Generative AI dan Generating Terror: Ketika AI jadi Pengganda Kekuatan Terorisme

Ahmad Khairi

21/07/2026

7
Min Read
Generative AI Terorisme

Harakatuna.com – Ketika internet mulai digunakan secara luas pada akhir 1990-an, kelompok teroris memanfaatkannya untuk menyebarkan manifesto dan propaganda. Saat medsos menguasai ruang digital, mereka beradaptasi dengan Facebook, YouTube, X, Instagram, hingga Telegram untuk memperluas pengaruh dan membangun komunitas virtual. Kini, ketika dunia memasuki era Generative AI, muncul pertanyaan baru yang relatif lebih kompleks: apakah kecerdasan buatan akan menjadi babak berikutnya dalam evolusi terorisme?

Itu bukan kekhawatiran tak berdasar. Dua bulan setelah diluncurkan pada November 2022, ChatGPT mencapai 100 juta pengguna aktif bulanan dan menjadi salah satu aplikasi konsumen dengan pertumbuhan tercepat dalam sejarah. Sejak itu, berbagai model Generative AI berkembang pesat dan digunakan di hampir semua sektor, mulai dari pendidikan, pemerintahan, kesehatan, riset ilmiah, industri kreatif, hingga dunia bisnis. Kemampuan AI menghasilkan teks, gambar, audio, video, bahkan kode komputer dalam hitungan detik menjadikannya inovasi paling transformatif dekade ini.

Namun, sebagaimana teknologi besar lainnya, Generative AI ibarat dua sisi mata uang. Satu sisi meningkatkan produktivitas atau mempercepat inovasi, dan di sisi lain berpotensi dieksploitasi oleh para teroris untuk agenda mereka. Global Internet Forum to Counter Terrorism (GIFCT), misalnya, telah mengangkat isu penyalahgunaan AI oleh kelompok teror sebagai tantangan keamanan yang perlu diantisipasi. Kekhawatirannya karena teknologi tersebut dapat memperbesar kapasitas manusia yang memang telah memiliki niat melakukan kekerasan.

Perhatian yang sama mendorong lahirnya penelitian berjudul Generating Terror: The Risks of Generative AI Exploitation oleh Gabriel Weiman dkk. yang mengajukan pertanyaan strategis: sejauh mana model bahasa modern (large language models) dapat disalahgunakan oleh kelompok teroris, dan seberapa kuat sistem pengaman AI mampu mencegahnya? Alih-alih berspekulasi, para peneliti menguji berbagai model AI untuk memahami potensi eksploitasi serta implikasinya terhadap keamanan nasional dan kontra-terorisme di masa depan.

Bagi Indonesia, diskursus ini sangat relevan. Sebagai negara dengan bonus demografi yang didominasi digital native, tingkat adopsi AI diperkirakan akan terus meningkat beberapa tahun ke depan. Di saat yang sama, ruang digital masih menjadi arena diseminasi propaganda dan upaya radikalisasi. Artinya, tantangan yang dihadapi bukan sekadar bagaimana memanfaatkan AI untuk mendorong kemajuan, namun juga bagaimana memastikan bahwa teknologi tersebut tidak berubah jadi pengganda bagi mereka yang ingin menyebarkan ideologi-ideologi teror.

Lantas, benarkah Generative AI telah menjadi force multiplier bagi terorisme? Ataukah kekhawatiran tersebut masih sebatas proyeksi atas perkembangan teknologi? Untuk menjawabnya, penting memahami terlebih dahulu bagaimana kelompok teroris selalu beradaptasi terhadap inovasi, serta mengapa kecerdasan buatan menjelma sebagai variabel baru dalam lanskap ancaman keamanan kontemporer.

AI: Force Multiplier Terorisme

Spanjang sejarah, terorisme selalu berjalan berdampingan dengan evolusi teknologi. Kelompok teroris hampir selalu menjadi pengguna yang cepat beradaptasi terhadap setiap inovasi yang dapat meningkatkan efektivitas operasional mereka. Dari mesin cetak untuk menyebarkan manifesto, kaset dan VCD untuk propaganda, internet pada akhir 1990-an, medsos pada dekade 2010-an, setiap lompatan teknologi menghadirkan peluang baru yang segera dieksploitasi oleh kelompok terir. Kini, dunia memasuki babak berikutnya: era Generative AI.

Ini tidak boleh dipahami secara berlebihan seolah-olah kecerdasan buatan akan menggantikan manusia sebagai pelaku terorisme. Tulisan ini tidak berkata demikian. Terorisme tetap merupakan tindakan yang direncanakan, diputuskan, dan dijalankan oleh manusia. Namun, yang berubah adalah kapasitas manusia tersebut. Istilahnya ‘force multiplier’, yaitu faktor yang mampu melipatgandakan efektivitas suatu aktor tanpa harus menambah jumlah personel atau sumber daya secara signifikan.

Selama puluhan tahun, konsep tersebut digunakan dalam dunia militer untuk menggambarkan bagaimana teknologi, intelijen, komunikasi, atau logistik dapat membuat satu pasukan menghasilkan daya tempur yang jauh lebih besar daripada kemampuan dasarnya. Konsep yang sama kini mulai relevan dalam memahami hubungan antara terorisme dan kecerdasan buatan. AI tidak menjadi teroris, namun ia menjadikan teroris memiliki kemampuan yang berlipat daripada sebelumnya.

Generative AI tidak akan pernah menjadi “pelaku” terorisme, tetapi jelas akan menggandakan kemampuan (capability multiplier). AI akan mempercepat berbagai aktivitas yang sebelumnya memerlukan waktu, tenaga, dan keahlian lebih besar. Tugas-tugas yang dulu harus dilakukan secara manual kini bisa dilakukan secara otomatis dan cepat. Dengan kata lain, AI berpotensi meningkatkan efisiensi, skala, dan jangkauan aktivitas yang dilakukan teroris apabila sistem pengamannya berhasil disalahgunakan. Rakit bom, sebagai contoh, AI akan menyediakan tutorialnya dengan super rinci.

Fenomena ini merupakan kelanjutan dari pola adaptasi digital yang telah berlangsung selama lebih dari dua dekade. Pada awal kemunculan internet, kelompok teroris memanfaatkannya sebagai etalase propaganda melalui situs web. Ketika medsos berkembang, mereka memanfaatkannya untuk memperluas penyebaran ideologi dan menjangkau audiens multinasional. Intinya, setiap kali ruang digital berubah, metode operasional mereka ikut berubah. Kehadiran Generative AI pun menjelma sebagai fase berikutnya dalam proses adaptasi tersebut.

BACA JUGA  Rise of Global Terrorism: Menelisik Jejak Kekerasan Global dan Kerentanan Diaspora Pelajar

Karena itu, ancaman utama bukanlah AI yang tiba-tiba ‘berubah jadi teroris’. Ancamannya muncul ketika teknologi tersebut dieksploitasi. AI yang dijadikan akselerator terorisme sangat berbahaya dan tidak boleh dipandang sepele. Hal tersebut menandai pergeseran penting: apabila dulu perhatian utama kontra-terorisme tertuju pada jumlah anggota atau kekuatan organisasi teroris, kini perhatian juga harus diarahkan pada kemampuan teknologi yang mereka kuasai untuk menyebarkan teror itu sendiri.

Di era Generative AI, perebutan pengaruh terjadi melalui mimbar, buku, atau medsos, serta melalui sistem cerdas yang mampu menghasilkan informasi, percakapan, dan konten dalam hitungan detik. Di titik itulah AI berubah dari sekadar inovasi teknologi menjadi variabel baru yang perlu diperhitungkan dalam strategi pencegahan radikalisme dan kontra-terorisme.

Generative AI untuk Operasi Terorisme

Salah satu kesalahan terbesar dalam memandang ancaman Generative AI adalah menganggap bahwa teknologi ini identik dengan robot bersenjata atau mesin otonom yang menjalankan aksi teror. Gambaran seperti itu memang menarik dalam film fiksi ilmiah, tetapi bukan ancaman yang paling nyata saat ini. Kekhawatiran para peneliti justru relatif sederhana, sekaligus lebih relevan: bagaimana jika kecerdasan buatan dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas kelompok teroris dalam menjalankan aktivitas yang selama ini sudah mereka lakukan?

Potensi penyalahgunaan Generative AI, dengan demikian, berarti penguatan terhadap seluruh siklus aktivitas terorisme. Tahap pertama adalah produksi narasi. Sejak lama, propaganda merupakan “oksigen” bagi kelompok teroris. Ideologi tidak akan berkembang tanpa simbol dan narasi. Kehadiran AI memungkinkan proses kreatif tersebut berlangsung cepat. Teknologi tersebut mampu membantu menghasilkan berbagai bentuk konten dalam banyak bahasa dan dengan gaya komunikasi yang beragam. Bukan berarti AI menciptakan ideologi baru, tetapi mempercepat produksi materi yang kemudian digunakan untuk meradikalisasi generasi muda.

Tahap berikutnya adalah komunikasi dan rekrutmen. Berbeda dengan propaganda konvensional yang bersifat satu arah, perkembangan AI memantik munculnya interaksi yang personal. Pesan dapat disesuaikan dengan karakteristik audiens, gaya bahasa dapat diubah mengikuti kelompok sasaran, dan komunikasi digital menjadi semakin menyerupai percakapan antarmanusia. Inilah yang membuat banyak peneliti mulai memperingatkan bahwa tantangan ke depan ialah menghadapi komunikasi yang semakin persuasif dan sulit dibedakan dari interaksi biasa.

Selain propaganda dan rekrutmen, Generative AI juga berpotensi mempercepat proses pembelajaran. Dahulu seseorang harus menghabiskan waktu berhari-hari untuk mencari referensi dari berbagai sumber. Kini, AI mampu merangkum informasi dan menyusun pengetahuan dalam format yang mudah dipahami. Kemampuan tersebut merupakan manfaat besar. Namun, bagi aparat, muncul pertanyaan baru: bagaimana memastikan kemampuan tersebut tak dimanfaatkan untuk mempercepat proses belajar oleh orang yang telah memiliki niat melakukan teror? Karena itu, pengembangan sistem pengaman pada model AI sangat penting.

Dimensi lain yang juga mendapat perhatian adalah ruang siber. Europol telah mengingatkan bahwa model bahasa modern dapat dimanfaatkan untuk mendukung berbagai bentuk kejahatan digital, termasuk rekayasa sosial, penyebaran disinformasi, dan aktivitas siber yang dapat memperbesar dampak ancaman keamanan. Artinya, batas antara ancaman fisik dan ancaman digital semakin kabur. Kelompok teroris berusaha menguasai ruang informasi dengan memanfaatkan AI sebagai produsen propaganda.

Di Indonesia, persoalannya semakin relevan karena mayoritas generasi muda maniak gadget dan menjadikan AI sebagai teman harian mereka. Mereka memanfaatkan AI untuk belajar, menyelesaikan tugas, bekerja, hingga berkreasi. Di saat yang sama, ruang digital juga menjadi arena utama penyebaran propaganda terorisme. Artinya, yang diperebutkan bukan sekadar perhatian pengguna internet, melainkan juga kepercayaan, cara berpikir, dan persepsi mereka terhadap berbagai isu. Semakin canggih teknologi komunikasi, semakin besar pula kebutuhan untuk membangun ketahanan masyarakat terhadap manipulasi informasi.

Karena itu, respons yang dibutuhkan adalah strategi komprehensif: memperkuat tata kelola AI, meningkatkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, industri teknologi, dan masyarakat sipil, serta membangun literasi AI di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda. Mereka perlu memahami bahwa sistem AI bukan sumber kebenaran yang tidak mungkin salah, melainkan teknologi yang harus digunakan secara kritis dan bertanggung jawab.

Ancaman Generative AI bukanlah AI itu sendiri, ketika AI dipakai untuk generating terrorism, yakni kecerdasan buatan dimanfaatkan untuk tujuan destruktif menebar terorisme. Sejarah membuktikan bahwa setiap lompatan teknologi selalu menghadirkan dua sisi: membuka peluang bagi kemajuan sekaligus menghadirkan ruang baru bagi penyalahgunaan. Sekali lagi, Generative AI tidak mengubah hakikat terorisme sebagai tindakan yang digerakkan oleh manusia, namun mengubah kecepatan dan efektivitas cara kelompok teroris menyebarkan pengaruhnya. Masyarakat mesti memahami ancaman besar tersebut, tidak boleh tidak.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Leave a Comment

Related Post