Taliban: Kami Tidak Ingin Menguasai Afghanistan dengan Militer


Harakatuna.com. Kabul-Kelompok Taliban menuturkan, mereka ingin menempuh jalan untuk memadamkan konflik yang di Afghanistan yang sudah berlangsung sejak 2001. Pernyataan itu disampaikan Mohammad Abbas Stanikzai, petinggi Taliban yang memimpin tim negosiasi dengan Amerika Serikat ( AS). Kepada BBC Rabu (6/2/2019), Kepala Kantor Politik Taliban di Qatar itu menuturkan kelompoknya berkaca dari pengalaman pada dekade 1990-an.

Taliban berkuasa di Afghanistan pada 1996-2001 dengan dilaporkan menerapkan pemerintahan ultra konservatif dan menjunjung tinggi hukum agama.

Kelompok itu disorot karena perlakuan mereka terhadap perempuan. Seperti melarang mereka untuk pergi ke sekolah maupun bekerja.

Saat itu, mereka menghadapi perlawanan bersenjata dari oposisi, dan membuat Taliban berkesimpulan mereka harus meraih solusi dengan datang ke meja perundingan.

“Kami tidak berusaha menguasai Afghanistan dengan militer. Tentu hal itu tak akan memberikan perdamaian,” tutur Stanikzai.

Stanikzai dilaporkan telah melangsungkan pertemuan dengan Utusan Khusus AS untuk Rekonsiliasi Afghanistan, Zalmay Khalilzad, dalam beberapa bulan terakhir.

Pada Januari lalu, kedua belah pihak mencapai kondisi akan apa yang disebut Khalilzad sebagai “rancangan kesepakatan” tersebut.

Rancangan itu dilaporkan berdasar akan komitmen AS untuk keluar dari Afghanistan, dan jaminan dari Taliban bahwa Afghanistan tidak akan menjadi markas kelompok ekstremis manapun.

Stanikzai mengatakan, dia percaya pemerintahan Presiden Donald Trump menginginkan adanya perdamaian di Afghanistan.

Selain menggelar perundingan damai dengan AS, Taliban diketahui menghelat pertemuan di Moskwa, Rusia, dengan dihadiri mantan Presiden Afghanistan Hamid Karzai. Dalam pertemuan yang juga dihadiri tokoh oposisi tersebut, topik yang dibahas adalah bagaimana sistem pemerintahan jika Taliban kembali berkuasa. Stanikzai berujar jika mereka kembali berpengaruh, mereka bakal menjamin hak setiap perempuan sehingga tak perlu merasa takut di masa depan.

Baca Juga:  Bom Bunuh Diri ISIS Meledak di Irak, 11 Orang Tewas

“Mereka diperbolehkan bersekolah, mereka dizinkan bekerja, mereka boleh untuk belajar di universitas sesuai tradisi Afghanistan dan aturan Islam,” terangnya.

Fawzia Koofi, seorang anggota Parlemen Afghanistan dan salah satu dari dua perempuan yang hadir dalam pertemuan di Moskwa mengapresiasi sikap Taliban.

“Adalah langkah positif bahwa Taliban yang terbiasa menggunakan peluru kepada rakyat, terutama wanita, kini menggunakan mikrofon dan mendengarkan suara kami,” tutur dia.

Koofi menuturkan seorang anggota Taliban memberitahunya perempuan tidak akan bisa menjadi presiden di Afghanistan, namun mereka diizinkan aktif di politik.

“Kami harus memastikan bahwa setiap kalimat yang mereka utarakan di sini (Moskwa) bakal mereka tepati,” tegas Koofi.

Sumber: Kompas.com

 

 

 


Like it? Share with your friends!

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.