32.1 C
Jakarta

Agresi Wahabi dalam Kamuflase Salafi, Awas Jangan Tertipu!

Artikel Trending

Milenial IslamAgresi Wahabi dalam Kamuflase Salafi, Awas Jangan Tertipu!
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Di tengah hangatnya suasana Idulfitri 1445 H, ada sesuatu yang meresahkan di media sosial. Di TikTok, banyak muncul di beranda #fyp tentang video diseminasi Wahabi. Parahnya, agresi Wahabisasi tersebut tidak menggunakan istilah “Wahabi”, melainkan “Salafi” dan “Manhaj Salaf”. Kamuflase Wahabi menjadi Salafi memang bukan kali pertama terjadi. Namun, semakin ke sini, agresi mereka semakin mengkhawatirkan.

Mengapa mengkhawatirkan? Ada tiga alasan. Pertama, Wahabi mendestruksi semua kearifan lokal (local wisdom). Banyak tradisi lokal yang dibid’ahkan, disesatkan, bahkan dikafirkan. Spirit puritanisme semacam itu alih-alih memurnikan jaran, justru Wahabi telah membuat masyarakat semakin jauh dari lokalitasnya sendiri. Ironisnya, sekalipun Wahabi seolah mengeskalasi religiusitas masyarakat, toleransi jadi mati total.

Kedua, Wahabi merusak Islam yang bernuanasa keindonesiaan. Coba refleksi nuansa keislaman tahun 90-an, lalu lihat keadaannya hari ini. Betapa banyak nilai-nilai keindonesiaan yang sudah diberangus Wahabi. Jilbab, misalnya. Atau tahlil, maulid Nabi, istigasah, dan lainnya. Semua semakin tampak asing. Masyarakat juga dibuat benci ulama lokal yang alim dan lebih memilih ulama alumni Saudi yang notabene dedengkot Wahabi.

Poin kedua ini yang paling banyak dirasakan sekarang. Ulama sekaliber Quraish Shihab dianggap Syiah, dan kiai sealim Gus Baha dianggap penyembah kubur (quburiyyun). Wahabi benar-benar merusak tatanan Islam lokal yang mendarah-daging di masyarakat sejak abad kelima belas—era Walisongo. Dengan alasan memurnikan Islam, mereka tengah menggerus keindonesiaan masyarakat dan merusak wasatiah Islam itu sendiri.

Ketiga, Wahabi merusak anak muda yang minim ilmu keislaman. Komentar-komentar netizen di TikTok sungguh tidak mengenakkan. Mereka jadi bermental seperti Bin Baz, Utsaimin, bahkan Bin Wahab yang suka membid’ahkan dan mengafirkan sesama umat Islam—saudara seiman mereka sendiri. Mindset eksklusivisme semacam itu lahir karena minimnya ilmu keislaman mereka lalu terpengaruh propaganda agresif Wahabi.

Manhaj Salaf Palsu

Manhaj salaf, ulama salaf, ajaran salaf, dan term-term sejenis lainnya. Wahabi merusak masyarakat Muslim di Indonesia melalui “manhaj salaf palsu”. Kepalsuan tersebut sama persis dengan yang mereka lakukan untuk menutupi identitas ke-Wahabi-an di kampus. Lihatlah bahwa nama-nama kampus mereka menggunakan ulama Sunni sebagai tipuan, seperti Sekolah Tinggi Imam Syafi’i, misalnya.

Garisbawahi tiga kepalsuan manhaj salaf ala Wahabi ini. Pertama, mereka memanipulasi kemurnian Islam. Islam murni dari ulama salaf yang Wahabi sebarkan sebenarnya tidak murni, namun diklaim murni sebagai bentuk agresivitas Wahabi itu sendiri. Islam ala Wahabi itu tidak murni, melainkan hasil perusakan terhadap pemikiran ulama dalam turats. Mereka anti-mazhab, namun pada saat yang sama, mereka bermanhaj dan mendewakan Bin Wahab, Bin Baz, Albani, dan dedengkot Wahabi lainnya.

Kedua, Wahabi memanipulasi identitas kampus. Mereka sangat anti-mazhab, dan fakta ini diuraikan detail dalam buku al-Buthi, Al-Lamazhabiyyah. Jangan berharap mereka ikut ulama sekaliber Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal. Mereka hanya ikut Bin Wahab, Bin Baz, dan lainnya. Namun, identitas kampus-kampus Wahabi menggunakan nama imam mazhab agar masyarakat Indonesia tertipu. Sungguh biadab—tidak beradab.

BACA JUGA  Nasib Buram Anak Indonesia Karena Khilafah?

Ketiga, mereka memalsukan ulama salaf. Sebagaimana disinggung dalam poin kedua tadi, sejatinya Wahabi itu memusuhi para imam mazhab, juga membid’ahkan semua ulama asli Indonesia. Mereka bahkan juga anti-mazhab Ibnu Taimiyah, namun Ibnu Taimiyah mereka pakai sebagai pemalsuan identitas. Itulah cara barbar Wahabi memalsukan ulama salaf. Jadi, manhaj salaf apa yang mereka sebarkan, tidak lebih adalah manhaj palsu belaka.

Di Indonesia, ulama salaf itu sudah diikuti sejak dahulu. Lihatlah pesantren salaf yang mengkaji turats dengan sebuah prinsip: “al-muhāfazhah ‘ala al-qadīm al-shālih wa al-akhdz bi al-jadid al-ashlah”. Namun yang asli pengikut salaf hari ini seolah dipinggirkan, sebab Wahabi juga mengaku-ngaku pengikut salaf. Padahal yang mereka ikuti itu ulama abad dua puluh, yaitu Bin Wahab, Bin Baz, dan antek-antek zionis lainnya. Jelas, itu “salaf palsu”.

Milenial dalam Ancaman

Semua fakta yang telah dijabarkan tadi sebenarnya bukan sesuatu yang mengejutkan. Agresivitas Wahabi melalui kamuflase Salafi sudah terjadi sejak dulu, dan lebih dari lima puluh persen telah berhasil merusak tatanan keislaman lokal. Dulu di Arab Saudi, ulama Indonesia banyak dikenal sebagai ‘allāmah. Hari ini? Ulama Nusantara di Saudi sudah habis, dan justru dedengkot Wahabi di negara ini semakin menumpuk. Ironis!

Namun yang lebih meresahkan adalah generasi milenial tanah air. Dalam agresivitas Wahabi, mereka adalah korban yang tidak menyadari bahwa mereka telah tertipu. Lihatlah para warganet TikTok, betapa tingginya animo terhadap Salafi—yakni Wahabi, dengan gairah ingin kembali kepada Al-Qur’an dan sunah. Sayang sekali gairah tersebut bukan memperbaiki keadaan, justru menjerumuskan generasi milenial pada jurang “eksklusivisme”.

Ini mesti menjadi atensi bersama. Sebab, mengaca pada Arab Saudi, masa depan Indonesia di tengah agresivitas Wahabi sangat kelam. Di masa depan, seluruh tradisi lokal yang islami akan dijauhi dan dianggap bid’ah bahkan kafir—sesuai doktrin Wahabi yang semarak saat ini. Atas nama Salafi, kelak, toleransi antarumat beragama tidak akan lagi ditemui. Semua situs bersejarah dibongkar dan yang tersisa adalah “para tukang membid’ahkan”. Mengerikan.

Kedamaian sesama atau persatuan dan kesatuan? Di masa depan, itu hanya mimpi belaka. Kesesatan Wahabi merajalela tidak hanya karena agresivitasnya, tetapi juga karena defisit ilmu keislaman-kebangsaan generasi Muslim itu sendiri. Ancaman ini tentu bukan isapan jempol belaka. Arab Saudi adalah prototipe dari efek buruk ketika Wahabi menguasai masyarakat. Karena itu, agresivitas Wahabi harus disikapi secara tegas.

Pemerintah dan masyarakat memiliki peran sentral untuk menghalau gerakan agresif Wahabi atau Salafi di Indonesia. Sudah saatnya fokus kontra-terorisme tidak hanya pada hilir teror, melainkan ke hulu, yakni ideologi Salafi-Wahabi. Lihatlah teroris hari ini, sembilan puluh persen adalah pengikut Wahabi—yang mengaku Salafi. Bayangkan jika di masa depan mereka menguasai masyarakat, Indonesia akan tinggal nama saja. Musnahkan Wahabi!

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Analis, Penulis

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru