26.8 C
Jakarta

Pentingnya Membaca Menurut Gus Baha’

Artikel Trending

Habib yang Menjamur

Dulu, saat saya kecil, di jalan-jalan tidak pernah terpampang baliho. Suasana damai sekali, bahkan tatkala gaduh pun, ya, paling itu karena persoalan biasa. Tidak...

Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi Menurut Islam

Tali pusar adalah jalan yang menghubungkan antara ibu dan bayinya ketika masih dikandungan. Tali pusar ini berfungsi untuk menyalurkan makanan dan oksigen dari ibu...

Rizieq Shihab Mati Langkah?

Pesta penyambutan kepulangan Rizieq Shihab berubah menjadi bencana bagi masa depan perjuangan politik Rizieq Shihab dan kawan-kawan. Belum genap satu bulan menginjak kaki di...

Ampuhnya Doa Orang Puasa

Berbicara tentang manjurnya doa orang puasa sejenak kita akan langsung tertuju pada sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr...

Makna Rahmat dalam Al-Qur’an Al-Karim

Rahmat terdiri dari tiga huruf râ’, hâ’, dan mîm. Menurut Ibnu Faris dalam Maqâyîs al-Lughah setiap kata Arab yang berakar dari tiga huruf râ’,...

Relasi Iman, Keadilan dan Demokrasi ala Cak Nur

Nurcholish Madjid, atau yang biasa dipanggil Cak Nur, dikenal luas sebagai salah satu cendekiawan Muslim terbesar di Indonesia. Pemikirannya merupakan suatu usaha untuk mencari...

Bagaimana Hukum Memberi Nasehat dalam Islam?

Tahukah kalian, mengapa agama merupakan suatu nasehat? Kehidupan seseorang bisa berubah dengan nasehat anda. Jalan kehidupan seseorang juga bisa berubah sedemikian baik lantaran duduk...

Wudhu Menurut aL-Qur’an dan Sunah

Wudhu merupakan ritual penting dalam Islam untuk menjaga kesucian dalam beribadah. Perintah dan dasar landasan berwudhu berangkat dari firman Allah swt dalam QS al-Maidah...

KH. Bahauddin Nur Salim dalam ceramahnya menjelaskan mengenai dua kehebatan dari membaca. Bagi Gus Baha’ membaca membuat seseorang menjadi wali dan dengan membaca menjadikan seseorang tidak kafir. Mengapa bisa begitu? Gus Baha’ mengatakan demikian untuk memotivasi umat agar tidak meremehkan pentingnya membaca.

Pertama, mengapa membaca menjadikan seorang tidak kafir? Gus Baha’ memberikan contoh bahwa dalam suatu kasus terdapat seorang yang ingin masuk Islam. Datanglah ia kepada seorang ustaz. “Ya Syaikh, ajarkan saya membaca syahadat, saya ingin masuk Islam.” Karena lama menjadi orang Jawa atau memegang etika orang timur, sang ustaz tidak langsung mengajarkan syahadat. Ustaz tersebut malah mempersilahkan orang yang masih kafir tersebut untuk duduk-duduk sambil meminum teh atau kopi.

Dalam ajaran madzab Syafi’iyah, justru ustaz ini bisa menjadi kafir. Kenapa bisa begitu? Dalam kasus di atas, sang ustaz memiliki kuasa untuk menjadikan tamunya menjadi muslim, tetapi malah menunda-nunda. Andaikan orang yang hendak masuk Islam tersebut meninggal ketika minum kopi atau teh apakah ia sudah meninggal dalam keadaan muslim? Jawabannya belum, dia masih kafir karena belum mengucapkan syahadat.

Akibat tidak membaca kitab, ustaz tadi telah menyebabkan seorang yang hampir masuk Islam tetapi gagal, karena sudah meninggal dalam keadaan belum bersyahadat. Membaca syahadat dalam keadaan ideal sama dengan ketika ada kecelakaan, seorang laki-laki melihatnya dengan keadaan memakai celana pendek. Ia tidak bergegas menolong tetapi malah mengganti pakaiannya terlebih dahulu

Dalam hal demikian mana yang lebih utama memakai baju yang ideal atau menolong kecelakaan? Tentunya menolong kecelekaan karena hal tersebut merupakan hal yang darurat dan harus segera ditolong. Jika ada hal yang lebih parah dari kecelakaan tadi, maka orang tersebut patut disalahkan. Hal-hal yang fardhu kifayah menjadi wajib bagi orang yang pertama melihat. Lebih-lebih hal tersebut adalah persoalan aqidah bukan persoalan fisik yang menyebabkan seroang kafir. Ini lah pentingnya membaca dengan menganalisis.

Kedua, menurut Gus Baha’ membaca dapat menyebabkan orang menjadi wali. Gus Baha’ memberikan contoh pada kisah Imam Al Ghozali. Ketika awal akan menjadi wali, Imam Ghozali memiliki kesimpulan bahwa menjadi wali dengan cara meninggalkan dosa. Maka imam Ghozali menjauhi kerumunan orang karena dapat menyebabkan berbuat maksiat seperti menggibah, dan lain-lain.

Imam Ghozali melepas jabatan rektor Madrasah an-Nidzomiyah, salah satu madrasah yang besar pada masa itu. Imam Ghozali pergi beruzlah dengan membawa peralatan secukupnya untuk bekal sholat ketika di hutan.
Setelah melakukan uzlah cukup lama, Imam Ghozali membaca Qur’an tepat surat Yusuf ayat 110: “Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimana kaumnya) dan telah menyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada mereka (para rasul) itu pertolongan Kami, lalu diselematkan orang yang Kami kehendaki. Dan siksa kami tidak dapat ditolak dari orang yang berdosa.”

Dalam ayat tersebut, menjelaskan bahwa ketika seorang rasul itu mulai berputus asa dan didustakan oleh umatnya, maka akan datang pertolongan Allah. Hal ini kemudian yang menyadarkan Imam Ghozali, dari pemahaman sebelumnya yang menganggap bahwa menjadi wali cukup dengan beruzlah ke pemahaman bagaimana bisa seorang kiai malah menyendiri dari umat? Seperti itulah kira-kira apa yang ada dalam pikiran Imam Ghozali, kemudian, hal itu membuat beliau kembali pulang dari hutan.

Gus Baha’ menjelaskan ada dua sifat dari dakwah seorang rasul. Pertama didustakan dan kedua yakni disakiti dalam perjalanan dakwahnya. Jika menyendiri atau menyepi dari umat, bagaimana seorang yang dikatakan sebagai warasatul anbiya’ ini didustakan atau disakiti seperti para rasul.

Dari kisah di atas, kita dapat berpikir bahwa jika Imam Ghozali tidak melakukan kegiatan membaca apakah bisa beliau menjadi wali atau ahli ilmu seperti yang sekarang kita kenal? “Lagi-lagi, barokah dari membaca adalah tertolong.” Ujar Gus Baha’.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Ideologi Teroris dan Cara Memberantasnya

Ideologi teroris dan sikapnya dalam dasawarsa mutakhir ini semakin memiriskan. Pemenggalan demi pemenggalan atas nama agama mereka lakukan. Sungguh begitu banyak contoh untuk dibeberkan atau...

Pandemi Covid-19 Tak Kurangi Ancaman Radikalisme

Harakatuna.com. Jakarta-Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menyebut pandemi virus korona (covid-19) tidak menghentikan ancaman radikalisme dan terorisme. Hal itu terjadi di...

Serial Kebangsaan (I): Spirit Kebangsaan dan Kelalaian FPI

Sekitar semingguan kemarin, saya dapatkan sebuah buku yang cukup menarik dan tentunya masih relevan dibaca di era sekarang, apalagi buku ini baru saja launching....

Bom Mobil Meledak di Afghanistan, 30 Petugas Keamanan Tewas

Harakatuna.com. Ghazni-Sebuah mobil berisi bom meledak di Provinsi Ghazni, Afghanistan. Setidaknya 30 aparat keamanan tewas akibat ledakan tersebut. Seperti dilansir Reuters, Senin (30/11/2020), Direktur Rumah...

Uang Kertas Mengalami Perubahan Nilai, Bagaimana dengan Mekanisme Pembayaran Hutang?

Sudah kita ketahui bersama bahwa seiring perubahan zaman maka berubah pula nilai sebuah mata uang. Terdapat beberapa kasus yang memiliki inti permasalahan sama, yakni...

Eks Napiter, Haris Amir Falah Sebut Paham Radikalisme Mengancam Pancasila

Harakatuna.com. Solo – Munculnya paham radikalisme ekstrem yang tersebar di wilayah Indonesia mengancam Pancasila dan kedaulatan NKRI. Hal ini perlu diantisipasi, mengingat mereka telah...

Wanita dalam Pusaran Aksi Radikalisme dan Terorisme

Berbagai aksi terorisme dan radikalisme dalam beberapa dasawarsa ini kain “subur” terlebih di era milenial ini. Bergama aksi teror di Indonesia semakin banyak terjadi...