25.1 C
Jakarta

Begini Caranya agar Bangsa ini “Merdeka” dari Penjajahan Radikalisme

Artikel Trending

Islam dan Timur TengahIslam dan KebangsaanBegini Caranya agar Bangsa ini “Merdeka” dari Penjajahan Radikalisme
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Kemerdekaan bangsa Indonesia penjajahan ideologis justru lebih penting direfleksikan menjelang Hari Kemerdekaan RI di bulan Agustus ini. Bangsa yang pada tempo dulu telah dinyatakan merdeka dari penjajahan fisik, kini dihadapkan dengan penjajahan paham radikal.

Paham radikal akhir-akhir ini telah memasuki ruang pemerintahan sebagai tameng eksistensi suatu negara dan pesantren sebagai cerminan negara. Tatanan pemerintahan ada beberapa yang terlibat dalam penegakan Khilafah sebagai bagian dari paham radikal.

Di pesantren pun ada banyak santri (orang yang tinggal dan belajar di sana) diajarkan ajaran agama yang tertutup. Ini tidak mengeneralisir pesantren secara keseluruhan. Pesantren yang dimaksud adalah pesantren yang belum terbuka dengan kebhinekaan dan tidak ajarkan paham kebangsaan.

Pesantren yang diharapkan menjadi cerminan bangsa nyatanya terjebak dalam paham radikal yang membahayakan. Biasanya pesantren semacam ini tidak terbuka dengan sistem pemerintahan yang pluralis. Pesantren ini lebih egois mengkampanyekan tegaknya islamisasi di tengah bangsa yang beragam, baik pemikiran maupun keyakinan.

Refleksi menjelang kemerdekaan ini jauh lebih penting dibandingkan menyambut kemerdekaan dengan keramaian yang diwarnai dengan pawai dan pertunjukan. Memang tidak ada yang terlarang dari kegiatan pawai dan pertunjukan itu. Tapi, alangkah lebih baiknya jika momen refleksi dilibatkan dalam kegiatan hiburan itu.

Pentingnya refleksi ini sebenarnya telah dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. dalam menyongsong kemerdekaan tanah airnya Mekkah dari penjajahan ideologi jahiliyah. Refleksi dilakukan Nabi di suatu gua yang cukup sunyi dan petang. Di sana hanya beliau dan Tuhan ada ada. Refleksi Nabi membuahkan prestasi yang cukup membanggakan, yaitu kemerdekaan Mekkah.

BACA JUGA  Pembelaan Kelompok Separatis di Tengah Isu Penggelapan Dana ACT

Kebiasaan Nabi dalam melakukan refleksi kemudian banyak diikuti oleh para ulama. Sebut saja, Imam Al-Ghazali yang melakukan pengembaraan spiritualnya ke suatu perantauan sehingga dia meraih prestasi kebenaran hakiki yang dicarinya. Bukan hanya itu, Al-Ghazali mampu mengarang kitab yang cukup populer yaitu kitab Ihya’ Ulum al-Din.

Jauh setelah Al-Ghazali, ada seorang ulama Nusantara Buya Hamka. Hamka selain dikenal sastrawan juga dikenal sebagai ulama yang berhasil menulis Tafsir Al-Azhar. Tafsir Al-Qur’an yang cukup tebal ini diselesaikan secara tuntas di penjara sebagai tempat yang cukup tepat mengantarkan Hamka refleksi. Karya monumental ini banyak dibaca dan diteliti sampai detik ini.

Tak jauh dari masa Hamka, seorang tokoh tafsir Nusantara Prof. Quraish Shihab berhasil mengarang tafsir Al-Qur’an yang berjudul Tafsir Al-Mishbah. Quraish Shihab mengaku bahwa tafsir ini mampu diselesaikan setelah melakukan pengasingan diri dari keramaian dan dia hanya fokus menulis dan menulis. Dia tentu memiliki banyak waktu untuk merefleksikan kandungan ayat-ayat Al-Qur’an yang cukup luas ini.

Sebenarnya banyak karya tafsir Nusantara yang ditulis sebagai langkah untuk memerdekakan diri dari penjajahan radikalisme. Saya uraikan dua kitab tafsir tersebut, karena kitab tafsir ini yang lebih banyak dikenal masyarakat dan menghidangkan pemikiran-pemikiran yang moderat bukan radikal.

Sebagai penutup, menjelang kemerdekaan momen refleksi hendaknya diutamakan dibanding kegiatan hiburan yang cukup semarak. Karena, refleksi ini dapat mengantarkan bangsa ini pada kemerdekaan yang sesungguhnya.[] Shallallah ala Muhammad.

Khalilullah
Khalilullah
Penulis kadang menjadi pengarang buku-buku keislaman, kadang menjadi pembicara di beberapa seminar nasional

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru