30.8 C
Jakarta

Pasca Bjorka, Pemuda Jadi Target Teroris di Ruang Digital

Artikel Trending

Milenial IslamPasca Bjorka, Pemuda Jadi Target Teroris di Ruang Digital
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Di tengah hiruk-pikuk hecker Bjorka yang meretas beberapa data penting Pemerintah, kita kembali bertanya, sejauh mana kesiapan Indonesia dalam menghadapi perkembangan digital ini? Jika para hecker masih leluasa keluar masuk melihat, mengambil, dan menyebarkan data-data orang Indonesia karena kelemahan pengaman Negara, bagaimana dengan pola-pola terorisme yang begitu fanatik menyebarkan pahamnya di digital? Apakah dengan peretasan atau penghapusan beberapa akun media sosial menjadi jalan keluar atas tragedi ini?

Melihat Dunia Cyber Kita

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) selalu mengabarkan bahwa penyebaran paham radikalisme di kalangan pemuda terus digencarkan kelompok radikal terorisme terutama melalui media sosial. Kondisi ini, dapat dikatakan bahwa pemuda atau pelajar dan juga media sosial merupakan dua poin strategis dalam transformasi paham dan perekrutan anggota kelompok radikal terorisme.

Artinya, kita sangat rentan sekali, terorisme menjelajah dan menyebarkan pahamnya di Indonesia. Ini karena, sekali lagi, tidak adanya keamanan dan penyaringan yang benar-benar tangguh yang dimiliki cyber Indonesia. Oleh sebab itu, terorisme jelas menjadi ancaman bagi peradaban modern sehingga terorisme bukan merupakan bentuk kejahatan kekerasan destruktir biasa. Melainkan sudah merupakan kejahatan terhadap perdamaian dan keamanan umat manusia di tengah digdayanya digital dan ketidaksiapan kita sebagai sebuah bangsa dan negara.

Namun demikian, jika di digital kita tidak mampu, lalu bagaimana cara menghindarkan diri dari serangan atau penyebaran paham radikalisme? Salah satunya barangkali kita kembali lagi dalam penguatan deradikalisasi dan moderasi beragama. Minimal ini berguna bagi pemuda dan orang-orang yang masih percaya dengan konsep deradikalisasi dan moderasi. Sayangnya, banyak anak muda yang apatis, bahkan tak jarang di antara mereka malah menertawakan konsep di atas, karena mereka beranggapan bahwa hal tersebut terkesan hanyalah proyek belaka.

Di sinilah masalahnya. Di satu sisi, mereka menjadi incaran para teroris di media sosial, karena mereka banyak menghabiskan porsi waktunya di dunia virtual, berinteraksi dan berkomunikasi melalui perangkat media sosial (facebook, twitter, youtube, dan sejenis lainnya). Sehingga teknologi digital mempengaruhi nalar, dan faktanya generasi milenial sudah banyak menjadi korban tapi mereka tidak sadar. Sementara itu, mereka tidak percaya bagaimana penguatan harus dilakukan dari bawah. Jika demikian kondisinya, bagaimana cara selanjutnya?

Yang Perlu Dilakukan

Barangkali yang bisa dilakukan adalah kita perlu memperbanyak narasi-narasi positif di media sosial. Dalam konteks keagamaan misalnya, orang-orang yang memiliki otoritas harus bersedia turun dari sajadahnya untuk memberikan secercah narasi dan konten keagamaan. Juga di beberapa lini seperti homo akademisi, mereka harus turun dari menara gadingnya, melakukan jihad narasi yang semestinya. Hanya itu yang bisa dilakukan, sebagai sumplai pengadaan narasi alternatif terkait apa yang kira-kira sering dicari oleh orang-orang, khususnya para pemuda muslim di Indonesia.

BACA JUGA  Seperti ACT: Yayasan Insantama HTI, Kapan Mau Dicabut Izinnya?

Selanjutnya, kita hanya bisa melakukan kontra narasi. Seperti web Harakatuna ini, tugasnya hanyalah memberikan kontra narasi terhadap narasi-narasi yang dikembangkan oleh kelompok radikal dan kanan. Tapi sayangnya, banyak masyarakat yang tidak suka dengan jalan kontra narasi ini, karena dianggapnya menyerang dan lain-lain.

Di sisi lain, mereka yang tidak suka ini, sering mengampanyekan moderasi agama dengan tema-tema mentereng “Tangkal Radikalisme di Indonesia,” dan tema-tema serupa. Tangkal radikalisme terorisme, saya rasa tidak hanya melakukan seminar dengan jumlah audiens yang terbatas itu dan tema-tema yang dipasarkan terlupakan. Tapi harus melakukan lompatan taktik dan strategi yang lebih jauh. Teroris geraknya di media digital, tapi kita melawannya di media nyata dengan program seminar?

Menggelorakan Kontra Narasi dan Narasi Alternatif

Tapi bukan di situ masalahnya. Masalahnya adalah kita mau tidak melakukan hal-hal ringan tersebut. Tak ada yang tunggal di dunia ini. Seperti gerak teroris, tidak bisa melakukan penangkalan hanya dilakukan oleh pemerintah dan aktivis media sosial saja. Untuk menutup pintu radikalisme agar tidak masuk, kita sebagai bangsa harus bergerak bersama membasmi narasi-narasi radikalisme dan memberikan pencerahan kepada publik bahwa radikal dan terorisme benar-benar ada, berbahaya, dan menghancurkan kehidupan publik.

Kontra narasi atau narasi alternatif sudah menjadi kewajiban digelorakan secara massif dan terorganisir dengan memanfaatkan pula teknologi digital secara massif. Bahkan harus diviralkan. Kendati, mengikuti logika digital, sesuatu yang viral orang cenderung dinilai sebagai sebuah kebeneran. Untuk itu, kontra narasi dan narasi positif harus diviralkan.

Ingat kata McLuhan, “kita yang membentuk alat-alat (digital) dan setelah itu alat-alat yang membentuk kita”. Berdasarkan fenomena ini, saya sepakat dengan pernyataan Faithe Wempen, “alat internet dan komputasi telah menyentuh setiap bagian dunia. Ini berarti bahwa jihad kontra narasi dan narasi alternatif di digital menjadi keharusan untuk mengikuti alur zaman yang terus berubah. Dan kita sudah berubah?

Agus Wedi
Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru