29.6 C
Jakarta

Kontra-Ekstremisme dengan Membangun Ekosistem Beragama Binadamai dan Toleransi

Artikel Trending

KhazanahPerspektifKontra-Ekstremisme dengan Membangun Ekosistem Beragama Binadamai dan Toleransi
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Dalam beberapa tahun kehidupan beragama kita diwarnai oleh serangkaian fenomena intoleransi bahkan kekerasan. Intensitas keduanya semakin meningkat dan kian mengancam kemajemukan bangsa. Padahal, kita kerap membanggakan diri sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia yang toleran, rukun, dan damai.

Intoleransi dan kekerasan ialah paradoks agama. Bagaimana tidak? Jika ditelusuri, tidak ada satu pun agama mengajarkan permusuhan apalagi kekerasan. Namun, tafsir manusia atas agama lah yang melahirkan sentimen permusuhan bahkan kehendak untuk melakukan kekerasan dan kerusakan. Munculnya intoleransi dan kekerasan atas nama agama dengan demikian membuktikan adanya kerancuan berpikir umat beragama dalam memahami ajaran agamanya.

Disinilah pentingnya membangun ekosistem beragama berbasis tafsir keagamaan yang bertumpu pada nilai binadamai (peacebuilding) dan toleransi. Agama sebagai sumber kedamaian tidak boleh hanya sekedar menjadi jargon. Melainkan termanifestasikan nyata dalam kehidupan beragama.

Di titik ini, konsepsi binadamai menjadi urgen untuk dikembangkan. Mohamad Abu Nimer dalam bukunya Nirkekerasan dan Binadamai dalam Islam menjelaskan bahwa Islam memiliki sejumlah ajaran yang bisa dijadikan modal menyelesaikan konflik dengan pendekatan nirkekerasan dan binadamai.

Binadamai dalam Islam

Abu Nimer misalnya mengutip Alquran Surat al Hujarat ayat 9 yang berbunyi “dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah keduanya”. Juga pada ayat 10 yang berbunyi “sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu”. Kata mukmin dalam hal ini mengacu pada pengertian orang beriman secara umum, tidak hanya komunitas muslim saja.

Selain itu, Abu Nimer juga menekankan pentingnya konsep Sulha yang dalam kamus politik modern dimaknai sebagai mediasi atau rekonsiliasi. Konsep Sulha merupakan extract lessons dan prinsip yang pernah dipakai oleh masyarakat Arab pra-Islam dalam menyelesaikan konflik secara damai dan adil. Mulai dari tingkat keluarga, interpersonal, maupun komunitas. Nimer berasumsi bahwa konsep damai dan kerukunan dalam Islam mengadopsi kultur Arab tradisional tersebut.

Ide binadamai sebagaimana diperkenalkan oleh Abu Nimer ini tentu relevan dengan situasi dunia Islam saat ini yang tengah bergolak dimana-mana. Di negara-negara muslim yang dilandai konflik seperti di Suriah, Libya, Yaman, Afganistan, Palestina, dlsb, pendekatan nirkekerasan dan binadamai penting untuk mengurai konflik dan perang yang terjadi.

BACA JUGA  Menemukan Moderasi Beragama di Ayat Al-Qur’an yang Tampak Radikal

Sementara di negara yang damai namun berpotensi terjadi konflik seperti Indonesia, pendekatan nir-kekerasan dan binadamai penting untuk mencegah terjadinya konflik serta mendorong lahirnya ekosistem beragama yang toleran.

Konsepsi nirkekerasan dan binadamai ini akan mendorong umat Islam berpikir progresif, alih-alih regresif. Nirkekerasan dan binadamai juga akan mendorong muslim berpikir secara universal, bukan primordial. Pola pikir progresif dan universal ini secara tidak langsung akan menganulir akar intoleransi dan kekerasan yang selama ini menghantui praktik keagamaan kita.

Tersebab, intoleransi dan kekerasan umumya berakar dari kehendak untuk mengembalikan kemurnian Islam sebagaimana dipraktikkan di zaman Rasulullah dan khalifah (puritanisme) serta keyakinan bahwa umat Islam lebih superior ketimbang umat agama lain.

Ekosistem Beragama di Indonesia

Dalam konteks Indonesia, pendekatan nirkekerasan dan binadamai penting untuk membangun ekosistem beragama yang toleran dan inklusif. Ekosistem beragama yang toleran mutlak diperlukan mengingat realitas keindonesiaan kita yang plural.

Pluralitas nyaris selalu identik dengan potensi konflik dan perpecahan. Maka, diperlukan strategi pencegahan konflik sejak dini, salah satunya ialah membangun ekosistem beragama berbasis binadamai dan toleransi.

Tentu diperlukan partisipasi semua pihak dalam membangun ekosistem beragama berbasis binadamai dan toleransi. Mulai dari pemerintah, ormas dan tokoh agama, serta umat beragama. Pemerintah sebagai pemegang kebijakan idealnya berkomitmen untuk menegakkan keadilan dalam bidang politik, ekonomi, hukum, sosial dan budaya.

Sejarah mencatat, konflik antar-agama seringkali tidak murni dilatari oleh perbedaan ajaran agama. Melainkan dilatari oleh ketimpangan sosial akibat kebijakan publik yang tidak adil.

Partisipasi ormas atau tokoh agama penting untuk menyebarkan pesan cinta dan damai dalam beragama. Ormas keagamaan harus menjadi lokomotif yang menarik gerbong umat menuju corak keagamaan yang inklusif dan pluralis. Sedangkan para tokoh agama harus menjadi aktor sekaligus agen yang mempromosikan wacana nirkekerasan, binadamai, sekaligus toleransi.

Terakhir, umat beragama harus senantiasa mengedepankan pendekatan nirkekerasan dalam menyelesaikan perbedaan dan konflik yang dilatari isu agama. Umat beragama, baik secara individu maupun kolektif memiliki kewajiban untuk menjaga ekosistem beragama tetap harmonis dalam bingkai persatuan.

Desi Ratriyanti
Desi Ratriyanti
Lulusan FISIP Universitas Diponegoro, bergiat di Indonesia Muslim Youth Forum.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru