27.7 C
Jakarta

Jihad Total Melawan Terorisme dan Manipulator Agama

Artikel Trending

KhazanahPerspektifJihad Total Melawan Terorisme dan Manipulator Agama
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Islam adalah agama yang diturunkan Allah SWT sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta (rahmatan lil ‘alamin). Bahkan kalau kita telaah salah satu akar istilah Islam berasal dari kata as-silm yang berarti damai, kedamaian. Yang demikian tentu kontras dengan makna jihad yang disalahpahami berkonotasi kekerasan.

Islam hakikatnya adalah agama rahmat, cinta, dan jalan damai. Pun demikian dengan Rasulullah SAW yang membawa ajaran tinggi ini, pembawa rahmat dan memiliki misi kemuliaan penuh kasih sayang. Dakwah lemah lembut penuh cinta telah dimainkan secara paripurna dan tuntas oleh Rasulullah SAW.

Dari sini sangatlah jelas bahwa terorisme sangat bertentangan dengan Islam. Terorisme bukan bersumber dari ajaran Islam. Terorisme justru adalah musuh Islam. Ada banyak penyebab mengapa seseorang atau sekelompok orang berani dan nekat melakukan tindakan terorisme.

Di antara penyebabnya yakni adanya penafsiran kaku dan keliru yang bersifat tekstual terhadap sumber-sumber ajaran Islam serta implikasinya. Hal ini melahirkan manusia tuna agama. Menciptakan satu kelompok masyarakat yang frustasi dan putus asa. Perasaan-perasaan tersebut pada gilirannya mendorong mereka pada suatu pemikiran dan sikap yang bersifat radikal, ekstrem, dan memicu tindakan teror dengan mengatasnamakan agama.

Bahkan, mereka kemakan doktrin promo atau jualan surga murah dengan cara-cara bom bunuh diri. Tindakan itu dianggap mereka sebagai ladang jihad dengan jaminan surga. Padahal mereka adalah manusia-manusia tuna agama yang memanipulasi agama untuk menjustifikasi sikap dan tindakan mereka dalam bentuk teror sebagai suatu alat legitimasi yang seolah halal dan dibenarkan. Mereka sangat keliru dan sesat memaknai jihad.

Kalau kita kuliti, secara sematik, “jihad” memiliki makna “mengerahkan kemampuan atau kesungguhan” (badzl al-juhd). Karenanya, “jihad” dapat dibagi menjadi dua bentuk, yakni jihad melawan hawa nafsu (jihad an-nafs) dan jihad dalam arti perperangan yang legal dan dibenarkan (al-hard al-masyru’ah).

Dalam literatul ke-Islaman, bentuk jihad yang pertama (jihad al-nafs) sering disebut dengan “jihad besar” (al-jihad al-akbar). Jihad besar adalah suatu upaya keras yang dikerahkan seseorang untuk melawan berbagai kencenderungan jahat jiwanya; menundukan tekanan-tekanan hawa-nafsunya;

BACA JUGA  Manuver Khilafatul Muslimin dan Upaya Pendistorsian Pancasila

membersihkan jiwa dan sifat-sifat tercela; dan menghilangkan rasa iri, dengki dan kebencian antar sesama. Dengan “jihad-besar” ini diharapakan seorang Muslim dapat menyucikan jiwanya sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Sementara itu, jihad dalam arti perang, dalam literatur ke-Islaman disebut dengan “jihad-kecil” (al-jihad al-ashghar). Satu prinsip yang perlu ditekankan adalah perang yang diperbolehkan dalam Islam (jihad) sebenarnya lebih bercorak difensif yang tujuan semata-mata membela diri dari serangan musuh.

Kendatipun perperangan diizinkan dalam Islam untuk tujuan membela diri, akan tetapi di dalamnya terkandung ancaman untuk tidak melampaui batas. Apalagi, menjaga perdamaian dan anti-peperangan sebenarnya merupakan sikap dasar dari wajah Islam sesungguhnya.

Islam dengan jelas melarang sikap fanatik dan fanatisme. Maka wajar dan logis bila Islam menolak segala bentuk kekerasan dan terorisme. Bahkan sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya, meneror dan berbuat anarki kepada seorang manusia saja dalam persepktif Al-Qur’an sama artinya dengan melakukan teror terhadap seluruh umat manusia.

Hal tersebut sebagaimana termaktub dalam Q.S. Al-Maidah ayat 32 yang artinya, “Oleh karena itu kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.

Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul kami dengan (membawa) keteranganketerangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi.”

Berdasarkan argumen-argumen tersebut kita bisa menyimpulkan bahwa para pelaku bom bunuh diri yang menganggap bahwa tindakannya adalah jihad adalah salah besar. Bahkan, kalau kita mau mengaktualisasikan dalam konteks kekinian bahwa  salah satu hakikat jihad sesungguhnya adalah perang melawan terorisme itu sendiri. Karena terorisme sangat bertentangan dengan jihad dan merupakan musuh besar yang harus dibasmi.

Suwanto
Suwanto
Pengurus Takmir Masjid Kagungan Dalem, Lempuyangan Yogyakarta dan Pengajar di Pondok Dompet Dhuafa Jogja

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru