26.5 C
Jakarta

Islam Jawa Tak Disebarkan Melalui Ekstremisme

Artikel Trending

KhazanahResensi BukuIslam Jawa Tak Disebarkan Melalui Ekstremisme
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF
Judul Buku: Sejarah Lengkap Islam Jawa, Penulis: Husnul Hakim, Penerbit: Laksana, Cetakan: I, 2022, Tebal: 174 halaman, ISBN: 978-623-327-247-6, Peresensi: Sam Edy Yuswanto.

Harakatuna.com – Membaca buku-buku tentang sejarah termasuk hal penting yang tak boleh diabaikan. Khususnya oleh para generasi muda penerus perjuangan bangsa. Sejarah di sini meliputi sejarah kemerdekaan negara Indonesia, sejarah tentang agama Islam, dan lain sebagainya.

Buku berjudul “Sejarah Lengkap Islam Jawa” karya Husnul Hakim misalnya. Buku ini termasuk salah satu buku yang membahas perihal sejarah masuknya Islam di tanah Jawa yang mestinya dibaca oleh berbagai kalangan, baik kalangan muda maupun tua.

Dalam kata pengantar buku terbitan Laksana (2022) ini, Husnul Hakim mengungkapkan, nilai-nilai tradisi pada tubuh masyarakat Islam tak dipungkiri perlahan-lahan mulai memudar. Sebaliknya, praktik keislaman seolah-olah dipaksa untuk selalu sesuai dengan teks induk, al-Qur’an dan hadits, tanpa melihat konteks sosial budaya di mana Islam itu bertumbuh kembang. Akibatnya, tuduhan “bid’ah” bagi masyarakat Islam yang menjalankan praktik keislaman dengan menyesuaikan tradisi dan budaya yang ada kerap muncul di sekitar kita.

Dalam buku tersebut diuraikan bahwa Islam di Jawa tidak dapat dipisahkan dari budaya Jawa itu sendiri. Ibarat kata, Islam di Jawa memiliki konsep keberagaman sekaligus budaya dalam satu napas. Konsep ini tentu baik untuk dilestarikan. Sebab, dengan begitu, semangat nilai-nilai budaya dalam masyarakat tidak akan hilang dengan adanya Islam, bahkan pola Islam yang rahmatan lil ‘alamin akan menemukan wajahnya di tengah-tengah masyarakat.

Menurut Agus Sunyoto (dalam ‘Atlas Wali Songo’), Islam sudah masuk ke Nusantara sejak pertengahan abad ke-7 M. Data ini didasarkan pada karya P. Wheatley dalam ‘The Golden Kersonese: Studies in the Historical Geography of the Malay Peninsula Before A.D. 1500’ yang menyatakan bahwa pada abad ke-7, saudagar Arab (tazhi) sudah melakukan jalinan perdagangan dengan Kerajaan Kalingga (wilayahnya kini terletak di pantai utara Jawa Tengah, membentang dari Pekalongan hingga Jepara) dengan rajanya yang terkenal keras dalam menjalankan hukum, Rani Simha (Ratu Shima). Namun, di samping berdagang, mereka juga menyelipi misi seruan Islam (halaman 12).

Saya yakin, ketika dakwah dilakukan dengan menggunakan cara-cara kekerasan dan jauh dari kesantunan, tentu akan sulit diterima oleh kalangan masyarakat luas. Terlebih mereka, para warga yang masing abangan, yang belum banyak tahu-menahu tentang ajaran agama dengan baik dan benar.

Dakwah yang terlalu kaku dan keras juga pernah dilakukan oleh Sunan Bonang dan bisa dikatakan tak begitu berhasil. Menurut Babad Daha, dakwah Sunan Bonang pertama kali, yaitu di Kediri, menggunakan cara-cara kekerasan. Ia merusak arca-arca yang disembah oleh penduduk.

Ia juga, dengan kesaktiannya yang tinggi, mengubah aliran Sungai Brantas, mengutuk dan membuat wilayah-wilayah yang menentang Islam menjadi kekeringan atau kebanjiran. Ia mendirikan langgar di tepi barat Sungai Brantas, tepatnya di Desa Singkal (sekarang masuk wilayah Nganjuk).

Oleh karenanya, banyak tokoh penganut Tantra-Bhairawa yang menantang kesaktiannya, seperti Buto Locaya dan Nyai Pluncing. Keduanya dikalahkan dengan mudah oleh Sunan Bonang (halaman 94).

Pendekatan konflik dan kekerasan membuat dakwah Sunan Bonang di Kediri tidak menuai banyak hasil. Menurut Hikayat Hasanuddin, ia pindah ke Demak atas permintaan Sultan Demak Bintara, Raden Patah, yang juga kakak iparnya. Ia diangkat menjadi imam Masjid Demak, dan bertempat tinggal di Desa Bonang, Demak.

Di sana, ia menjalankan dakwah dengan lemah-lembut—belajar dari dakwah kerasnya di Kediri yang justru mengalami kegagalan. Dengan dakwah yang lemah-lembut itu, ia diterima secara luas oleh masyarakat. Sehingga, ia dikenal dengan sebutan “Sunan Bonang” (halaman 95).  

Melalui buku ‘Sejarah Lengkap Islam Jawa’ ini, Husnul Hakim berupaya mencoba mengeksplorasi kembali relasi Islam dan Jawa di awal kedatangannya pada ratusan tahun yang lalu. Harapannya, buku ini menjadi pengingat bagi saudara-saudara muslim di Indonesia yang sudah mulai melupakan sejarah penting itu.

Sam Edy Yuswanto
Sam Edy Yuswanto
Bermukim di Kebumen, tulisannya dalam berbagai genre tersebar di berbagai media, lokal hingga nasional, antara lain: Koran Sindo, Jawa Pos, Republika, Kompas Anak, Jateng Pos, Radar Banyumas, Merapi, Minggu Pagi, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, dll.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru