31.1 C
Jakarta

Komunitas Pecinta Hijrah; Intrik Licik Aktivis HTI Menggaet Kalangan Milenial

Artikel Trending

Milenial IslamKomunitas Pecinta Hijrah; Intrik Licik Aktivis HTI Menggaet Kalangan Milenial
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Entah mengapa dai muda nan energik lagi memiliki pengaruh besar seperti koko Felix Siauw itu sangat antipati dengan NKRI, Pancasila, apalagi sistem pemerintahan: demokrasi. Betapa disayangkan ketika orang yang punya pengaruh justru menggunakan pengaruhnya pada sesuatu yang tidak baik—sesuatu yang alih-alih meruwat persatuan justru merusak kerukunan. Misalnya, Rabu (11/8) besok, koko Felix dengan khilafahers lainnya diundang dalam acara Komunitas Pecinta Hijrah.

Bersama Felix, ada Ismail Yusanto (juru bicara HTI yang berkamuflase sebagai ‘cendekiawan Muslim’), Yuana Ryan Tresna (dedengkot HTI tapi berkamuflase sebagai ‘ulama hadis’), Ahmad Rusdan Utomo (dosen biologi biasa di Universitas YARSI tapi berkamuflase sebagai ‘ilmuan Muslim’), Dewa Eka Prayoga (pebisnis muda tapi dibranding sebagai ‘pengusaha Muslim’), serta Carissa Grani, dokter gigi yang baru mualaf dan kisahnya viral beberapa waktu lalu.

Apakah belum terlihat intrik liciknya? Ada empat hal yang perlu diutarakan segera. Pertama, yang bobrok dari acara tersebut adalah ‘para manusia tak terlihat’, yaitu para dedengkot HTI yang menggelar acara, yang berkamuflase sebagai Komunitas Pecinta Hijrah. Kedua, para narasumber keseluruhan adalah aktivis HTI yang memalsukan identitasnya sebagai pengusaha, dai, cendekiawan hingga ulama. Ini tentu sangat licik sekali. Mereka berusaha mengelabui.

Ketiga, Carissa memang bukan HTI, tetapi ia tengah diseret ke dalam kubangan penipuan tersebut. Ini perlu menjadi perhatian bersama bahwa para siluman HTI itu lebih gercep daripada NU sekalipun, dalam hal menggaet pengikut. Kalau ada mualaf baru, langsung mereka rekrut dan kasih jabatan strategis, lalu bersama-sama menggaet remaja lainnya. Dilihat dari namanya saja, Ryan Tresna misalnya, jelas sekali ia bukan ulama. HTI memang suka pemalsuan, mereka memang siluman penipu ulung.

Keempat, Komunitas Pecinta Hijrah adalah organisasi afiliasi HTI untuk menggaet kalangan milenial yang tengah hijrah atau sekadar ikutan tren tersebut. Di media sosial, follower-nya sudah puluhan ribu. Pada acara besok, Komunitas Pecinta Hijrah bahkan menyiapkan twibbon bagi para peserta—fungsinya jelas agar semua pada ikut. Warnanya serba biru, khas logo The Islamic Khilafah State. Jadi, apakah Anda masih berkeinginan untuk ikut acara palsu, dusta, licik, dan manipulatif tersebut?

Kepalsuan Komunitas Pecinta Hijrah

Salah satu peserta yang mengisi twibbon acara Komunitas Pecinta Hijrah besok adalah Haliman. Ia aktif di sayap HTI kecamatan Rungkut, Gunung Anyar dan sekitarnya. Sampai sekarang, Haliman menyusup di Dinas Perdagangan Kota Surabaya Bidang Distribusi Gedung Siola. Secara pendidikan, ia alumni D3 Fakultas FKM Universitas Airlangga. Istrinya yang bekerja sebagai dosen aktif di ITS juga menjadi anggota HTI, dan menebarkan paham ke-HTI-annya di kampus ITS.

Akademisi yang merangkap jabatan sebagai dedengkot HTI memang sangat banyak, dan sudah dibahas pada tulisan sebelumnya, Hilangnya Marwah Kampus dalam Cengkeraman Para Akademisi HTI. Kamuflase-kamuflase yang mereka gunakan pasti tidak jauh dari pekerjaan utamanya, seperti dosen, dokter, atau tokoh masyarakat sekalipun. Hanya saja, labelnya kemudian ditingkatkan, misalnya menjadi ‘ulama’, kendati keilmuannya sangat buruk dan tidak bersanad.

Jadi ada dua jenis kepalsuan yang dimainkan oleh para aktivis HTI sebagai intrik licik mereka. Pertama, jabatan. Bukan lagi rahasia bahwa para aktivis HTI berada di pucuk-pucuk strategis yang memungkinkan mereka saling menggaet antaranggota, lalu menciptakan propaganda terselubung di tempat mereka masing-masing. Aktivis HTI itu ibarat kanker, satu anggota terpapar, maka ia akan menjalar ke seluruh tubuh. Jadi sedikit atau banyak bukan soal, mereka akan saling merekrut.

BACA JUGA  Tiga Langkah Menumpas Radikalisme di Kampus

Kedua, komunitas. Komunitas Pecinta Hijrah adalah satu di antara komunitas besutan HTI tersebut. Dalam intrik licik HTI, ‘aspirasi’ dan ‘tren’ adalah dua modal utama. Apa yang sedang publik aspirasikan, misalkan keluhan ketidakadilan pemerintah di Twitter, mereka pasti masuk di situ. Baik dengan cara membuat tagar sehingga trending, atau memprovokasi melalui cuitan. Begitu pula tren, seperti tren hijrah di kalangan milenial. HTI juga pasti masuk di situ.

Dibuatkanlah kemudian, oleh mereka, tempat yang mengakomodasi tren tersebut. Kalangan mahasiswa lagi haus kebebasan di kampus, HTI buat komunitas Gema Pembebasan. Kalangan milenial lagi haus keagamaan, dari keblenger ingin berubah jadi agamis, maka mereka membuat Komunitas Pecinta Hijrah. Tetapi apakah itu murni komunitas belaka? Sama sekali tidak. Tidak ada yang gratis bagi HTI. Mereka punya agenda tersendiri, yaitu menciptakan komunitas para pecinta khilafah. Jelas. Nontafsir.

Felix Siauw dan Ismail Yusanto, Sang Aktor

Di sinilah muaranya. Apa pun komunitasnya, Ismail Yusanto dan Felix Siauw suguhannya. Apa pun jabatannya, panutannya tetap Ismail Yusanto dan Felix Siauw. Keduanya ibarat Zaid dan Umar yang tidak pernah absen dari kitab kuning, menjadi artis permisalan Nahwu-Sharraf. Ismail dan Felix adalah aktor utama yang, dari keduanya, segala kebobrokan bisa segera terdeteksi bahwa suatu komunitas berafiliasi HTI. Mereka aktor propaganda dari segala propaganda HTI.

Sudah banyak bahasan tentang Felix dan Ismail, bahwa keduanya sangat jelas adalah dedengkot HTI. Betapa pun koko Felix adalah Muslim yang ramah, santun, dan cerdas, tetapi ia adalah propagandis gagasan Khilafah Tahririyah yang sangat terang bahayanya bagi NKRI. Kendati koko Felix menggunakan kamuflase dari segi bahasa dan penyampaian yang lugas dan argumentatif, ia sedang menyembunyikan fakta diri bahwa setiap narasinya diperuntukkan kemakmuran HTI.

Islam bagi Felix adalah Islam ala HTI, sebab ia menjadi mualaf atas asuhan HTI itu sendiri. Ini sama dengan mengatakan bahwa Islam bagi orang Madura adalah Islam ala NU, karena sejak lahir sampai meninggal, lingkungan mereka mewariskan secara turun-temurun amaliah ke-NU-an. Sementara Ismail Yusanto adalah orang yang berada di kasta tertinggi Hizbut Tahrir di Indonesia. HTI baginya adalah kehidupan dan penghidupan, jadi sampai mati pun akan tetap begitu.

Kalangan milenial harus cerdas mencari komunitas. Komunitas Pecinta Hijrah adalah komunitas yang idealnya bagus, tapi disusupi HTI menjadi sangat buruk dan wajib dijauhi. Sekali lagi, wajib dijauhi, wajib sewajib-wajibnya. Fardhu ‘ain, tidak boleh didekati apalagi bergabung. Sebab jika tidak demikian, alih-alih akan hijrah ke ajaran Islam yang benar, Anda akan digiring untuk jadi ekor Ismail Yusanto dan Felix Siauw, sang aktor. Kecuali jika Anda sudi jadi kacung ideologis Ismail dan Felix, maka silakan.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Mahasiswa SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru