25.2 C
Jakarta

Tidak Dikatakan Beriman, Orang Yang Suka Mencaci Maki

Artikel Trending

Sekarang ini keadaan ruang publik kita bisa dikhawatirkan mencemaskan, kalau tidak ingin dikatakan darurat. Bagaimana tidak sekarang ujaran kebencian, saling mencaci terjadi dimana-mana mengisi ruang publik kita. Bahkan yang tidak terpikirkan sama sekali dan tak pantas sekali adalah terjadi saling mencaci di acara peringatan Maulid Nabi Muhammad.

Padahal kita mengerti semua, acara peringatan Maulid Nabi Muhammad adalah acara yang sakral, acara untuk kembali mengingat perjuangan Rasulullah. Dan acara untuk kembali belajar dan meneladani akhlak Rasulullah.

Dalam analisisnya, mungkin menguatnya ujaran kebencian di ruang publik ini adalah karena getolnya kelompok radikal dan intoleran dalam bersuara di media sosial. Sementara itu kaum moderat yang jumlahnya mayoritas hanya sebagai Silent Majority, atau mayoritas yang diam. Padahal kita mengetahui juga jumlah kelompok radikal dan intoleran itu jumlahnya sangat kecil. Oleh karenanya isi ruang publik kita dengan ujaran santun nan menyejukkan.

Mencaci Bukanlah Ahlak Orang Yang Beriman.

Rasulullah Muhammad dalam hadisnya menyampaikan bahwasanya tidak dikatakan orang yang beriman, orang yang suka mencaci. Beliau bersabda

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الفَاحِشِ وَلَا البَذِيْءِ

Artinya: “Seorang Mukmin yang sempurna imannya bukanlah seorang yang suka mencaci, pelaknat, bukan pula orang yang berkata keji dan kotor” [HR Ahmad]

Dari hadis ini sangatlah jelas bahwa seorang yang beriman bukanlah orang yang suka mencaci apalagi melaknat. Oleh karenanya sebagai orang yang beriman wajib menjaga lisan supaya tidak digunakan untuk mencaci. Rasulullah juga mengingatkan barang siapa yang suka mencaci sesama muslim maka ia dikatakan orang yang fasik. Oleh karenanya wajiblah kita untuk berhati-hati dalam menjaga lisan. Nabi Muhammad juga bersabda mencaci dan melaknat orang yang beriman sama dengan membunuhnya. Beliau bersabda

BACA JUGA  Ustad Haikal Hassan dan Klaim Mimpi Bertemu Rasulullah

لَعْنُ الْمُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

Artinya: “Melaknat seorang Mukmin serupa dengan membunuhnya”. [HR. Bukhori-Muslim]

Sebagai upaya dan langkah menjaga kewarasan di ruang publik kita. Dan agar supaya ujaran kebencian dan saling caci maki di ruang publik kita berkurang maka hendaknya kita mengingat apa yang disabdakan Rasulullah, bahwa orang yang beriman adalah orang yang berkata baik atau jika tidak bisa lebih baik diam. Beliau bersabda

BACA JUGA  Kewajiban Mencintai Nabi Melebihi Apapun

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

Maknanya: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam”. [HR. Bukhori-Muslim].

Sebagai penutup perlu ditekankan kembali bahwa yang dinamakan orang Islam adalah orang yang orang di sekelilingnya selamat dari gangguan lisan dan perbuatannya. Hal ini seperti yang disabdakan Nabi Muhammad

المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

Artinya: “Orang Islam adalah seseorang yang orang Muslim lainnya selamat dari gangguan lidah dan tangannya”. [HR. Bukhori-Muslim]

 

 

 

 

 

 

 

Khalwani Ahmad
Khalwani Ahmad
Pemerhati Sejarah Peradaban Islam Nusantara

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru