25 C
Jakarta

Hadang Radikalisme: Jika Lengah, Indonesia Akan Seperti Afghanistan

Artikel Trending

KhazanahPerspektifHadang Radikalisme: Jika Lengah, Indonesia Akan Seperti Afghanistan
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Jika kita ketikkan kata kunci ‘perempuan Afghanistan’ di kolom pencarian Google, maka akan muncul berbagai berita hangat yang menyatakan penderitaan perempuan Afghanistan baru-baru ini. Ya, mereka hidup di bawah tekanan Taliban sebagai oposisi dan tradisi lokal anyaran yang tidak menguntungkan, setidaknya untuk personal mereka sebagai perempuan.

Nasib perempuan di sana memang menarik untuk disoroti, terlebih saat ini AS sudah akan menarik infanteri dari negara yang telah dibantunya sejak 20 tahun lalu itu. Ya, 2001 menjadi awal kedatangan pasukan AS dan juga awal konflik AS-Taliban Afghanistan dimulai. Tahun itu juga menjadi awal yang baik bagi Afghanistan untuk mengeluarkan perempuan dari jerat penindasan.

Kenapa narasi di atas harus disampaikan? Apa hubungannya dengan nasib kaum perempuan? Begini, kisaran tahun 1920an-1990an, perempuan Afghanistan berhak untuk mendapatkan akses pendidikan, memiliki hak bersuara, memiliki kesetaraan di mata konstitusi, menjadi tenaga pendidik, tenaga pemerintahan dan tenaga kesehatan, juga berhak menentukan busananya sendiri.

Sayang, kebebasan itu harus sirna tatkala kaum Taliban mengambil alih kekuasaan pada tahun 1996-2001an. Mereka menamai rezimnya dengan istilah Imarah al-Islam al-Afghanistan dengan pemimpin utamanya Mullah Muhammad Omar yang bergelar Amir al-Mu’minin. Pada masa inilah, rezim Taliban mengumumkan dekrit yang berisi aturan-aturan yang diklaimnya bersumber dari ajaran Islam.

Aturan-aturan tersebut nampaknya sangat boleh kita titeli sebagai aturan konyol, jadul, jumud dan usang, khususnya pada beberapa poin yang diskriminatif terhadap kaum perempuan, seperti tidak diizinkan tampil di ruang publik, tidak memiliki hak partisipasi dalam politik, tidak boleh bekerja, dilarang keluar rumah tanpa ditemani pria mahram, tidak boleh dikenal orang lain, tidak mendapatkan akses pendidikan dan wajib menggunakan cadar.

Namun nasib baik kembali berpihak, pada tahun 2004 bahkan hingga hari ini, golongan Taliban selalu mengalami kekalahan dalam pemilu. Dengan demikian, kaum perempuan kembali hidup dalam kebebasan. Hal-hal diskriminatif terhadap kaum perempuan sebelumnya, bersamaan itu pula hilang. Dengan demikian, perempuan dan laki-laki mendapat hak yang sama di mata hukum.

BACA JUGA  Tiga Strategi Mengadang Kebangkitan NII, Kelompok Teror Tertua di Indonesia

Akan tetapi sangat disayangkan, hal ini tidak serta merta membuat ruang gerak perempuan Afghanistan terbuka seluas-luasnya. Doktrin-doktrin Taliban di masa lalu masih menggerayangi banyak orang di sana hingga menjadi tradisi lokal yang anyaran. Terlebih jadwal ditariknya pasukan AS dari negara tersebut sudah semakin dekat dan pasti membawa angin segar bagi mereka.

Di beberapa wilayah yang kini sudah dikuasai Thaliban, seperti di daerah utara, timur laut, selatan dan barat daya sebagaimana dikutip dari berbagai sumber, sekitar setengahnya dari total penduduk Afghanistan hidup di bawah tekanan, aturan dan pengawasan Taliban. Beberapa aturan jadul warisan 20 tahun lalu dipaksa untuk diterapkan kembali meski melawan konstitusi.

Jika kita telaah, sedikitnya terdapat dua alasan mengapa Taliban menerapkan aturan konyol semacam itu terhadap kaum perempuan di Afghanistan. Satu, secara terbuka mengagungkan budaya patriarki meski dengan melabrak hak-hak kaum perempuan. Dua, cara memahami hadis dan sirah Nabi yang tidak komprehensif.

Kedua alasan tersebut sejatinya menjadi ancaman bagi seluruh negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Pemerintah akan disudutkan dengan narasi ‘pemerintahan thaghut’ dan kaum perempuan yang berupaya memprotes budaya patriarki akan disebut sebagai ‘perempuan jahiliyah’. Jika mereka mengikuti arus ini, mereka sudah pasti terjebak dalam pusaran radikalisme eksklusif.

Hal ini berbanding lurus dengan negara Indonesia tercinta, jika penduduk kita lengah dengan membiarkan fitnah-fitnah berseliweran dan berpandagan sempit terhadap teks agama, nampaknya jangan kaget jika negara kita akan seperti Afghanistan. Memerangi narasi kelompok yang memiliki karakteristik sama dengan Taliban adalah salah satu cara untuk menghindari malapetaka itu.

Azis Arifin
Mahasiswa Magister Pengkajian Islam SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru