26.7 C
Jakarta

Janji Khilafah itu Utopis: Mengapa Kekejamannya Tidak Dipotret?

Artikel Trending

KhazanahTelaahJanji Khilafah itu Utopis: Mengapa Kekejamannya Tidak Dipotret?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com- Membaca setiap narasi yang tersebar di media, oleh beberapa website yang gemar sekali mempromosikan khilafah, usaha mendirikan negara Islam di Indonesia, rasanya selalu utopis. Khilafah tampil sebagai solusi dari segala persoalan yang terjadi di Indonesia, mulai dari bencana alam, masalah ekonomi, pergaulan bebas, hingga fenomena-fenomena terkini. Terkadang membuat kita tidak habis pikir, apa hubungannya bencana alam dengan penegakan khilafah? Muara dari setiap narasi yang ingin disampaikan sebenarnya hanyalah satu, yakni mempromosikan negara khilafah sebagai solusi utopis yang memabukkan.

Kalau kita melihat kacamata sejarah yang menjadi kekayaan narasi yang ditampilkan oleh para aktivis khilafah, selama ini sejarah negara khilafah ditampilkan sebagai negara yang makmur, sejahtera, dan menegakkan keadilan. Tentu, ini tidak luput dari konsepsi yang akan diberikan kepada pembaca agar semua mengamini bahwa negara khilafah adalah solutif.

Berdasarkan cerita dalam Tarikh Khulafa, dijelaskan bahwa dalam kepemimpinan Yazid bin Muawiyah, anak dari Muawiyah, khalifah pertama dinasti Umayyah, dijelaskan bahwa ia yang membunuh Husein dalam tragedi Karbala. Sejarah mencatat bahwa kekejaman Yazid yang menghancurkan kota Madinah dan membuat urusan menjadi kacau. Di samping itu, penyerangan terhadap kota suci tersebut dilakukan ketika penduduk Madinah tidak mendukungnya. Penyerangan yang dilakukan bukan main, pertumpahan darah terjadi. Banyak yang menjadi korban, di antaranya para perempuan, anak-anak, tentu penduduk setempat juga menjadi korban. Berbagai kekejaman seperti pemerkosaan terjadi. Tragis dan biadab.

Sisi kelam Dinasti Umayyah juga belum dipotret seperti ketika dia mendapat mandat sebagai khalifah. Secara sengaja ia mengumpulkan 40 orang pakar hukum Islam dan cendekiawan, kemudian melakukan briefing untuk membelanya agar memberikan fatwa yang berpihak kepadanya.

Kisah kekejaman ini justru tidak dipotret dalam framing narasi yang disampaikan oleh para aktivis khilafah masa kini. Bahwa aspek politik yang terjadi dalam sistem pemerintah khilafah masa silam ada yang bobrok dan memiliki aspek negatif serta memakan banyak nyawa, adalah sebuah sejarah yang tidak bisa ditolak.

Fenomena tersebut sejalan dengan yang disampaikan Edelman bahwa, apa yang kita ketahui tentang realitas atau tentang dunia tergantung pada bagaimana kita membingkai dan mengkonstruksi realitas. Framing tersebut bisa melalui media yang selama ini banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Artinya konstruksi realitas yang ditampilkan oleh para aktivis khilafah masa kini tentang khilafah adalah sebuah ilusi semata.

Persoalan informasi tentang kejayaan, kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat, tidak diimbangi dengan potret kekejaman dan kesengsaraan yang diciptakan. Ini terlihat dalam setiap narasi yang ditampilkan oleh para aktivis khilafah, tidak pernah menyajikan realitas sejarah khilafah yang kelam. Semua tampak suci tanpa sedikitpun keburukannya. Sehingga pembaca akan di nina bobok-an dengan kejayaan masa lalu, kemakmuran dan kesejahteraan yang palsu.

Membaca aspek sejarah khilafah yang tidak berjalan mulus dan membahagiakan seperti yang ditampilkan, kita sepertinya harus jeli dengan setiap janji utopis yang diberikan oleh aktivis masa kini. Kita tidak boleh mabuk dengan kejayaan masa lalu. Sebab di balik kejayaan, ada ribuan nyawa yang melayang. Ada ribuan korban yang berperang demi kekuasaan dan kehausan nafsu.

Bagaimana dengan Indonesia?

Tentu, kita tidak ingin Indonesia seperti realitas sejarah kepemimpinan khilafah di atas. Kalau kita ingin melihat Islam di Indonesia, sepertinya kita perlu menelisik tentang toleransi yang ada di Indonesia. Menjunjung tinggi nilai persatuan dan kesatuan yang sedari dulu sudah ditanamkan oleh para pahlawan kita. Value tersebut adalah bagian dari nilai-nilai Islam yang ditampilkan oleh Indonesia. Memberikan ruang bagi kelompok yang berbeda agama, adalah salah satu wujud memanusiakan manusia yang diajarkan oleh Islam.

Sudah saatnya kita kritis dengan persoalan yang terjadi di balik informasi yang tersebar. Apalagi untuk informasi yang sifatnya berbentuk propaganda demi mengambil kekuasaan yang resmi. Perbuatan tersebut bisa disebut sebagai makar karena sudah mengajak kita untuk menghapus Indonesia dan mengubahnya dalam bentuk khilafah. Indonesia adalah hadiah yang diberikan oleh Allah atas segala perjuangan yang sudah dilakukan oleh pendahulu kita. Merawatnya adalah wajib. Bertindak tegas kepada setiap orang yang akan menghancurkan NKRI, kewajiban bangsa Indonesia. Wallahu a’lam

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru