25.1 C
Jakarta

Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI): Perempuan Memiliki Peran Penting dalam Pencegahan Radikalisme dan Terorisme

Artikel Trending

KhazanahTelaahKongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI): Perempuan Memiliki Peran Penting dalam Pencegahan Radikalisme...
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com- Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) akan digelar pada November mendatang. Rangkaian acara pra kongres, dilaksanakan beberapa waktu lalu di UIN Walisongo Semarang. Saya berkesempatan untuk hadir dalam acara tersebut pada 8/08/22 kemarin. Salah satu isu yang dibahas oleh para bu nyai, aktifis muda, akademisi dari pelbagai kalangan tersebut yakni, wawasan kebangsaan yang membahas keterlibatan perempuan dalam pencegahan radikalisme dan terorisme.

Perempuan dalam pusaran radikalisme dan terorisme, bukanlah isu baru untuk dibahas. Ekualitas gender pada saat ini, merambah pada extraordinary crime, salah satunya kejahatan terorisme. Jika dulu pelaku teroris adalah laki-laki, saat ini, sudah banyak perempuan yang tampil ke publik untuk terlibat langsung dalam aksi bom bunuh diri. Beberapa waktu lalu yang sempat ramai, aksi lone wolf yang dilakukan oleh seorang perempuan muda, Zakiah Aini, menjadi salah satu bukti dari Ekualitas gender tersebut.

Selain dalam bidang kejahatan terorisme itu, tantangan lainnya adalah radikalisme, aktifis khilafah yang keukeuh memperjuangkan sistem negara Islam di Indonesia dengan menggunakan strategi non kekerasan, tapi masif dan memiliki banyak pengikut anak muda. Hasilnya justru, keduanya merupakan tantangan yang berat bagi Indonesia. Sebab yang dilawan adalah bangsa Indonesia sendiri. Tidak heran, jika Soekarno pernah mengatakan bahwa, yang paling berat adalah melawan bangsa sendiri dari ideologi perusak NKRI.

Meneguhkan peran berbagai sektor

Dengan melihat titik persoalan yang terjadi, ada banyak hal yang bisa direkomendasikan oleh forum kepada banyak pihak. Mulai dari Lembaga pendidikan, hingga influencers. Adanya perhatian penuh ini, Lembaga pendidikan harus mampu untuk mengambil otoritas keagamaan dan keilmuan yang bisa dipercaya agar, para anak muda, khususnya para perempuan tidak terlena dengan ajakan hijrah yang biasa dilakukan oleh ustaz-ustazah muda yang memiliki pemikiran untuk mendirikan khilafah. Para influencers yang hadir di ruang maya, juga harus memiliki pemikiran yang moderat dan literasi agama cukup mumpuni, supaya mampu tampil sebagai figur yang bisa disegani oleh para gen Z yang biasa berselancar di media sosial.

Tidak hanya itu, keluarga sebagai basis utama dalam upaya pencegahan radikalisme dan terorisme, harus mampu tampil sebagai keluarga baru, yang bisa memberikan ruang bagi anak-anaknya berselancar di media sosial, namun tetap pengawasan kedua orang tua. Sehingga mereka tidak terlena dengan informasi di media sosial, untuk hijrah ke Suriah, seperti yang pernah dilakukan oleh Dania, jihadis perempuan asal Indonesia yang pernah bergabung ISIS. Dengan tujuan tersebut, bentuk keluarga baru harus memiliki literasi media sosial yang kuat dan literasi agama cukup mumpuni, supaya bisa saling terbuka aktifitas yang dilakukan oleh anak di media sosia.

BACA JUGA  Sosok Thahjo Kumolo; Negarawan Anti Radikalisme

Kehadiran orang tua sebagai partner hidup bagi anak, harus disadari penuh bagi semua elemen keluarga, agar tercipta saling butuh antara yang satu dengan yang lain. Dengan demikian, basis interaksi keluarga konvensional dari hubungan orang tua dan anak, bertransformasi menjadi keluarga baru, sebagai bentuk konsekuensi dari adanya media sosial.

Radikalisme dan terorisme musuh negara

Melihat betapa berbahayanya ideologi itu, kedua term tersebut adalah musuk negara yang dapat menjadi ancaman keutuhan negara. Dengan itu, pembahasaan tentang radikalisme dan terorisme sebagai bentuk penyadaran bahwa, para ulama perempuan dan seluruh masyarakat Indonesia pada umumnya, memiliki peran penting untuk menolak dan mencegah radikalisme dan terorisme di semua sektor kehidupan. Mulai dari keluarga, kelompok masyarakat, hingga Lembaga pendidikan, ataupun media sosial yang saat ini, menjadi media utama dalam melakukan interaksi dengan orang lain.

Dengan demikian, pembahasan tentang radikalisme dan terorisme merupakan upaya untuk memberikan kesadaran pula kepada seluruh masyarakat bahwa, radikalisme dan terorisme bukanlah isu yang dibuat oleh para kadrun, seperti yang biasa dilontarkan oleh para netizen di media sosial. Dengan berpijak kepada ancaman keutuhan NKRI, masyarakat Indonesia memiliki kewajiban untuk membela negara dari ideologi yang dapat memecah belah bangsa Indonesia. KUPI dengan semangat perjuangan untuk membawa perubahan, tampil sebagai ruang yang kritis bagi para perempuan untuk hadir ke publik dengan entitas keagamaan yang kuat, dan kembali membuktikan bahwa, perempuan memiliki andil cukup besar dalam pembangunan bangsa dan negara. Wallahu a’lam

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru