31.1 C
Jakarta

Aksi Tipu-Tipu ACT: Mainkan Narasi Kesedihan untuk Mendapatkan Keuntungan

Artikel Trending

KhazanahTelaahAksi Tipu-Tipu ACT: Mainkan Narasi Kesedihan untuk Mendapatkan Keuntungan
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com- Konflik ACT nyatanya belum selesai. Kabar terbaru justru mengejutkan publik dengan ditetapkannya sebagai tersangka kepada 4 petinggi Lembaga filantropi ACT ini. Para tersangka yang dimaksud diantaranya: mantan Ketua Dewan Pembina ACT, Ahyudin, Ketua Dewan Pembina Yayasan, Ilham Akbari anggota Dewan Pembina Yayasan, Heyana Hermai, dan ketua Yayasan ACT Ibnu Khajar. Penetapan tersangaka ini diumumkan pada senin, 25 Juli 2022. Kasus yang bisa disorot dalam konteks ini yakni penyalahgunaan dana Boeing sebesar Rp34 miliar dari total Rp138 miliar.

Peyalahgunaan dana tersebut bisa diperinci sebagai berikut: besaran gaji yang diterima Ahyudin sebesar Rp400 juta, Ibnu Khajar Rp150 juta, Hariyana Hermain Rp50 juta dan Novariadi Rp100 juta. Donasi  masyarakat yang sangat besar dipotong sebesar 20-23%.

Tidak hanya itu, penyalahgunaan dana tersebut digunakan untuk pengadaaan armada teruk, sekitar 2 miliar, Rp 2,8 miliar untuk program big food bus, Rp8,7 miliar untuk pembangunan pesantren peradaban di Tasikmalayan, Jawa Barat. Selain itu, dana senilai Rp10 miliar, digunakan untuk Koperasi Syriah 212. Dana talangan CV CUN sebesar Rp3 miliar, dan dana talangan PT MBGS sejumlah Rp7,8 miliar. Sehingga total dana yang disalahgunakan tersebut senilai Rp34.573.069.200.

ACT dan hubungan baik dengan 212

Dari penyelewengan dana yang cukup fantastis itu, yang bis akita sorot adalah keterlibatan koperasi Syariah 212. Diketahui bahwa, koperasi ini merupakan implementasi/ tindak lanjut dari kegiatan Aksi 212 yang disebut penuh persaudaraan dan kebersamaan.

Hubungan erat yang kemudian bisa kita lihat dari dana 10 miliar ini menjadi salah satu indikasi besar yang bisa disimpulkan bahwa, Koperasi Syariah 212 juga memainkan narasi Islam untuk mendapatkan keuntungan. Jumlah dana yang sangat fantastis ini memiliki andil besar terhadap kampanye dan strategi yang dilakukan oleh 212. Sejauh ini mereka memiliki peran besar dalam politik Islam yang memainkan emosi umat Islam.

Fakta tersebut nyatanya dibantah oleh Novel Bamukmin dkk. Ia justru menjelaskan bahwa koperasi Syariah 212 memiliki jalur sendiri dalam gerakan kemanusiaan. Ia justru mengakui bahwa selama ini, gerakan kemanusiaan yang dilakukannya terhubungan dengan FPI serta nomor rekening milik koperasi Syariah 212 terhubung dengan sekretariat PA 212.

BACA JUGA  Cak Nur Menyerukan Kehadiran Agama Di Ruang Publik, Bukan Khilafah!

Meskipun bantahan tersebut terus disebarkan oleh para aktor dibalik PA 212, namun masyarakat bisa menilai bagaimana pola pergerakan yang dilakukan oleh PA 212 yang hampir sama dengan ACT, yakni melakukan perekrutan dengan mengambil suara umat Islam, memainkan konflik kesedihan, khususnya yang berkedok jargon dan simbol Islam.

Kumpulkan donasi umat, berkedok Islami

ACT adalah Lembaga filantropi yang sangat besar di Indonesia. Dalam memainkan isu kesedihan umat, ACT bukan main, sangat handal. Strategi marketing yang dilakukan, utamanya merekrut influencer Islami, ustaz-ustaz muda supaya kegiatan yang dilakukan cepat tersebar, tersusun dengan rapi. Tidak heran, mengapa dalam kasus ACT, banyak sekali kita menanyakan posisi para ustaz yang pernah menjadi aktor penting dalam skandal kegiatan ACT.

Ustaz Hilmi misalnya. Di laman twitter, ia ramai diperbincangkan karena ikut terlibat dalam banyak kegiatan yang diusung oleh ACT. Keterlibatan tersebut juga mengindikasikan hubungan yang sangat erat dengan ACT. Namun, dalam penjelasannya ia mengaku hanya membantu ACT dalam melakukan kegiatan, sehingga menurut pengakuannya, ia sama sekali tidak menerima dana sepeserpun atas apa yang dilakukannya pada kegiatan ACT.

Apa yang bisa dilihat dari fenomena di atas? pola yang dilakukan untuk ekspansi donatur lebih luas, menjadi poin penting dalam kegiatan ACT. Biaya para influencer agar kegiatan bisa dijangkau lebih luas oleh banyak orang, berbanding lurus dengan donasi yang diterima nantinya. Pola semacam ini yang membuat ACT dikenal oleh publik. Makanya, tidak heran, ketika ACT memproklamirkan tentang kesedihan umat Palestina, masyarakat muslim Uighur, dan kesedihan dibalik terjadinya bencana, hingga musibah lainnya, ACT mendapatkan feedback yang sangat besar, baik secara donasi ataupun keterlibatan para relawan di dalamnya.

Melihat Lembaga filantropi Islam, sebetulnya ACT hanyalah satu kasus dari sekian banyak Lembaga filantropi yang ada di Indonesia. Memutus rantai pergerakan ACT berarti menyelamatkan umat dari kebohongan dan penipuan berjamaah yang dilakukan oleh para aktor ACT. Mematikan ACT juga berarti menolong umat untuk tidak terjerumus pada jurang. Wallahu a’lam

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru