31.7 C
Jakarta

Kurban, Kemerdekaan, dan Ekspresi Keberagamaan

Artikel Trending

KhazanahResensi BukuKurban, Kemerdekaan, dan Ekspresi Keberagamaan
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF
Judul: Agama untuk Peradaban, Penulis: Komaruddin Hidayat, Penerbit: Pustaka Alvabet, Tahun: 2019, Tebal: 366 halaman, ISBN: 978-602-220-036-4, Peresensi: Al Mahfud.

Belum genap sebulan, umat Islam merayakan Hari Raya Idul Adha 1441 Hijriah. Idul Adha menyimpan berbagai makna tentang keimanan, ketakwaan, hingga spirit berbagi pada sesama. Menurut Komaruddin Hidayat dalam bukunya, Agama untuk Peradaban, melaksanakan kurban sejatinya semata-mata karena Allah dan untuk Allah, namun wujud material dagingnya disampaikan dan dinikmati fakir miskin.

Di sinilah, ada makna bahwa dalam Islam, pengabdian atau penghambaan kepada Allah yang bersifat vertikal mesti membawa dampak nyata untuk kebaikan kehidupan sosial yang bersifat horizontal.

Kurban dalam Makna

Komaruddin menjelaskan, kata qurban artinya “dekat”, telah menjadi bahasa Indonesia seperti dalam kata teman qarib atau “kekerabatan”. Dengan menyembelih hewan kurban, maksudnya untuk mendekatkan diri kepada Allah, adalah dengan jalan mendekati dan menyayangi fakir miskin yang disimbolkan dengan pemberian daging hewan kurban. “Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an, yang sampai kepada Allah adalah ketakwaan, adapun daging kurban untuk dinikmati manusia,” tulisnya [hlm. 12].

Bahasan tentang ibadah kurban sebagai bentuk ketakwaan kepada Allah yang diwujudkan lewat berbagi daging hewan kurban kepada sesama tersebut bisa menjadi simbol bahwa dalam beragama, selain tentang hubungan kita dengan Allah Swt, adalah juga tentang membangun hubungan baik pada sesama. Beragama, dengan demikian, adalah juga tentang membangun persaudaraan, kedamaian, kesejahteraan, keadilan, dan kemajuan. Poin tersebut sekaligus bisa menjadi pintu masuk menelusuri bahasan-bahasan lainnya di dalam buku ini.

Di buku berjudul Agama untuk Peradaban ini, Komaruddin Hidayat menyoroti banyak fenomena keberagamaan masyarakat Indonesia. Di tengah fenomena kemunculan sikap beragama yang keras, intoleran, dan penuh kebencian, akademisi yang produktif menulis ini mengajak kita mengembalikan dan meletakkan fungsi dan peran agama di tempat yang semestinya, yakni sebagai sumber, daya penggerak, dan pendorong terbangunnya peradaban.

Komaruddin melihat, kehidupan beragama di Indonesia belakangan cukup mengkhawatirkan di tengah pengaruh gerakan Islam transnasional yang radikal dan anti tradisi lokal. Ia melihat, umat Islam Indonesia cukup rentan terpengaruh dinamika keagamaan di Timur Tengah tersebut, terutama bisa dilihat dari merebaknya simbol-simbol bercorak Arabisme, baik dalam hal pakaian maupun mazhab pemikiran.

Menurut Komaruddin, perkembangan dan pengaruh tersebut sebenarnya bisa memperkaya keragaman paham dan budaya keagamaan yang sudah ada di Indonesia, asal dilandasi sikap toleransi dan bisa menghargai perbedaan. Namun, itu bakal menjadi soal jika lebih bersifat eksklusif dan radikal, atau menganggap diri paling benar sebagai pemegang monopoli tafsir kebenaran pesan Tuhan dan mengkafirkan yang lain [hlm. 56].

BACA JUGA  Meninggalkan Dakwah Radikal-Ekstrem, Menyemai Dakwah Ramah-Moderat

Menghormati Keragaman Ekspresi Beragama

Agama menjadi pendorong peradaban ketika semangat beragama mewujud sikap kasih sayang, toleran, peduli, dan nilai-nilai moral etis kemanusiaan lainnya. Sebaliknya, sikap beragama yang keras, penuh kebencian dan dendam, bisa menjadi sumber konflik, kekerasan, yang menghancurkan peradaban.

Di dalam ekspresi keberagamaan, orang mesti saling menghargai dan tidak mudah menghakimi di tengah perbedaan yang ada. Komaruddin melihat, banyak ragam orang dalam mengekspresikan keberagamaannya. Ada dimensi agama yang sifatnya sangat personal, tidak terlihat (esoteris) karena berada di wilayah hati yang tak diketahui orang lain. Namun ada pula ekspresi keberagamaan yang terlihat orang lain (ekstoteris).

Ada orang yang menonjol dalam ibadah sosial, namun miskin dalam ibadah ritual. Ada orang yang dermawan dengan hartanya. Ada lagi yang bisanya bersedekah dengan tenaga atau ilmunya. Jadi, di lapisan “paling dalam” atau esoterik, kita tidak tahu bobot niat dan keikhlasan seseorang, baik ketika melaksanakan ritual maupun aktivitas sosial. Hanya Tuhan yang tahu.

“Oleh karena itu, tugas negara dan umat beragama adalah menjaga kedamaian dan etika sosial. Silakan orang mengekspresikan keberagamaannya selama tidak mengganggu hak-hak orang lain dan ketertiban serta kedamaian publik.” [hlm. 62-63].

Di dalam konteks bangsa Indonesia, Pancasila menjadi rujukan atau sumber transendental, sebagaimana tertera di sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Kebertuhanan, jelas Komaruddin, merupakan fondasi dan kesadaran awal yang mesti ditanamkan melalui berbagai jalur pendidikan sejak dini.

Yaitu kebertuhanan yang menumbuhkan rasa cinta pada nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan keadaban. Bukan kebertuhanan yang eskapistis, lari dari kepedulian terhadap agenda kemanusiaan [hlm. 245]. Pada momen kemerdekaan seperti sekarang, ekspresi kebertuhanan yang demikian menjadi sesuatu yang sangat krusial, sebagai wujud mensyukuri kemerdekaan itu sendiri.

Di samping topik keagamaan, sosial, dan politik, tulisan-tulisan di buku ini juga berisi renungan-renungan reflektif berangkat dari pengalaman pribadi penulis. Tulisan-tulisan berjudul “Memaafkan Itu Sehat”, “Membenci Itu Melelahkan”, “Menjinakkan Kemarahan”, menjadi renungan yang senafas dengan benang merah buku ini tentang bagaimana membangun sikap beragama yang penuh kasih sayang, toleran, damai, menyebarkan kebaikan dan kemanfaatan bagi seluruh umat manusia. Sehingga, agama bisa benar-benar menjadi suluh bagi peradaban.

Al Mahfud
Al Mahfud
Penikmat buku, penulis lepas, Aktif menulis topik-topik radikalisme-terorisme, Alumni IAIN Kudus.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru