30.3 C
Jakarta

411 dan 212: Matinya Politik Populisme dan Manipulator Agama

Artikel Trending

EditorialIndonesia411 dan 212: Matinya Politik Populisme dan Manipulator Agama
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Tahun 2016 dan 2017 silam, sebuah kasus penistaan Islam berhasil memobilisasi massa besar-besaran. Sang orator andal, Habib Rizieq Shihab, disokong oleh organisasi oportunis seperti GNPF-MUI, FUI, hingga PA212, dan tentu FPI sebagai organisasinya sendiri, berhasil mendorong puluhan ribu umat Islam untuk datang ke Monas, Jakarta Pusat, untuk melakukan Aksi Bela Islam. Demonstrasi besar tersebut terjadi tujuh kali, mulai dari yang damai sampai anarkis. Saat itu, politik populisme ada di puncaknya.

Tahun-tahun berikutnya, aksi damai ke Jakarta terus digelar. Namun, massanya tidak sebanyak di tahun pertama. Faktornya mungkin karena Habib Rizieq, pada 2018-2020, sudah tidak di Indonesia. Ia tersandung sejumlah kasus lalu hijrah ke Arab Saudi.

Di Indonesia sendiri, 212 sudah jadi simbol perlawanan. Beberapa aksi digelar, dan PA 212 bahkan melebarkan sayapnya ke bidang bisnis dengan label syariah. Tahun-tahun itu, syariatisasi dan label-label Islam laku begitu kerasnya.

Sejak setengah dekade lalu, politik populisme hidup semarak, umat Islam dari kalangan FPI dan sejenisnya berjaya memobilisasi massa, menggiring mereka untuk ke Jakarta, sekalipun tujuannya ada yang hanya untuk jalan-jalan belaka.

Menggertak dengan jumlah massa yang diklaim puluhan juta, padahal puluhan ribu, dengan mudah sekali. Mereka memanipulasi agama seolah tertindas, maka lahirlah narasi “penistaan Islam”, “penistaan Nabi”, “penistaan Tuhan”, dan “penistaan Al-Qur’an”.

Tetapi itu dulu, sebelum umat Islam semakin cerdas bahwa suara mereka hanya dimanfaatkan untuk tujuan politik pragmatis. Itu dulu, sebelum pemerintah dan para civil society gencar melakukan deradikalisasi dan kontra-narasi radikalisme dan terorisme.

Setelah seminar-seminar tentang bahaya islamisme banyak digelar, dan umat mulai paham apa itu politik populisme, tren ke Monas itu berangsur tidak laku. “Aksi Bela-bela” itu jadi sepi peminat dan tak seberisik dulu.

Buktinya, aksinya yang terbaru pada Jum’at (4/11) kemarin, yang mereka sebut sebagai Aksi 411. Dari yang awalnya konon akan dihadiri jutaan umat Islam dari seluruh penjuru, ternyata yang hadir hanya segelintir orang saja.

Tidak hanya itu, demonstrasi yang menuntut Jokowi mundur karena dugaan ijazah palsu itu justru tidak ramai seperti lima tahun silam—bahkan terkesan tidak jelas. Jokowi pun, alih-alih menemui para demonstran, justru pergi kunjungan kerja ke Mojokerto. Aksi itu benar-benar apes.

BACA JUGA  Tugas Negara tentang HTI di Lapas dan Rutan

Meski begitu, para demonstran tidak juga menyerah. Sekretaris Dewan Syuro Persaudaraan Alumni (PA) 212, Slamet Maarif mengatakan, pihaknya berencana menggelar kembali Reuni Aksi 212 di depan Istana Negara Jakarta, pada Jumat (2/12), awal bulan depan.

Namanya Aksi 212, dan harinya juga terjadi pada Jum’at, seperti Aksi 411 di kawasan Patung Kuda Arjunawiwaha kemarin. Selain itu, tuntutan aksi tersebut disinyalir sama, yaitu menuntut Presiden Jokowi mundur dari jabatannya sebelum Pilpres 2024.

“Insyaallah, Reuni Aksi 212 di depan Istana Negara Jakarta. Jokowi gagal dalam menjalankan pemerintahan. Tuntutannya (Reuni Aksi 212, red.) mundurlah Jokowi,” kata Slamet, Sabtu (5/11) kemarin, seperti dilansir CNN Indonesia.

Akankah aksi bulan depan semeriah yang lalu-lalu? Jawabannya adalah: tidak. Umat Islam di Indonesia sudah paham dengan permainan politik populisme, yang memanfaatkan suara umat Islam demi kepentingan elite kelompoknya.

Slamet Maarif selalu tampil ke publik sebagai kritikus rezim tujuannya dua; jika tidak berhasil menduduki kursi pemerintahan, minimal ia bersama elite populis lainnya berhasil mendapat suplai dana dari para oposisi yang sering kali disebut sebagai “bohir” mereka.

Belum lagi, Habib Rizieq Shihab hari ini tidak seaktif dulu. PA 212 tidak lebih dari sekumpulan politikus populis. Manipulasi mereka terhadap agama, terhadap Al-Qur’an, dan tehadap Nabi, sudah tidak lagi laku. Politik populisme sudah mati dan manipulator agama sudah ditinggalkan oleh umat Islam.

Seberapa kali pun reuni digelar setiap tahun, tidak akan ada dampak signifikan. Mentok hanya sebagai acara kumpul-kumpul dan teriak-teriak  di Monas atau Istana Merdeka yang pulangnya dapat nasi bungkus.

Satu sisi, Indonesia harus bersyukur dengan tidak lakunya simbol 411 dan 212, yang mengindikasikan matinya politik populisme dan manipulator agama. Tetapi tidak perlu euforia, karena para manipulator agama bisa jadi akan melakukan cara-cara lainnya untuk menggaet suara umat Islam.

Dengan kata lain, ancaman akan terus mengintai Indonesia. Faktanya, 411 dan 212 hanya dari satu aktor, yaitu FPI dan kroninya. Dan politik populisme dan manipulasi agama bisa dilakukan kelompok-kelompok lainnya. Waspada.

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru