31.7 C
Jakarta

Sepak Terjang ISIS di Asia Tenggara

Artikel Trending

KhazanahResensi BukuSepak Terjang ISIS di Asia Tenggara
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Pasukan ISIS di Timur Tengah sudah kehilangan tempat, setelah dikalahkan oleh Pasukan Demokratik Suriah (Syrian Democratic Forces/SDF). Hal ini menandai bendera kemanusiaan mulai berkibar kembali. Bukan hanya di Suriah dan Irak, bahkan di seluruh dunia. Namun, di sisi lain kelompok ini dapat menjadi musuh dalam selimut yang sangat berbahaya.

Pada awal pendiriannya, kelompok ini mencita-citakan berdirinya negara Islam dalam versi mereka sendiri tentunya. Dengan berbagai taktik dan strategi yang mengutamakan kekerasan, mereka mampu menguasai wilayah lebih dari 100 ribu kilometer persegi. Dengan keberhasilan ini, kelompok ISIS mengundang berbagai kalangan datang ke Suriah bersama-sama mewujudkan berdirinya negara Islam [hlm. 11].

Undangan ini mendapat respon positif dari berbagai kalangan yang sepemikiran dengan mereka. Bahkan, tidak sedikit warga Indonesia yang bergabung dengan ISIS. Mereka rela mengorbankan harta bendanya demi pergi “jihad” ke Suriah.

Kekalahan pasukan ISIS, tentu akan merubah strategi pemberantasan tindak terorisme. Sebabnya, keruntuhan suatu “negara” tidak menjamin keruntuhan ideologi yang dibawa [hlm. 45]. Dengan kata lain mereka akan berdaptasi dengan merubah taktik pergerakannya.

Hal ini akan sangat berbahaya karena mereka bukan lagi bergerak sebagai sebuah kesatuan. Akan tetapi mereka bergerak sebagai seorang individu yang mampu menyusup di kalangan masyarakat. Tentu dengan bentuk seperti ini  mereka akan sulit ditemukan.

ISIS Bertaktik

Dengan keadaan seperti ini, permasalahan mengenai taktik penyebaran radikalisme dari eks simpatisan ISIS  menjadi permasalahan yang besar. Setelah ISIS dikalahkan bala tentara Amerika, pemulangan eks simpatisan ISIS ke negara asalnya dikhawatirkan dapat mendobrak gerakan terorisme yang berada di dalam negara. Secara prinsip, mereka sudah berbelok jauh dari ideologi yang sudah ditetapkan negara.

Dalam permasalahan ini, simpatisan ISIS dikhawatirkan menjadi pelaku pembangkit gerakan terorisme. Sebuah ideologi dipandang sebagai keyakinan suci, tidak mudah dihilangkan oleh adanya desakan maupun ancaman. Oleh sebab itu, tentu simpatisan ISIS masih menyimpan banyak ataupun sedikit ideologi yang sudah tertanam [hlm. 72].

Memang ISIS sudah dikalahkan. Mereka sudah kehilangan wilayah dan teroterial mereka sebagai suatu negara. Akan tetapi ideologi ISIS masih tertanam dan tertancap di dalam hati pengikutnya.

Bukan tidak mungkin, ancaman itu datang secara perlahan. Mereka datang menyusup ke sebuah perkumpulan dengan misi penyebarluasan ideologi khilafah. Maka pantas saja, beberapa negara menolak kepulangan mereka.

BACA JUGA  Stop Ekstremisme dalam Rumah Tangga!

Kalau dilihat dari undang-undang, orang yang bersumpah setia kepada negara asing maka orang tersebut akan kehilangan kewarganegaraannya. Tidak hanya itu, kalau dalam jangka waktu 5 tahun dia tidak menyatakan sebagai WNI, maka dia akan dianggap sebagi WNA.

Sedangkan untuk bergabung dengan tentara ISIS mereka harus melunturkan identitas negaranya. Maka, dapat diambil kesimpulan bahwa setiap anggota ISIS akan berganti kewarganegaraannya ketika mereka dibaiat [hlm. 16].

Dilema Pemulangan

Meskipun begitu, masih ada negara yang mau menerima kepulangan mereka. Namun mereka harus menjalani serangkaian pembinaan dan hukuman atas tuduhan makar. Selain itu, mereka juga akan dikenai pasal berlapis terkait pembunuhan dan tindakan sadis yang mereka lakukan.

Dengan kata lain, posisi mereka berada dalam keadaan yang tidak menguntungkan. Di satu sisi, kalau tidak pulang mereka terdampar dalam negara asing, namun jika mereka pulang serangkaian hukuman harus dijalankan.

Selain itu, selama menjalani hukuman tersebut, mereka akan diawasi dengan ketat. Pola interaksi akan diawasi, jaringan mereka akan dibatasi, kemudian mereka harus diberi doktrin-doktrin tentang bela negara dan rusaknya ideologi khilafah. Dengan begitu, mereka tidak akan menelurkan pemahaman khilafah, karena ketatnya penjagaan dan pengawasan yang dilakukan.

Ternyata pertimbangan pemulangan mereka juga didasarkan atas potensi mereka sebagai pendoktrin rusaknya ideologi khilafah. Mereka dapat menjelaskan kepada khalayak bahwa ISIS itu sebuah kelompok yang berbahaya dan hanya mencari keuntungan semata dari para anggotanya.

Akan tetapi pengaruh ini sangat sedikit dan peluang keberhasilannya sangat kecil untuk mempengaruhi masyarakat, terutama kelompok radikal secara khususnya. Pasalnya, kelompok radikal sudah tidak menganggap mereka sebagai teman seperjuangan. Sehingga akan sangat kesulitan mengoyak nurani mereka.

Begitupun bagi masyarakat, mereka akan dianggap sebagai kelompok ganas yang siap melakukan kekerasan. Anggapan seperti ini akan memicu rasa takut untuk berdekatan ataupun berinteraksi dengan mereka. Alhasil, mereka akan dikucilkan dan tidak membawa efek apapun di lingkungan masyarakatnya.

 

Judul Buku: Kekhalifahan ISIS di Asia Tenggara

Pengarang: Poltak Partogi Nainggolan

ISBN: 978-602-433-652-3

Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia

Tahun Terbit: 2019

M. Nur Faizi
M. Nur Faizi
Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Bergiat sebagai reporter di LPM Metamorfosa, Belajar agama di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-ien Yogyakarta.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru