28.9 C
Jakarta

Berikut Proses Kreatif Para Penulis Sukses yang Harus Kita Ikuti

Artikel Trending

KhazanahLiterasiBerikut Proses Kreatif Para Penulis Sukses yang Harus Kita Ikuti
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.comTelah menjadi perkara ghalib bahwa kita ada sebab ada yang mengadakan. Kita hidup karena ada yang menghidupkan. Kita terlahir ke dunia lantaran ada yang melahirkan. Demikian pula dalam dunia kepenulisan, kita bisa menulis disebabkan banyak membaca tulisan para penulis yang kemudian mengendap dalam ingatan, lalu kita tumpahkan pula lewat tulisan.

Untuk bisa menulis memang butuh bahan bacaan sebagai amunisi. Bagaimana hendak menulis jika tak punya keterampilan menulis akibat malas baca? Dengan ini berarti, menulis dan membaca adalah pekerjaan yang menjadi satu kesatuan serta tak dapat dipisahkan. Keduanya harus berjalan beriringan. Balance. Menulis tanpa membaca, “buta”. Membaca tanpa menulis, “lumpuh”. Jika kita tak ingin “buta” dan “lumpuh”, maka selayaknya kita jangan meninggalkan aktivitas membaca dan menulis.

Beberapa penulis ternama telah banyak membuka peluang belajar untuk “para tunas” agar menjadi peserta didik. Dari yang gratis sampai berbayar sekian setiap bulan. Dibimbing dengan betul-betul intens, agar penulis-penulis muda berkompeten terus terlahir setiap masa. Tak jarang para guru mereka menginstruksikan untuk banyak membaca karyanya, terus meniru model tulisannya. Metode ini banyak ditempuh guru kepenulisan sebagai pondasi pembiasaan menulis para peserta didik sebelum menemukan gaya dan karakter mereka sendiri.

Terdapat juga penulis yang autodidak. Ia terlahir menjadi penulis tanpa bimbingan guru atau mentor. Waktu senggangnya ia habiskan di ruang perpustakaan atau di meja belajar. Meski demikian, ia tak bisa lepas dari jasa penulis buku yang ia telaah. Sejatinya ia tetap belajar dan dalam bimbingan guru dari buku yang ia baca kendati tidak face to face.

Sebagai bekal autodidak, kita terkadang secara langsung belajar format sajian dan desain para penulis pada “tulisan jadi” mereka dari buku yang kita baca. Artinya kita langsung belajar menulis dari wujud karya mereka. Ada kalanya kita juga belajar dari proses kreatif mereka. Belajar trik dan jurus jitu sehingga mampu menelurkan karya terbaik, tembus media dan meraih juara.

Betapa penting untuk kita ketahui proses kreatif para penulis sukses sebagai tambahan ilmu, pengalaman dan pelecut semangat agar menulis tetap menjadi panggilan jiwa. Mari simak dengan saksama proses kreatif mereka satu persatu!

  1. Ahmad Mustofa Bisri

Ahmad Mustofa Bisri yang sering dikenal Gus Mus lahir di Rembang, 10 Agustus 1944.  Sajak dan cerpennya tersebar di Kompas, Tempo, Media Indonesia, Jawa Pos, Republika, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Amanah, Aula, Ummat, Intisari dan lain sebagainya. Gus Mus mendapat penghargaan Anugerah Sastra Asia dari Majelis Sastra Malaysia tahun 2005 dan Bintang Budaya Parama Dharma dari Presiden Indonesia tahun 2015.

Tulisan-tulisan Gus Mus yang dinilai menyejukkan serta mendamaikan hati itu melalui proses perenungan untuk menangkap inspirasi. Terkadang pula melalui observasi kehidupan di masyarakat. Dilanjutkan dengan pengendapan inspirasi, menuliskan, mereview, lalu mempublikasikan.

  1. Emha Ainun Nadjib

Muhammad Ainun Nadjib atau yang biasa dipanggil Cak Nun, lahir di Jombang tanggal 27 Mei 1953. Ia adalah seorang tokoh intelektual muslim Indonesia yang sering menyampaikan gagasan pemikirannya dalam bentuk puisi, cerpen, esai, ceramah, seminar dan lagu. Karya-karya Cak Nun berupa 17 buku puisi, 48 buku esai, 2 buku cerpen, 16 naskah drama dan 18 album shalawat. Tahun 1991 menerima penghargaan Anugerah Adam Malik di Bidang Kesusastraan, penghargaan Satyalancana Kebudayaan tahun 2010, dan HIPIIS Social Sciences Award tahun 2017.

BACA JUGA  Banyak Followers, Haruskah Itu Menjadi Syarat Seorang Penulis?

Jika ditilik dari proses kreatif Cak Nun, dalam setiap tulisannya tak lepas dari riset. Riset termasuk tahap yang cukup penting, sebab tujuan riset tak hanya untuk mengetahui gagasan secara detail, tetapi juga untuk mempertajam pendapat yang diutarakan. Pentingnya riset itulah yang menjadi rahasia produktivitas Cak Nun dalam menuliskan berbagai perspektifnya.

  1. Sujiwo Tejo

Agus Hadi Sudjiwo biasa dikenal Sujiwo Tejo lahir di Jember, 31 Agustus 1962. Selain seorang aktor, pemusik dan budayawan Indonesia, Mbah Tejo juga seorang penulis. Sejak tahun 2001 hingga tahun 2020 sudah 22 buku terlahir dari buah pemikirannya.

Dalam upaya menumbuhkan kreativitas, Mbah Tejo bagi-bagi tiga tips. Pertama, kemampuan melihat esensi. Dengan memahami esensi, maka bisa muncul aneka ide-ide kreatif. Kedua, memiliki obsesi, gunanya mengolah data di era informasi yang secepat ini. Ketiga, memilah pergaulan. Kalau kita bergaul dengan orang yang memiliki kreativitas, maka kita pun akan ikut tertular.

  1. Habiburrahman El Shirazy

Habiburrahman El Shirazy atau biasa dipanggil Kang Abik lahir di Semarang, 30 September 1976. Selain novelis, ia juga dikenal sebagai penyair, sastrawan, dai, sutradara dan pimpinan pesantren. Karya-karyanya yang terkenal adalah Ayat-Ayat Cinta, Di Atas Sajadah Cinta, Dalam Mihrab Cinta, Pudarnya Pesona Cleopatra, Ketika Cinta Bertasbih, Bumi Cinta, Api Tauhid dan Bidadari Bermata Bening.

Proses kreatif kepenulisan Kang Abik bersumber dari intuisi atau firasat. Intuisi memang tidak dapat diukur sebab sifatnya sangat subjektif, namun menurut Kang Abik setiap penulis memiliki karakter intuisi yang khas, yang membuat penulis tersebut menjadi otentik.

Seluruh novel Kang Abik lahir dari proses aktualisasi kecintaannya pada ilmu pengetahuan dan kehidupan. Inspirasi cinta itu ia peroleh saat menjadi santri di Pondok Pesantren Futuhiyah Mranggen Demak, kemudian diperdalam dengan pendalaman tradisi literasi Islam di Universitas Al-Azhar Kairo.

  1. Putu Wijaya

I Gusti Ngurah Putu Wijaya yang sering dikenal Putu Wijaya lahir di Tabanan Bali, tanggal 11 April 1944. Ia menulis 30 novel, 40 naskah drama, sekitar seribu cerpen, ratusan esai, dan kritik sastra. Cerita pendeknya dimuat di Kompas, Sinar Harapan, Kartini, Femina, Horison, Suara Merdeka dan Jawa Pos. Ia pernah mendapat penghargaan SEA Write Award dari Kerajaan Thailand,  tiga Piala Citra untuk skenario dalam FFI dan Anugerah Seni dari pemerintah RI.

Ia mengakui bahwa sumber inspirasi karyanya berasal dari kisah nyata, walau kisah nyata tersebut awalnya sebagai pemicu. Ketika menulis Putu membiarkan imajinasinya mengalir apa adanya.

Beda penulis, beda kepala. Beda kepala, beda kreativitas. Warna-warni proses kreatif dalam menulis merupakan rahmat yang harus tetap dijunjung hormat.

Sekarang tinggal urusan kita, proses kreatif siapa yang mau ditaklid? Terserah! Jika masih bingung, cari tempat sepi! Tundukkan kepala, lalu tanyakan pada diri masing-masing! Hendak ikut siapa, atau tidak ikut siapa-siapa? ***

Fathorrozi, M.Pd
Pegiat literasi dan pengasuh Qarnul Islam Ledokombo Jember

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru