33.7 C
Jakarta

Ustaz Felix: Simbol Murtad Massal Aktivis Khilafah Menjelang Pemilu 2024

Artikel Trending

Milenial IslamUstaz Felix: Simbol Murtad Massal Aktivis Khilafah Menjelang Pemilu 2024
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Lebih dari dua ratus dua puluh ribu orang telah menonton video podcast salah satu ideolog Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Ustaz Felix Siauw, di kanal YouTube miliknya dengan judul “Semisal Panduan Memilih di Tahun 2024” yang tayang dua minggu lalu. Judul fantastis tersebut jelas menarik penonton karena mengherankan: bagaimana mungkin HTI mau ikut Pemilu. Apakah para aktivis khilafah itu hendak melakukan murtad massal?

Ustaz Felix harus diakui merupakan salah satu dedengkot HTI yang keren. Ia memiliki wawasan keilmuan yang luas dan digandrungi anak-anak muda. Kalau ia sudah bahas sejarah peradaban Islam, semua terkesima. Semua terhipnotis, tidak menyadari bahwa ia sedang mempropagandakan khilafah. Ketika tiba-tiba ia membahas Pemilu, jelas orang-orang bertanya: kok bisa Ustaz Felix pro-demokrasi?

Dalam podcast kemarin, Ustaz Felix menyampaikan banyak hal. Kriteria pemimpin, pemimpin ideal dalam Islam, sistem pemerintahan yang bagus, hingga beberapa kali nyelepet para Capres-Cawapres dalam Pemilu 2024 mendatang. Tidak ia sebutkan secara eksplisit siapa yang ia dukung nanti, namun beberapa uraiannya menyimpulkan kemungkinan-kemungkinan. Yang jelas, ustaz kayaknya mau ikut nyoblos.

Pertanyaannya, memang HTI berkenan nyoblos? Bukankah setiap Pemilu mereka golput karena menganggap demokrasi sebagai sistem thaghut? Jika Ustaz Felix benar-benar nyoblos, ia akan diikuti oleh para aktivis khilafah yang lain. Jika itu yang terjadi, maka akan terjadi penyelewengan massal dari doktrin prinsipil HTI. Itu sama halnya dengan mereka, para aktivis khilafah, melakukan murtad massal.

Murtad di sini maksudnya adalah keluar dari HTI. Tapi jika itu benar dilakukan. Dan hukumnya tidak apa-apa, justru bisa jadi kabar baik karena artinya para aktivis khilafah telah mendukung sistem pemerintahan yang ada. Ustaz Felix, melalui podcast tersebut, menyimbolisasi diri sebagai pencetus murtad massal aktivis khilafah. Namun yang perlu diwaspadai, bagaimana jika itu semua ternyata hanyalah propaganda?

Propaganda Jenis Baru

Dalam video, obrolan Ustaz Felix dengan rekannya menyoroti banyak hal. Salah satunya, dan paling sering disebut, ialah kata “sistem”. Sistem kepemimpinan, menurutnya, akan membuat seseorang atau kelompok memiliki tiga privilese, yaitu access, asset, dan authority. Dari ketiga privilese ini, seorang pemimpin punya kontrol besar atas lingkungan, sumber daya, dan keputusan untuk masyarakat yang mereka pimpin.

Privilese akses (access) merujuk pada kemampuan seseorang atau kelompok untuk memperoleh informasi, sumber daya, atau kendali yang mungkin tidak bisa diakses orang lain. Dalam konteks Pemilu 2024, akses kepemimpinan dapat mencakup akses terhadap informasi strategis, jaringan yang luas, atau keputusan-keputusan kunci yang dapat memengaruhi jalannya negara: Indonesia.

Sementara itu, privilese aset (asset) mengacu pada hak atau kontrol atas kekayaan, sumber daya, atau nilai-nilai ekonomi yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok kepemimpinan. Ini bisa termasuk kepemilikan atas harta benda, dana, atau infrastruktur yang memberikan kekuatan atau pengaruh signifikan dalam pengambilan keputusan atau implementasi kebijakan. Aset inilah sumber kekuatan (power) pemimpin.

BACA JUGA  Wahabi dan Ba’asyir; Propaganda Polarisasi Umat yang Harus Diwaspadai

Adapun privilese otoritas (authority) adalah wewenang pemimpin untuk mengambil keputusan, memberikan arahan, atau memerintah. Otoritas dapat bersumber dari struktur organisasi dan posisi formal-strategis dalam pemerintahan. Privilese ini memberi kontrol pengambilan keputusan dan implementasi kebijakan, serta memengaruhi tindakan dan perilaku orang lain dalam lingkup kepemimpinan mereka.

Oleh karena ketiga privilese tersebut, menurut Ustaz Felix dan kawannya, pemimpin yang mesti dipilih harus memenuhi beberapa kriteria, yaitu jujur, terpercaya, dan cerdas. Ia menganalogikan, sopir kapal jangan sampai dipilih dari sopir angkot, karena tidak sesuai. Begitu juga, sistem yang diterapkan mesti sesuai syariat, sehingga tidak hanya cocok jadi pemimpin Indonesia tapi pemimpin dunia.

Terdengar tidak asing, bukan? Jadi ujung-ujungnya adalah promosi sistem pemerintahan universal. Apa sistem yang dimaksud? Secara tidak langsung, Ustaz Felix lagi-lagi sedang mempromosikan khilafah. Pemilu 2024 sepertinya hanya menjadi kendaraan belaka—sebagai propaganda jenis baru yang tidak akan dipahami audiens. Artinya? Murtad massal yang disimbolisasi Ustaz Felix hanya gimik belaka.

Waspadalah dengan Aktivis Khilafah

Ada kabar baik dan kabar buruk di sini. Kabar baiknya adalah jika Ustaz Felix dan para aktivis khilafah lainnya benar-benar berkenan untuk ikut andil dalam Pemilu 2024. Pesta demokrasi itu milik rakyat untuk memilih pemimpin ideal demi Indonesia ke depan. Keterlibatan aktivis khilafah pada Pemilu 2024 memang menyalahi doktrin inti HTI yang menolak demokrasi, namun itu justru baik untuk Indonesia. Justru golput adalah langkah berkhianat.

Tetapi kabar buruknya adalah jika ternyata semua yang Ustaz Felix tampilkan dalam podcast tersebut tidak lebih dari propaganda khilafah, sebagaimana diuraikan sebelumnya. Bahwa yang ia lakukan adalah memperdaya masyarakat Muslim untuk membuat kriteria pemimpin dan jika tidak memenuhi, maka jangan memilih alias golput. Kriteria diperketat, yang artinya anjuran mencoblos juga dipersempit. Logis, bukan?

Bagaimana tidak, jika Ustaz Felix sebenarnya ingin bilang begini, “Inilah panduan memilih tahun 2024. Pilihlah yang sesuai syariat, yang bisa menjadi pemimpin dunia. Kriteria bla bla bla. Tapi kalau tidak ada yang memenuhi syarat, maka jangan memilih. Kita butuh pemimpin yang tidak liberal, sekuler, dan budak-budak kapitalis.”

Di situlah mewaspadai infiltrasi dan propaganda aktivis khilafah menjadi keniscayaan. Tidak dapat ditawar. Mereka selalu menyelipkan propaganda khilafah dan negara Islam pada setiap program dan konten-konten mereka.

Lalu bagaimana jika ternyata analisis ini tidak tepat? Tidak masalah. Waspada itu perlu. Jika ternyata Ustaz Felix dan para aktivis khilafah benar-benar ikut pesta demokrasi, maka mereka murtad massal. Dan jelas, itu kabar baik.Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Analis, Penulis

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru