33.4 C
Jakarta

Semburat Senja (Bagian XXXVII)

Artikel Trending

Memberantas FPI, Memberantas Pembising Negeri

Sejumlah anggota TNI berseragam lengkap mendatangi Markas DPP Front Pembela Islam (FPI) di Petamburan, Jakarta Pusat, pada Kamis (19/11) lalu. Mereka menurunkan baliho Habib...

Ampuhnya Doa Orang Puasa

Berbicara tentang manjurnya doa orang puasa sejenak kita akan langsung tertuju pada sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr...

Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi Menurut Islam

Tali pusar adalah jalan yang menghubungkan antara ibu dan bayinya ketika masih dikandungan. Tali pusar ini berfungsi untuk menyalurkan makanan dan oksigen dari ibu...

Bullshit Para “Pembela” Islam

Sejak Ahok jadi Gubernur DKI Jakarta, Rabu, 19 November 2014, para pembela Islam tidak bisa hidup tenang sampai hari ini. mereka semakin radikal. Radikalisme...

Daftar Daerah yang Tegas Menolak Kehadiran Rizieq Shihab dan FPI

Gelombang penolakan atas keberadaan organisasi Front Pembela Islam menjalar kemana-mana, utamanya pasca kedatangan Rizieq Shihab ke Indonesia dari pelariannya atas kasus hukum yang menimpa....

Rizieq Shihab Mati Langkah?

Pesta penyambutan kepulangan Rizieq Shihab berubah menjadi bencana bagi masa depan perjuangan politik Rizieq Shihab dan kawan-kawan. Belum genap satu bulan menginjak kaki di...

Budaya Akademik dan Etos Kerja Dalam Islam

Islam sebagai agama yang kaffah tentu mengatur secara komprehensif segala aktifitas manusia dari mulai bangun tidur samapai tidur kembali. Sebagai agama yang kaffah, Islam...

Jangan Sampai Mendewa-dewakan Mereka yang Mengaku Keturunan Nabi

Gelar “habib” (jamaknya “habaib”) menjadi pembeda antara keturunan Nabi Saw. dan selain beliau. Sakralitas gelar habib tak kalah menarik dibandingkan dengan predikat nabiyullah yang...

Semburat senja berbinar indah di pelataran ibu kota. Memandangi senja seakan mengenangmu, Fai. Mengingat masa indah yang sudah sirna bak semburat senja yang tertelan gelap malam. Hanya tersisa bias yang meninggalkan kenangan. Kenangan yang sulit terlupakan, walau jarak yang membentang jauh.

Di sebuah kampus Diva tiba-tiba menghindar dari keramaian mahasiswa. Di sebuah musala kecil ia duduk seorang diri hanya ditemani buku Kaidah Tafsir yang ditulis pakar tafsir M. Quraish Shihab. Ia coba bertanya pada dirinya: Kenapa aku tiba-tiba mengingatmu, Fai? Sudah lama aku menjauh dan tak saling berkabar. Terlalu lama aku terjebak dalam cinta yang menyakitkan. Aku mulai sadar kalau kau bukan takdir yang Tuhan titipkan buat aku.

Di sini saja, Kak. Terdengar secercah suara tak jauh dari tempat Diva duduk. Ternyata dua mahasiswi yang masuk ke dalam musalla.

“Sorry, Kak, lihat buku Kaidah Tafsir?” Seorang mahasiswi terlihat kebingungan mencari buku yang ada di samping Diva tadi.

“Ini, kan?” Jawab Diva sembari menunjukkan buku yang bercover putih. Buku karya Quraish Shihab itu tidak asing lagi di benak Diva. Buku itu banyak membantu Diva memahami Al-Qur’an, karena di dalamnya terhidang beragam kaidah penafsiran yang dilengkapi dengan penjelasan kritis tentang hermeneutika.

“Bener, Kak.”

Buku yang ditunjukkan Diva dirogohnya dengan muka berseri-seri sembari mengucapkan terima kasih. Diva membatin: Sesuatu akan terasa berharga begitu ia tiada. Seperti buku yang saat itu kugenggam, saat itu pula ia pergi.

Diva kembali dalam lamunannya. Jarak ini rasanya menjadi jawaban bila hati tidak akan kembali berharap. Cinta itu omong kosong. Aku mulai tidak percaya cinta. Bukankah cinta yang sejati bersemi setelah pernikahan? Karena, aku yakin cinta yang semacam ini yang akan membawaku mengarungi samudera kebahagiaan. Cinta sebelum nikah hanyalah ilusi.

Div. Terdengar suara yang memanggilnya. Sepertinya suara itu tidak asing.

Div. Suara itu makin mendekat.

Diva terdiam. Menoleh sana-sani tanpa mengubah posisi duduknya.

Div. Suara itu seakan sangat mencarinya.

“Siapa ya?” Diva jawab dengan suara keras sampai terdengar ke balik tembok yang memagari musalla kampus.

“Kak Diva, aku mencarimu.” Seorang yang bermuka asing bersikap akrab.

“Maaf, dengan siapa ya?” Diva terlihat pening.

“Aku pembaca setia tulisanmu, Kak. Kak Diva nggak bakal kenal aku, tapi aku kenal Kak Diva. Sering aku lihat Kak Diva kuliah di kampus ini.”

Lipatan kertas yang terselip di ranselnya dirogohnya dan disodorkan ke Diva.

“Kak, makasih.” Seorang yang Diva belum sempat tanya namanya sudah beranjak dan tak terlihat lagi batang hidungnya. Ia menghilang di balik pagar yang membatasi area kampus dan musala.

Sebuah surat yang diterima Diva diselipkan ke dalam tas. Belum sempat dibacanya. Seakan belum saatnya membaca isi surat itu.

Diva tetap duduk di musala. Hari itu menjadi cerita yang mengajak Diva flashback, mengingat momen indah yang telah hilang bersamaan dengan hilangnya senja dan telah jauh beriring dengan jauhnya jarak.

Diva kadang tidak mengerti kenapa sakit itu semakin menggores hati saat ingatan tentang senja tiba-tiba terngiang. Diva merasa hidup ini tidak adil bila sakit menggores luka sulit terobati dan mencipta masa lalu terasa pahit untuk ia telan.

* Tulisan ini diambil dari buku novel “Senja Berbalut Rindu” (Dwilogi Novel “Mengintip Senja Berdua”) yang ditulis oleh Khalilullah

Khalilullah
Khalilullah
Lulusan Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Muhammad Rizieq Shihab, Quraish Shihab, dan Habib Lutfi

Muhammad Rizieq Shihab semakin viral. Sejak kembalinya dari Arab Saudi, sampai penjemputan, perayaan Maulid Nabi, hingga perayaan nikah anaknya menjadi tilikan banyak orang. Bahkan...

Organisasi Mahasiswa Riau Gelar Aksi Tolak Radikalisme

harakatuna.com. Pekanbaru - Sebanyak 41 Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) dan organisasi mahasiswa Riau menggelar aksi damai di depan Kantor Gubernur Riau, Senin (23/11/2020). Dalam aksi...

Rizieq Shihab Mati Langkah?

Pesta penyambutan kepulangan Rizieq Shihab berubah menjadi bencana bagi masa depan perjuangan politik Rizieq Shihab dan kawan-kawan. Belum genap satu bulan menginjak kaki di...

Ulama Austria Minta Aparat Tak Kaitkan Terorisme dengan Agama

Harakatuna.com. WINA -- Saat rasialisme dan diskriminasi terhadap Muslim di Austria melonjak, ulama di negara Eropa memperingatkan pihak berwenang tidak mengaitkan terorisme dengan agama apa pun. Setelah...

Jangan Mudah Menuduh Orang Dengan sebutan Lonte

Kata lonte dalam tradisi masyarakat Indonesia adalah bermakna kasar. Yaitu bermakna sebagai pezina ataupun pelacur. Kata lonte ini kembali viral di media sosial karena...

Lumpuhkan Radikalisme, Munas MUI Usung Tema Islam Wasathiyah

Harakatuna.com. Jakarta - Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma'ruf Amin menyampaikan pidato dalam pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) MUI ke-19 di Hotel Sultan,...

Munas MUI ke-X; Saatnya MUI Kembali ke Khittah

Majelis Ulama Indonesia (MUI) tengah melaksanakan pemilihan Ketua Umum MUI baru periode 2020-2025. Pemilihan dilaksanakan pada Musyawarah Nasional (Munas) MUI ke-10 di Hotel Sultan,...