27.7 C
Jakarta

Fanatisme yang Berujung Bunuh Diri

Artikel Trending

KhazanahTelaahFanatisme yang Berujung Bunuh Diri
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com-Ramai sebuah video perempuan dengan jilbab panjang warna hitam, mengendarai motor dan menabrakkan diri ke pintu kaca SPKT Mako Polres Pematangsiantar Jl. Jend. Sudirman No. 8, Kel. Proklamasi, Kec. Siantar Barat, Kota Pematangsiantar.

Di twitter, video dengan durasi kurang lebih 42 detik itu menerima banyak sorotan. Pelbagai komentar muncul dari banyak kalangan. Termasuk pembahasan tentang kisah masa hidupnya, majelis yang diikuti, dan pelbagai kepada spekulasi serta alasan, mengapa perempuan tersebut berusaha bunuh diri dan orang lain.

Perempuan itu bernama Fitri Arni Martondang. Usut punya usut, ternyata ia melakukan aksi frontal itu lantaran sakit hati akibat penangkapan yang dilakukan oleh polisi kepada Habib Rizieq Shihab serta kasus KM50 yang ia rasa tidak adil kepada korban, yakni laskar FPI.

Rasa suka membuat buta

Kita bisa memahami bagaimana ketika seseorang yang kita sukai, kemudian dilukai oleh orang lain. Apalagi jika ia adalah guru agama yang selama ini menjadi panutan untuk melaksanakan ibadah. Namun, sangat tidak adil ketika kita tidak memberi ruang untuk akal dan pikiran bahwa, ternyata orang tersebut memiliki cacat di mata hukum.

Rizieq Shihab, yang diakui sebagai imam besar adalah manusia biasa. Ia tidak lebih dari sekedar pemimpin FPI (Front Pembela Islam) yang sudah dibubarkan. Julukan imam besar hanyalah untuk kaumnya saja, tidak lebih dari itu.

Jika kita telaah lebih jauh, sejauh ini, banyak kasus yang menjerat dirinya, yakni: kasus kerumunan petamburan, chat mesum, dugaan penghinaan Pancasila, serta insiden Monas pada tahun 2008 silam yang membuatnya dipenjara selama 1.5 tahun.

Sampai disini, bukankah sudah banyak kasus Rizieq yang sudah dilakukan. lalu mengapa masih banyak orang yang tetap mendukung Rizieq Shihab sebagai imam besar?  Jika melihat dari perkembangan teknologi, pada saat ini kita sedang di era post truth (pasca kebenaran).

Di era post truth, kita lebih memilih kebenaran versi orang yang kita sukai. Dalam kasus ini, ketika Habib Rizieq mengatakan bahwa jihad adalah melawan pemerintah yang sah, maka orang-orang yang menyukai Habib Rizieq juga bersorak demikian.

BACA JUGA  Mengutuk Kekerasan, Memberantas Radikal: Seperti Apa Masa Depan Demokrasi Indonesia?

Fenomena fanatisme ini bukanlah hal baru dalam pola keberagamaan masyarakat. Hanafi  (2018) dalam tulisannya menjelaskan bahwa fanatisme keberagamaan terjadi karena perbedaan keyakinan dalam upaya memenangkan control terdahap defines kebenaran dalam beragama.

Artinya, ketika kita menyukai seseorang atas pola keberagaman yang dibawa, maka kita lantas menyebutkan kebenaran. Sehingga pola keberagamaan yang ditampilkan oleh orang lain dipandang salah. Dengan demikian, fanatisme semacam itu menyebabkan kerusakan.

Alasan mengapa orang fanatik

Aksi gila yang dilakukan oleh Fitri tersebut sangatlah tidak etis. Lebih jauh, kita berpikir bahwa polanya seperti bom bunuh diri, meskipun tidak menggunakan bahan peledak. Dalam menyikapi hal tersebut, kiranya perlu kita pahami bahwa ada beberapa hal yang menyebabkan Fitri memiliki pandangan demikian, diantaranya:

Pertama, kurangnya literasi agama. Literasi agama sangat penting untuk dimiliki oleh kita semua sebagai manusia yang beragama. Pemahaman dari berbagai sumber, perlu kita pelajari untuk membandingkan pelbagai pandangan yang dikemukakan oleh para ulama. Sehingga dengan meningkatkan literasi agama, seseorang tidak mudah ikut menghakimi pemahaman agama yang lain.

Kedua, tidak open minded. Kebalikan dari sikap ini adalah close minded. Sikap open minded ini penting untuk dimiliki oleh kita dalam melihat banyak sekali pemahaman agama yang ada di Indonesia. Dengan demikian, ketika kita adalah orang yang open minded, maka akan selalu terbuka untuk belajar kepada siapapun dan pandangan apapun.

Ketiga, kurangnya literasi informasi dan digital. Di era saat ini, semua informasi bis akita akses melalui digital. Dengan akses yang begitu mudah, kita bisa memahami bahwa, ada banyak sekali informasi yang tidak kredibel, hoaks, serta provokatif yang membuat pemahaman kita menjadi gaduh.

Pentingnya literasi digital dan informasi membuat kita memahami untuk memilah segala berita yang bisa kita baca. Dengan demikian, informasi yang kita dapatkan bisa dipertanggung jawabkan.

Apa yang dilakukan oleh Fitri adalah tanggung jawab kita bersama bahwa, fanatisme merupakan sesuatu yang wajib kita perangi. Sebab hal itu tidak hanya membahayakan diri sendiri, akan tetapi kepada orang lain. Wallahu a’lam

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru