26.1 C
Jakarta

Kuliah Peradaban Islam Versi Aktivis Khilafah: Mencuri Otoritas Sejarah

Artikel Trending

KhazanahTelaahKuliah Peradaban Islam Versi Aktivis Khilafah: Mencuri Otoritas Sejarah
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com- Kuliah Peradaban Islam Batch 2 kembali digelar oleh aktivis khilafah.  Kelas perdana akan dilaksanakan pada 5 Juni 2023 mendatang. Kuliah ini berbayar, dengan kategori tertentu. Kategori early bird seharga 99 ribu, pre-sale seharga 199 ribu, sedangkan harga normal sejumlah 350 ribu. Kuliah ini akan dilaksanakan selama 12 pertemuan dengan materi yang sama seperti pada Kuliah Peradaban Islam sebelumnya.

Penjelasan di atas bukan bermaksud ingin mempromosikan kelas yang akan digelar oleh para aktivis khilafah. Namun, yang saya ingin sampaikan bahwa, kegiatan yang mengatasnamakan sejarah Islam merupakan strategi licik para aktivis khilafah dan strategi indoktrinasi khilafah. Mereka mencuri otoritas sejarah dengan melebarkan sayap gerakan digital dengan bungkus Islam. Bukan HTI namanya kalau tidak akademis. Bungkusnya kuliah, isinya adalah kampanye untuk satu suara menegakkan khilafah. Kelas ini berbayar, sebab target pasar yang sudah direncanakan adalah kaum Muslim urban, menengah ke atas. Masyarakat kelas ekonomi ke bawah, tidak akan program berbayar hanya untuk mengikuti kelas sejarah peradaban Islam. Bukan tidak butuh atau tidak penting. Memenuhi kebutuhan hidup saja masih susah, apalagi mau ikut kelas berbayar.

Seperti yang kita ketahui bahwa, agenda politik para aktivis khilafah adalah tegaknya daulah khilafah sehingga bisa diterapkan syariat Islam secara total. Sejak pertamakali muncul gerakan itu, gerakan Islam Hizbut Tahrir, memiliki agenda pokok untuk menerapkan syariat Islam. Desakan untuk menegakkan khilafah bukan sebuah wacana, melain kan menjadi realitas politik untuk mengubah tatanan kehidupan bernegara. Kuatnya gerakan tersebut menyusul dengan kekecewaan terhadap pemerintah resmi yang kerapkali dilihat sebagai sebuah kegagalan yang terus berulang. Sehingga ruang ini mendapatkan suara yang cukup banyak dari masyarakat akibat kekecewaan yang sama kepada pemerintah.

Sudah jelas bahwa aktivis khilafah menolak konsep demokrasi, nasionalisme, liberalisme, kapitalisme. Bagi mereka konsep-konsep ini adalah buatan manusia yang tidak sejalan dengan Islam. Artinya, buatan manusia tidak akan menciptakan kemaslahatan dan akan dilaknat oleh Allah. Narasi ini yang disebarkan ke publik untuk mendapatkan suara rakyat.

Saya berkesempatan untuk menghubungi pihak panitia dan mengisi formulir, seperti mendapat ruang baru untuk berpikir bagaimana materi yang akan disampaikan oleh para pemateri. Tentu, tidak jauh berbeda dengan praduga yang saya miliki. Bahwasanya kuliah ini untuk mem-profiling sejarah Islam versi HTI, benar adanya. Kegiatan ini tidak lebih daripada strategi untuk mensyiarkan ideologi khilafah versi HTI.

Alasan ini saya kemukakan dengan melihat profil para pemateri yang akan mengisi kuliah ini. Setidaknya ada beberapa tokoh yang perlu kita ketahui, di antaranya:

Pertama, Prof. Dr. Ing. Fahmi Amhar. Nama professor tersohor ini bukanlah tokoh baru dalam pergerakan khilafah. Karir dalam akademik cukup terlihat sangat moncer dengan berbagai kegiatan yang menjadi fokusnya. Ia sangat sering menjadi pembicata dalam berbagai acara akademik ataupun kampanye khilafah ala HTI. Secara latar belakang ketokohan, Fahmi bukanlah sembarang tokoh. Ia sudah sangat mahir dalam membicarakan khilafah ala HTI.

Kedua, Ust. Salman Iskandar. Seorang penulis buku yang bertemakan tentang Islam. namanya tersebar di media sosial. Aktif memproduksi konten di youtube serta pembicara ulung. Framing dirinya sebagai tokoh yang paham tentang sejarah Islam, di mana sebenarnya adalah sosok aktivis HTI yang kerapkali bersuara tentang khilafah.

Ketiga, Ust. Yuana Ryan Tresna. Aktivis ulung HTI yang saat ini berkamuflase menjadi ‘ulama hadis’. Di berbagai channel youtube, ia aktif menyuarakan khilafah. Tentu, sejarah yang disampaikan adalah khilafah ala HTI yang bertujuan untuk mendirikan negara Islam di Indonesia seperti biasanya. Gerakan yang sama seperti Ismail Yusanto, Felix Siauw, dan para aktivis khilafah lainnya.

Keempat, Pompy Syaiful Rizal. Sosok ustaz millenial yang aktif di tiktok. Seperti profil ustaz lainnya, Pompy adalah orang yang memiliki gerakan sama seperti para pemateri di atas.

Para pemateri yang akan mengisi Kuliah Peradaban Islam adalah aktivis khilafah. Kegiatan ini bukan mencerminkan nilai-nilai Islam. Justru sebaliknya. melalui kegiatan ini, mereka mencuri otoritas sejarah dengan bersikeras menegakkan khilafah di Indonesia. Wallahu a’lam.

Muallifah
Muallifah
Aktivis perempuan. Bisa disapa melalui Instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru