30.2 C
Jakarta

Yang Disalahpahami Teroris Tentang Pokok-Pokok Al-Qur’an

Artikel Trending

Milenial IslamYang Disalahpahami Teroris Tentang Pokok-Pokok Al-Qur’an
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Banyak para teroris beranggapan bahwa segala perilaku terornya itu dibenarkan di dalam Al-Qur’an. Misalnya dalam persoalan Qital, perang dan jihad. Menurut mereka, semua hal itu sudah menjadi kewajiban mereka sebagai seorang muslim yang taat. Bilamana mereka melakukan hal tersebut, mereka dianggap sudah terjamin dalam kehidupan di surga.

Sayangnya hal tersebut terus diproduksi oleh mereka. Mereka beberkan ke para anggotanya paling bawah. Bahwa agama Islam melalui Al-Qur’an, telah memberikan password dan surat tugas untuk melakukan jihad, perang, bom dan amaliah bunuh diri.

Centang Peranang Melihat Al-Qur’an

Melihat dari ini saja, sungguh mereka telah begitu centang peranang dalam menafsirkan teks Al-Qur’an. Terlalu gegabah dan tidak mendalam. Sesuatu perilaku yang sangat dilarang oleh Nabi, para penafsir dan ulama.

Seringkali bahkan mereka menafsirkan Al-Qur’an hanya sebatas pada teologi saja. Semuanya dikrucutkan ke dalam jihad dan perang. Menurut mereka, seluruh isi Al-Qur’an adalah perintah jihad. Jihad untuk Agama dan Allah.

Di atas ini sebenarnya adalah tindakan dari seseorang yang malas dalam belajar. Bahkan malas dalam berjihad atas nama agama. Jika memang ingin berjihad atas nama agama dan Tuhan, mereka akan bersungguh-sungguh dalam memahami teks suci Al-Qur’an.

Dalam kesungguhan memahami teks Al-Qur’an, saya teringat Fazlur Rahman. Orang ini, dia ingin menjawab kegelisahan orang-orang muslim dalam memahami Al-Qur’an. Ia juga ingin menjawab bentahan-bantahan dan kritikan dari seorang non-muslim atas teks suci Al-Qur’an—yang bagi mereka—Al-Qur’an adalah kitab absurd dan tidak masuk akal, dan sebagiannya hanya menjiblak, bahkan tidak merespons zaman. Atas itu, Fazlur Rahman tertatih-tatih, hingga menemukan titik puncak fantastis, dia bisa membongkar dan menjawab tantangan itu semua.

Belajar dari Fazlur Rahman

Di usia senja, Fazlur Rahman tak ingin beristirahat dengan dunia intelektualnya. Dia tetap melakoni apa yang hendak diberikan kepada umat manusia. Sakit baginya tak masalah, asal ilmu tetap berkelindan dan menjadi pengobat pewarasan bagi peradaban Islam dunia, khususnya di bidang kajian Al-Qur’an.

Bagi Rahman, denyut hidup adalah denyut ilahiah yang pantas diberikan kepada manusia, sebagai refleksi dalam realitas ilmu pengetahuan, keagamaan, baik secara individu, kolektif. Rahman ingin menukangi itu dengan melibatkan diri aktif dalam pemaknaan sejarah.

Di buku penutup usia Rahman, yaitu Tema Pokok-Pokok Al-Qur’an, yang diterbitkan ulang oleh penerbit Mizan (2017), secara khsusus mengkaji Al-Qur’an dan kehidupan Nabi Muhammad saw, Rahman memberikan makna komprehensif dengan tujuan untuk menyegarkan dan meninjau arah dan tradisi Islam. Tak segan bila ia mengatan, “al-Qur’an haruslah sesui dengan spirit kemajuan dan menolak pandangan masa lalu.”

Di buku itu, Rahman mengelompokkan ayat-ayat secara tematis, kemudian menyodorkannya penafsiran sendiri atas tema yang digagasnya sendiri. Di karya terakhir ini, Rahman secara khas menampilkan sisi yang berbeda dengan karya-karya sebelumnya. Kita dapat menemukan, Rahman, secara kesadaran ragawi,  menampilkan karakter seorang intelektual modernis; mengahargai kebebasan dari ikatan-ikatan hierarkis dan lokal, menyusaikan dengan kemajuan sains, ekonomi, dan budaya. Bukan sekadar kepentingan teologis semata.

Tema yang perlu diperhatikan Rahma adalah tentang Tuhan. Tema ini lebih pendek dibandingakan tema yang lainnya. Perincian Rahman atas Tuhan, bahwa tuhan disebut dalam Al_Qur’an lebih dari 2.500 kali. Tetapi bagi Rahman, Qur’an bukanlah kitab tentang Tuhan dan sifat-sifanya semata. Bagi Rahman, Al-Qur’an sendiri eksistensi Tuhan bersifat sangat fungsional–dialah sang pencipta dan pemelihara alam semesta dan umat manusia. Secara khusus, Dia pemberi petunjuk dan pengadilan kepada manusia, baik secara individu, maupun kolektif dengan kewelasasihan.

Bukan Teologis Semata

Namun yang lebih disoroti Rahman, yakni tentang keniscayaan adanya Tuhan dan keesaan-Nya dalam Qur’an. Karena baginya, manusia tidaklah mungkin hanya yakin atas Tuhan dengan hanya menyodorkan bukti-bukti “teologis” sebagai jawaban atas eksistensi Tuhan. Tetapi, bagi Rahman, Tuhan tidak bisa tertemui oleh wujud nyata, melainkan tertemui oleh ciptaanya, seperti alam dan manusia.

Di situ, perlulah perenungan kehadiran Tuhan lewat refleksi dengan percaya bahwa, Tuhan adalah kebenaran tertinggi. Tetapi, akan dirasakan betul bilamana kita memikirkan dari mana (atau kehendak ke mana) hidup ini, maka kita pasti akan menemukan Tuhan. Rahman menulis: “ini bukanlah “bukti” keberadaan Tuhan. Sebab, menurut konsep Al-Qur’an, apabila kita tidak bisa “menemukan” Tuhan, Kita tidak akan perna bisa “membuktikan-Nya”.

Dalam konteks ini, Faslur Rahman menganalisis bahwa, Al-Qur’an tidak bisa membuktikan keberadaan Tuhan. Tapi petunjuk kepada Tuhan berdasarkan bukti ciptaanya. Kendati, apabila kita merasakan ada angin, pastilah ada penciptanya, yaitu Allah.

Al-Qur’an menyebut hal ini sebagai “keyakinan dan kesadaran akan yang ghaib (disebut 8 kali). Dan gaib ini, akan bertranformasi menjadi “nyata” melalui wahyu bagi beberapa orang seperti nabi (6 kali). Meskipun demikian, semua makhluk tidak akan mengatahui kecuali oleh Allah sendiri.

Dari cerita dan sikap reflektif Rahman di atas, sudah jelas bahwa Rahman sudah melakukan tugas sebagai orang yang bertanggungjawab atas teks suci Al-Qur’an. Ia mendalami betul sejarah teks Qur’an, dan sebisa mungkin bisa menjawab persoalan tantangan yang menerpa umat Islam saat ini. Rahman bukan seorang yang buta akan teologis, sehingga dia memanfaatkan Al-Qur’an menjadi jalan terang bagi kehidupan umat manusia. Bukan menjadikan Al-Qur’an sebagai ayat-ayat yang membinasakan hidup manusia, seperti perilaku orang radikal.

Agus Wedi
Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru