26.3 C
Jakarta

Islamofobia Itu Ulah Teroris, Mengapa Pelaku Kontra-Terorisme yang Disalahkan?

Artikel Trending

Milenial IslamIslamofobia Itu Ulah Teroris, Mengapa Pelaku Kontra-Terorisme yang Disalahkan?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Gerakan Nasional Anti Islamofobia (GNAI) yang dideklarasikan beberapa hari lalu lumayan meresahkan. Bagaimana tidak, deklarasi tersebut ibarat pemutar-balikan fakta. GNAI yang diprakarasai beberapa tokoh mulai dari Anwar Abbas, Hidayat Nur Wahid hingga ustaz Abdul Somad berupaya mengonter islamofobia yang ternyata, usut punya usut, islamofobia yang mereka maksud ialah kontra-radikalisme dan kontra-terorisme terhadap umat Islam.

Mari perjelas inti masalahnya. Ustaz Abdul Somad, misalnya, merasa pernah jadi korban islamofobia, yaitu ditolak masuk Singapura. Masifnya kontra-narasi, sebagai contoh yang lain, dianggap upaya memojokkan Islam karena gerakan Islam selalu jadi sasarannya. Mengapa islamofobia diputarbalikkan oleh para pegiat narasi khilafah, padahal faktanya islamofobia merupakan residu dari khilafahisme dan terorisme itu sendiri? Itu ibarat maling teriak maling.

Sebuah riset menunjukkan bahwa identifikasi AS terhadap para tersangka terorisme sejak peristiwa 9/11 adalah titik tolak islamofobia. Sistem penuntutan pemerintah AS melalui kampanye “war on terror” ditambah liputan media yang efisien membawa tersangka terorisme Muslim-Amerika ke perhatian nasional—menciptakan kesan bahwa terorisme yang dilakukan segelintir Muslim tersebut lebih umum daripada yang sebenarnya. Yakni, bahwa Islamlah biang keladi sebenarnya.

Selanjutnya, promosi islamofobia menciptakan prasangka dan diskriminasi di kalangan masyarakat umum. Prasangka tadi memainkan peran kunci dalam keberadaan dan proliferasi islamofobia. Prasangka saja, sebagai penilaian, opini, atau sikap negatif, merupakan kerugian bagi kesejahteraan populasi secara keseluruhan. Prasangka dikombinasikan dengan tindakan terbuka, naik ke tingkat diskriminasi, menciptakan lingkungan yang berbahaya bagi para korbannya: umat Islam.

Kendati demikian, ketika ditanya dari mana ketegangan antara Muslim dan dunia Barat berasal, jawaban masyarakat beragam. Masyarakat di negara-negara Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA), AS, dan Kanada menyebut agama dan kepentingan politik sebagai penyebab utama ketegangan. Orang Afrika Sub-Sahara lebih sering menyebut agama daripada politik, sementara orang Eropa mengatakan kepentingan politik adalah kekuatan pendorong di balik sumber islamofobia tersebut.

Islam dan politik. Itulah garis utamanya. Pertanyaannya, siapa yang selama ini gencar menyeret Islam ke arena politik ideologis? Jawabannya akan ketemu: mereka yang selama ini ingin menegakkan khilafah, apa pun nama kelompoknya. Teroris termasuk di dalamnya, karena mereka sangat bernafsu mendirikan Daulah Islamiyah dengan aksi-aksi mengerikan. Kengerian tersebut memantik kecanggungan untuk berteman dengan Islam. Artinya, jelas terorislah biang keroknya.

Islamofobia; Dampak Buruk Terorisme

Tabrakan peradaban Islam dan Barat memang sudah terjadi sejak lama. Orang Barat memandang Islam sebagai agama perang, sekalipun mereka tidak punya pengetahuan sama sekali tentang Islam yang sebenarnya. Bersamaan dengan prasangka stigmatis atas agama Islam tersebut, segelintir Muslim—yaitu para jihadis yang menjadi aktor aksi teror—juga membenci Barat sebagai Salibis kafir. Jelas, ini tidak monolitik. Katakanlah dominasi AS di Afghanistan sebagai penyebab utamanya.

Ada dua ketegangan di situ: Islam dengan Barat dan politik Muslim dengan politik Barat. Tetapi, agama melampaui politik sebagai akar penyebab ketegangan antara dunia Muslim dan Barat. Dalam konteks inilah islamofobia penting didiskusikan. Kepentingan politik dapat bervariasi dan berubah, sementara ketegangan agama lebih mendarah daging dalam suatu masyarakat. Perilaku segelintir Muslim tadi yang mencoreng Islam itu sendiri. Islam jadi ditakuti, dicurigai, dan dibenci.

BACA JUGA  Literasi Moderat, Kontra-Narasi, dan Upaya Melawan Khilafahisasi NKRI

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa peristiwa 9/11 sendiri sarat politik. Banyak juga teori konspirasi tentangnya. Namun yang pasti, peristiwa tersebut benar-benar berdampak global; matinya simpati masyarakat dunia pada Islam. Apalagi masyarakat Barat jarang mengenal Islam dan sudah punya prasangka dari awal, terorisme pun berdampak buruk terhadap pesatnya islamofobia di sana. AS dan Eropa dominan, dan selanjutnya islamofobia menular ke banyak negara di dunia.

Coba saja tanyakan kepada orang yang fobia Islam, mengapa ia bisa sangat takut dan curiga? Jawabannya jelas takut dibom karena ia menganggap Islam agama perang yang anti-kedamaian. Bukannya sudah jelas, sampai di sini, siapa yang harus bertanggung jawab dengan islamofobia? Dan bukannya juga sudah jelas, dengan demikian, bahwa tugas penting Muslim hari ini adalah mengembalikan marwah Islam sebagai agama damai dan moderat?

Dalam konteks itulah kontra-terorisme menemukan relevansinya. Kontra-terorisme bukanlah upaya melawan Islam, melainkan menyelamatkan Islam dari eksploitasi para teroris. Termasuk dari kontra-terorisme juga ialah melawan semua anasir di dalam kelompok teror itu sendiri, seperti bagaimana mereka mempropagandakan khilafah, daulah, dan kejayaan Islam. Ingin membuat Islam berjaya tetapi melalui jalan teror adalah naif. Yang ada malah islamofobia semakin menjadi-jadi.

Urgensitas Kontra-Terorisme

Harus diakui, di Indonesia, kontra-terorisme sangat masif. Mulai dari deteksi dini hingga penanggulangan, mulai dari penanaman moderasi beragama hingga deradikalisasi, dan mulai dari soft approach hingga hard approach sudah ditempuh dengan melibatkan kementerian/lembaga hingga civil society. Hasilnya pun lumayan efektif. Kelompok teror di negara ini tidak bisa bergerak. Organisasinya banyak dibubarkan dan orang-orangnya sudah banyak ditangkap.

Bisa dibilang bahwa terorisme di Indonesia tiarap ke tanah—tidak bisa bergerak sama sekali. Sampai di sini, keberhasilan dari totalitas tersebut wajib diapresiasi. Namun, sebagai respons atas kemasifan tersebut kontra-terorisme justru dituduh sebagai islamofobia, dan pelaku kontra-teror dianggap membenci Islam, Pada saat yang sama, mereka yang selama ini menebarkan propaganda daulah dan khilafah mengklaim diri sebagai pejuang Islam yang sejati.

Pemutarbalikan fakta ini sedang berlangsung. Terkini, Gerakan Nasional Anti Islamofobia (GNAI) adalah bukti yang sangat mencolok dari usaha memutarbalikkan fakta tersebut. Kontra-terorisme tengah berusaha dilemahkan dengan cara stigmatisasi: umat Islam berusaha dibuat untuk lebih percaya teroris daripada kontra-terorisme itu sendiri. Mereka, para radikalis dan para teroris, bikin Islam ditakuti dan benci karena terorisme. Setelah itu mereka teriak seolah ingin memberantas islamofobia? benar-benar manipulatif.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Mahasiswa SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru