan tidak hanya mesti diboikot, tetapi juga dijebloskan ke penjara.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Analis, Penulis

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru