30.2 C
Jakarta

Negara Tidak Boleh Kalah Hadapi Teroris

Artikel Trending

EditorialNegara Tidak Boleh Kalah Hadapi Teroris
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Umar Patek (Hisyam bin Alizein), mantan terpidana Bom Bali 1 kini bebas bersyarat, Rabu 7 Desember 2022. Setelah kebebasannya, ia berkeliling ke beberapa korban Bom Bali. Ia berkeliling dan bermaksud minta maaf.

Di beberapa hari, ia tampak berkunjung ke Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP) di Desa Tenggulun, Solokuro, Lamongan. Di yayasan yang dipimpin Ali Fauzi itu, Umar Patek meminta maaf terkait keterlibatan dirinya dalam tragedi bom Bali. Sambil menangis, pria asal Pemalang, Jawa Tengah itu meminta maaf kepada keluarga korban baik yang ada di dalam maupun di luar negeri.

“Saya tidak segan-segan dan tidak bosan-bosan menyampaikan permohonan maaf yang tak terhingga kepada seluruh korban bom Bali serta keluarga korban Bom Bali,” kata Umar Patek. Saya memohon maaf dengan penuh ketulusan dari hati saya. Baik yang ada di dalam negeri maupun di luar negeri. Apapun negara mereka, apapun suku bangsa mereka, apapun agama mereka, saya memohon maaf dengan ketulusan hati,” imbuhnya.

Bahkan setelah bebas, Umar Patek memberikan beberapa pengakuan. Salah satunya dia siap berkomitmen membantu pemerintah meredam paham radikalisme pada napi terorisme. “Saya sudah berjanji saya siap membantu untuk meredam paham-paham radikalisme terorisme kepada napi teroris di lembaga pemasyarakatan manapun. Serta saya insyaallah masih dalam komitmen saya yang sudah sering saya sampaikan terus menerus, “Saya akan membantu pemerintah dalam penanggulangan dan menyadarkan orang-orang ataupun memberi pemahaman bahaya terorisme dan radikalisme. Insyaallah saya siap menjadi duta perdamaian,” tegas Umar Patek.

Setelah itu Umar Patek mengucapakan apa yang sering diucapkan oleh napi teroris yang baru keluar dari penjara, yakni mengecam keras berbagai aksi kekerasan dan intoleransi. Dan ingat, Umar Patek adalah anggota kelompok Jemaah Islamiah. Secara praktik dan teologis, ia adalah orang yang paling fanatik terhadap keyakinan yang dijalankan oleh JA. Secara sosilogis, maka banyak orang tidak terima terhadap kebebesan Umar Patek ini. Sebab, dia pernah memberontak dan memiliki keyakinan bahwa di luar Islam adalah salah, dan negara Indonesia adalah toghut. Bahkan hal tersebut terjadi di dalam penjara.

Maka itu, tidak heran bila Perdana Menteri Australia Anthony Albanese keberatan atas pembebasan Umar Patek. Bahkan Anthony Albanese menggambarkan sosok Umar Patek memicu “kebencian” dan pembebasannya akan menyebabkan luka mendalam bagi keluarga korban di Australia yang mengalami trauma. Meski demikian Umar tetap dibebaskan setelah acara G20 bulan lalu.

Masyarakt masih ingat dara-darah yang mengalir di Bali itu. Serta daging-daging yang menempel di dinding-dinding cat putih itu. Darah dan daging itu adalah daging manusia, yang tidak bersalah. Mereka dihancurkan oleh perbuatan Umar Patek. Sebanyak 202 orang tewas, termasuk 88 warga Australia. Hingga kini, Umar Patek dan JA dianggap bertanggung jawab atas ledakan di dua klub di kawasan Legian, Bali di tahun 2002.

Secara mendadak, Umar Patek kini bebas. Terlihat teman-teman lamanya sudah menunggu kebebasannya. Kebebasannya terlihat mirip seperti Ali Imran. Tiba-tiba menyatakan setia kepada NKRI. Tiba-tiba pula, dia yang paling ingin menghabisi teroris dan radikalisme di Indonesia.

Diketahui, kini mengikuti program deradikalisasi yang dipimpin oleh Ali Fauzi. Ia ingin seperti Ali Imran. Katanya, Ia ingin menggunakan pengaruhnya untuk membujuk orang lain agar tidak melakukan tindakan terorisme. Sekarang Umar Patek bebas, dan polisi turut bertepuk tangan atas kebebasannya. Secara pongah, polisi mengatakan bahwa Kepolisian dan pemerintah Indonesia sebelumnya mengatakan Umar Patek sudah menyatakan setia kepada NKRI dan tidak radikal lagi. Karena itu ia dibebaskan.

Apa alasan Umar Patek menyesali perbuatan bejatnya dan setia kepada NKRI? Alasannya hanya merasa berdosa dan telah belajar dari kehidupan masa lalunya. Alasan lain keluarganya yang menjadi titik baliknya hingga bisa kembali ke pangkuan NKRI. Sebuah alasan seperti maling kambing di kampung saat ketahuan mencuri kambing tetangganya, ringan dan membosankan.

Namun atas semua itu, negara tidak boleh kalah sama terorisme. Teroris adalah orang yang kejam yang pernah membunuh manusia. Dia menghilangkan sisi kemanusiaan, menghilangkan keagamaan, menghilangkan mertabat kenegaraan, bahkan menghilangkan apa yang menjadi alasan Umar kembali setia kepada NKRI: keluarga dan Indonesia. Apakah pembaca Harakatuna yakin para teroris Indonesia benar-benar setia kepada NKRI?

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru