27.7 C
Jakarta

NKRI Belum Merdeka dari HTI, Khilafahisme Masih Mengancam

Artikel Trending

Milenial IslamNKRI Belum Merdeka dari HTI, Khilafahisme Masih Mengancam
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Sebaran poster HTI yang telah saya ulas sebelumnya, tentang narasi Syariah Yes, Khilafah Yes, Pancasila No, dan NKRI No ternyata bukan satu-satunya yang Khozinudin ucapkan. Propaganda-propaganda tentang urgensi khilafah menggema selalu darinya melalui berbagai platform, utamanya Instagram. Ini semakin menguatkan tesis bahwa hari ini, sejatinya NKRI belum merdeka. Khilafahisme masih jadi ancaman besar.

Setelah dibubarkan dan menjadi ormas terlarang, ternyata HTI masih tetap hidup tidak saja sebagai ideologi, melainkan sebuah gerakan. Gerakan yang dimaksud berupa gerilya indoktrinasi, mempertahankan militansi antarkader di satu sisi, dan memperbesar animo masyarakat terhadap khilafah dan negara Islam di sisi lainnya. Narasi induk mereka adalah “kejayaan Islam di masa lalu”, yang dianggap sebagai “era khilafah”.

Dari narasi induk tersebut, para pegiat khilafahisme membuat narasi turunan yang kontekstual, yaitu keadaan NKRI hari ini. Ada tiga aspek yang mereka sorot, yaitu agama, politik, dan ekonomi. Tiga aspek tersebut menjadi pangkal dari seluruh narasi mereka, yang membuat masyarakat semakin percaya akan urgensi khilafah. Terlepas dari ketidakjelasan khilafah sebagai sistem, HTI telah berhasil mengeksploitasi umat.

Artinya, jika dibiarkan, khilafahisme tersebut akan menggerus nasionalisme masyarakat Indonesia. Pertama umat Muslim dibuat merasa “tidak puas” dengan pemerintahan yang sekarang, siapa pun presiden dan apa pun partainya. Selanjutnya, umat Muslim didorong untuk membangun pemerintahan alternatif yang sesuai khitah Islam, lalu di situlah khilafah diajukan sebagai solusi atas semua masalah yang ada.

Masih merasa merdeka di usia NKRI yang ke-78? Ternyata keinginan untuk menegakkan khilafah semakin tinggi yang artinya nasionalisme terdegradasi. Pada saat yang sama, pemerintah hanya sibuk soal politik praktis, dan apparat seperti Densus 88 dan BNPT hanya sibuk momong teroris JI, JAD, dll. Sementara itu, HTI lepas dari penjagaan: dibiarkan liar, tidak ada tindakan, hingga gerakan transformatifnya semakin menunjukkan keberhasilan.

HTI dan Transformasi

Saya memaklumi jika aparat keamanan tidak menjadikan HTI sebagai ancaman. Secara de jure, HTI memang sudah mati sejak 2017 silam. Sama dengan FPI, HTI dianggap sudah teratasi dan tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Makanya, hari ini, kalau dicermati, kontra-terorisme ad hoc mengantisipasi teror jaringan Al-Qaeda-ISIS dan menyembuhkan para eks-napiter. Fokusnya ke situ; deradikalisasi.

Densus 88 dan BNPT sibuk dengan eks-napiter namun abai dengan HTI yang gerakannya hari ini jauh lebih efektif. Narasi induknya memang tidak berubah, yakni kejayaan Islam di masa lalu. Aspek yang disorot untuk mendestruksi nasionalisme masih tiga aspek tadi yakni agama, politik, dan ekonomi. Yang bertransformasi adalah pola indoktrinasi mereka, aktor-aktor penggeraknya, dan desain narasi khilafahisme itu sendiri.

Dulu, misalnya, HTI menggunakan pola halakah dalam menggaet kader. Di kampus, mereka punya Gema Pembebasan, yang rutin melakukan kajian tentang pentingnya mendirikan khilafah. Tapi hari ini, Gema Pembebasan tidak lagi ditemukan wujudnya. Tidak ada halakah di kampus, yang ada halakah di YouTube dan, terutama, TikTok. Algoritmanya membuat indoktrinasi khilafah jauh lebih luas daripada halakah konvensional.

BACA JUGA  Diagnosis Keliru Terhadap Problematika Umat Islam di Indonesia

Selanjutnya aktor penggerak. Dulu Ismail Yusanto, sang Jubir HTI, tampil ke publik menarasikan urgensi khilafah. Tokoh-tokoh pendukung juga hadir, namun orangnya itu-itu saja. Hari ini, Yusanto jarang sekali tampil, hanya dalam momen-momen tertentu. Aktor HTI yang sekarang lebih muda, ganteng, menarik, dan vokal public speaking. Siapa yang akan percaya bahwa Aab Elkarimi adalah aktor penggerak HTI?

Khozinudin dan Suteki juga salah satu di antara actor penggerak hasil transformasi HTI. Jadi, HTI merekrut simpatisan yang kompeten. Untuk melakukan narasi politik, mereka tonjolkan ahli politik. Untuk membahas ekonomi, mereka punya ekonom sebagai aktor. Bicara keagamaan, mereka punya resource yang lebih. Anak muda di TikTok, yang kebanyakan masyarakat urban awam, apakah paham siasat tersebut? Tidak. Itulah hebatnya HTI.

HTI dan narasi khilafah yang mereka suarakan hari ini sudah bertransformasi dari gerakan mereka sebelum dibubarkan. Maka, jika mereka diabaikan dan dianggap bukan ancaman, secara tidak langsung transformasi HTI menuai keberhasilan signifikan. Lihat hari ini, hasrat mendirikan khilafah semakin besar. Khilafahisme mengalahkan nasionalisme di kalangan remaja. HTI dibanding JI dan JAD lebih berhasil HTI, berkat transformasi gerakannya.

Diperlukan Ketegasan

Di sinilah ketegasan sangat diperlukan. Pemerintah tidak sepatutnya hanya menyorot teroris jaringan JI dan JAD, apalagi mengerahkan semua anggaran untuk menyembuhkan mereka. Eks-napiter tidak boleh terlalu dimanja, karena ketika akomodasi pemerintah sudah tidak mengalir, mereka akan merasa diabaikan dan berpotensi membelot kembali. Ini memang tidak dapat digeneralisasi karena sebagian besar eks-napiter memang benar-benar tobat.

Namun ini juga tidak dapat diabaikan. Aparat harus membagi fokus mereka terhadap spirit khilafahisme yang lain, yakni dari HTI. Para penggerak HTI bukan orang bodoh yang bisa dipandang sebelah mata. Mereka berpendidikan, dan target gerakannya adalah pemuda-pemuda dengan pengetahuan agama yang rendah. Bagi HTI, generasi muda merupakan kunci di mana khilafahisme akan semakin kuat jika pemuda dikuasai.

Bagaimana ketegasan yang dimaksud? Perlu keberanian seperti yang Jokowi tunjukkan ketika mengeluarkan Perppu pembubaran ormas HTI setengah dekade lalu. Jika narasi-narasi khilafah di TikTok tidak dapat ditindak karena bukan kategori pidana, mesti ada terobosan hukum baru yang dapat menjerat mereka. Bagaimana narasi seperti yang Khozinudin suarakan masih dapat ditoleransi, padahal benar-benar menarasikan pemberontakan?

Tegas dan akurat merupakan kunci untuk mengatasi khilafahisme yang masih menjerat NKRI ini. Negara ini belum merdeka jika nasionalisme, terutama di kalangan umat Islam, kalah dengan khilafahisme. Bagaimana sebuah negara dikatakan merdeka, sementara nasionalisme dijajah oleh spirit khilafah yang mendisintegrasi bangsa? Kemerdekaan di NKRI belum optimal, dan salah satu upaya optimalisasinya ialah tegas menindak HTI.

 Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Analis, Penulis

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru