25.6 C
Jakarta

Palestina Bidik Anggota Penuh PBB

Artikel Trending

AkhbarInternasionalPalestina Bidik Anggota Penuh PBB
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Yerusalem – Palestina kembali mengajukan permohonan untuk menjadi anggota penuh PBB, Selasa (26/7). Laman Anadolu Agency menyebutkan, permohonan ini disampaikan melalui Pengamat Tetap Negara Palestina untuk PBB Riyad Mansour.

“Delapan tahun yang lalu, Majelis Umum PBB mengadopsi resolusi bersejarah yang menjamin status Palestina sebagai negara pengamat di PBB, dan sejak saat itu Palestina telah menunjukkan kemampuannya untuk menjadi pihak yang aktif dan berkuasa di komunitas internasional,” kata Mansour yang dikutip Middle East Monitor, Rabu (27/7).

Pada 29 November 2012, Majelis Umum PBB meloloskan resolusi yang memberikan status sebagai negara pengamat kepada Palestina. Namun, keanggotaan di PBB membutuhkan persetujuan dari Dewan Keamanan PBB. Dewan tersebut adalah satu-satunya badan di PBB yang memiliki kekuatan resolusi yang mengikat secara hukum.

“Kami memiliki hak untuk menjadi anggota penuh PBB, dan tidak ada alasan untuk menunda pertimbangan tentang hal ini,” kata Mansour sambil menambahkan, bangsa Palestina berhak menentukan nasib sendiri dan integritas wilayahnya telah terpatri di PBB.

“Resolusi Dewan Keamanan 2334 adalah jalan lempang untuk mengakhiri pendudukan (Israel),” ujarnya.

Mansour menambahkan, Dewan Keamanan PBB bertanggung jawab untuk memastikan Palestina meraih kemerdekaan dan kebebasan. “Nasib seluruh bangsa tidak dapat disandera oleh politik Israel atau agenda pemukim. Taruhannya terlalu tinggi. Masalah ini terlalu serius, implikasinya terlalu suram,” ujarnya.

Menurut Mansour, rakyat Palestina menghadapi ketakutan, pelecehan, intimidasi, penangkapan dan penahanan sewenang-wenang, serta cedera dan kematian. Menurutnya, rakyat Palestina akan terus menderita jika status quo dipertahankan dan prospek solusi dua negara tidak dihidupkan kembali.

Mansour mengatakan, pembicaraan damai yang bertujuan untuk menengahi penyelesaian konflik Israel-Palestina telah terhenti selama bertahun-tahun. Sementara, tidak ada pertanggungjawaban atas tindakan Israel, dan Dewan Keamanan PBB telah gagal untuk mengatasinya.

BACA JUGA  Erdogan Duga Serangan Bom di Beyoglu Istanbul Mengarah ke Terorisme

Mansour merujuk pada perang Israel di Jalur Gaza tahun 2021, pembunuhan jurnalis Palestina-Amerika, Shireen Abu Akleh, dan pemindahan paksa warga Palestina di wilayah pendudukan Tepi Barat dan Yerusalem Timur.

Sebelumnya, Wakil Koordinator PBB untuk proses perdamaian Timur Tengah Lynn Hastings mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB, ada rasa putus asa yang tumbuh di antara sebagian besar warga Palestina. Rasa itu mencuat terkait prospek mereka untuk kenegaraan, kedaulatan, dan masa depan. Menurut Hastings, harapan mereka untuk mencapai kebebasan mulai memudar.

“Secara internal, mereka juga melihat ekonomi Palestina yang runtuh dan terkekang, kurangnya kemajuan dalam memajukan persatuan dan reformasi pemerintahan intra-Palestina, dan kebutuhan mendesak untuk legitimasi baru bagi lembaga-lembaga nasional, termasuk melalui parlemen dan pemerintah yang dipilih secara demokratis di Palestina,” kata Hastings.

Menurut data PBB, sejak 27 Juni hingga 21 Juli, terdapat total 399 pembongkaran dan penyitaan properti Palestina. Hal ini membuat 400 warga Palestina mengungsi.

Selain itu, ada 27 serangan yang dilakukan oleh pemukim Israel dan warga sipil. Serangan-serangan itu melukai 12 orang dan merusak properti Palestina, termasuk 1.000 pohon zaitun.

Hastings mengatakan, pasukan keamanan Israel membunuh tiga warga Palestina dan melukai 287 lainnya, termasuk 28 anak-anak. Di sisi lain, secara keseluruhan 18 warga sipil Israel, termasuk dua wanita, dan tujuh anggota pasukan keamanan Israel terluka dalam penembakan dan serangan penikaman Palestina dan bentrokan lainnya.

Ahmad Fairozi
Ahmad Fairozihttps://www.penasantri.id/
Mahasiswa UNUSIA Jakarta, Alumni PP. Annuqayah daerah Lubangsa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru