25.6 C
Jakarta

Kualitas Ok, Kenapa Tulisan Masih Ditolak Media Online?

Artikel Trending

KhazanahLiterasiKualitas Ok, Kenapa Tulisan Masih Ditolak Media Online?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Menjadi penulis lepas merupakan karir yang menjanjikan. Tembus media bisa menjadi kebanggaan bagi penulis. Honornya pun lumayan. Hanya berbekal laptop, dapat bekerja dari mana dan kapan saja. Namun ternyata kualitas OK saja tidak cukup. Tidak sedikit penulis lepas yang merasa sudah membuat tulisan bagus namun tidak lolos kurasi media online. Kira-kira apa masalahnya?

Jika mengalami hal seperti ini, jangan patah semangat. Banyak yang sudah menulis ratusan kali, namun hanya beberapa saja yang publish. Semakin sering membuat tulisan, kemudian mengirimkannya ke media, kemungkinan untuk dimuat bertambah besar.

Ada yang berpikiran, bahwa dimuatnya suatu tulisan karena memang berjodoh dengan media tersebut. Jika tidak tidak berhasil publish, berarti bukan jodohnya. Penulis bisa mengirim ke media lain. Tidak jarang, setelah satu artikel publish, berikutnya lebih mudah untuk menembusnya. Ini beberapa hal yang sering membuat tulisan ditolak:

1. Tidak sesuai dengan visi dan misi media

Setiap media mempunyai segmen sendiri. Ada yang fokus pada anak muda, orang dewasa dan anak-anak. Jika isi tulisan tidak sesuai dengan segmen usia tersebut, maka sebagus apa pun, editor tak akan pernah meliriknya.

Begitu juga dengan visi dan misi media. Media yang mempunyai misi menyuguhkan informasi mengenai teknologi, tidak akan menerima tulisan dengan tema resep masakan. Karena itu, sebelum mengirim ke media online, pelajari apa misinya. Caranya bisa dengan membaca artikel yang sebelumnya sudah banyak tayang.

2. Banyak typo

Tulisannya sih ok, isinya berkualitas dan sarat informasi. Namun jika banyak typo atau salah penulisan, kemungkinan untuk terpilih sangat kecil. Bukankah ada editor? Tugas editor bukan untuk membenarkan tulisan kontributor yang berantakan.

Lebih baik memilih tulisan lain yang informatif dan sudah siap tayang karena minim typo. Cek kembali artikel sebelum mengirimkannya ke media. Caranya bisa dengan membacanya secara perlahan-lahan sambil memeriksa ejaannya. Kamu bisa menemukan jika ada salah ketik dan kata yang kurang pas.

Untuk mengecek typo dapat juga dengan menggunakan Google Doc. Copy artikel dan paste pada halaman Google Doc. Jika ada typo maka dibawahnya akan muncul garis merah sehingga memudahkan untuk pengecekan.

Google juga akan memberikan saran kata pengganti yang pas. Namun jangan seratus persen mengandalkannya. Bisa jadi yang dimaksud penulis berbeda dengan saran dari Google.

3. Tidak memenuhi ketentuan penulisan

Setiap media mempunyai ketentuan penulisan yang berbeda mengenai jenis huruf, ukuran dan spasi. Apabila tidak ada ketentuan khusus, bisa menulis dengan menggunakan aturan yang umum. Sebagai contoh jenis huruf Times New Roman, Arial atau Calibri dengan ukuran 12. Sedangkan untuk spasi bisa memilih 1,5.

BACA JUGA  Mewujudkan Literasi Ideal Melalui Critical Thinking

Jika media mensyaratkan jenis dan ukuran tertentu maka harus mengikutinya. Kesalahan ini menunjukkan bahwa penulis kurang profesional dan tidak mengindahkan ketentuan yang berlaku.

4. Penggunaan bahasa kurang pas

Gaya bahasa di media menentukan siapa target pembacanya. Media yang ditujukan untuk bahan bacaan orang dewasa tentu akan menggunakan gaya bahasa yang lebih sopan dan halus. Berbeda dengan yang ditujukan untuk remaja, bisa menggunakan ragam bahasa gaul dan trend.

Hal ini sangat penting untuk diketahui. Jangan sampai menggunakan sapaan atau kata-kata yang tidak sesuai. Artikel yang kamu kirim tidak akan pernah publish jika salah menggunakan ragam bahasa.

Memahami semua hal tentang media yang dituju sangat penting. Ibaratnya penulis akan menjadi bagian darinya, jadi harus paham dan kenal dengan baik. Bacalah beberapa artikel yang sudah dipublikasikan untuk mengetahui jenis yang paling sesuai sehingga kemungkinan tulisan dimuat lebih besar.

5. Jumlah kata atau karakter tidak sesuai

Media sudah meluangkan space dengan ukuran tertentu untuk setiap rubrik. Perhatikan ketentuan panjang pendek tulisan. Jika redaksi meminta 1000 kata, tulislah artikel dengan jumlah di atasnya, namun jangan terlalu banyak untuk antisipasi jika dalam proses pengeditan ada yang harus di cut.

Kamu tidak perlu perlu menghitung secara manual, cukup aktifkan fitur yang ada di word. Caranya dengan membuka sheet word, kemudian buka tab Review yang ada di bagian atas. Selanjutnya pilih opsi word count yang ada di sub menu proofing. Jumlah kata dan karakter akan muncul.

6. Ilustrasi kurang mendukung

Untuk mempermanis tampilan tulisan dan memperkuat pesan , biasanya media akan menampilkan gambar yang sesuai. Jika media mensyaratkan gambar pada kontributor, pilihlah yang paling sesuai.

Jangan sampai gambar yang kamu gunakan justru bertentangan dengan isi tulisan. Pemilihan gambar yang pas akan menambah nilai plus tulisan di mata editor sehingga memilihnya.

Kamu bisa menggunakan gambar milik sendiri, seperti foto pribadi atau mengambil dari situs free. Beberapa website yang menyediakan gambar secara gratis untuk digunakan adalah pixabay, pexels dan unsplash.

Dalam pemilihan gambar hal lain yang perlu mendapat perhatian juga adalah ukurannya. Semakin besar, kualitasnya bertambah bagus, namun media mempunyai keterbatasan, jadi sesuaikan ukuran gambar dalam lampiran.

Setelah mengetahui beberapa hal yang menyebabkan media online menolak tulisanmu, kini saatnya menulis, memperhatikan poin tersebut dan mengirimkannya. Begitu publish, pasti bakal ketagihan untuk terus menulis karena memang kegiatan yang menyenangkan dan dapat menghasilkan uang.

Isna Nur Isnaini
Isna Nur Isnaini
Ibu dua anak cowok yang menyukai dunia tulis menulis dan aktif sebagai kontributor di beberapa web. Setelah resign dari lembaga keuangan lebih banyak mengisi waktu dengan menemani anak-anak sambil menulis dan membuat tas rajut. FB: Isna Nur Isnaini; Instagram @Isna_Nurisnaini.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru