32 C
Jakarta

Menguji Konsistensi Etika dan Toleransi Muslim Indonesia

Artikel Trending

Milenial IslamMenguji Konsistensi Etika dan Toleransi Muslim Indonesia
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Pada abad XIV Hijriah atau abad XX Masehi kegairahan kesadaran tentang pluralisme umat Islam makin menyebar. Setiap kelompok saling memahami atau menghargai dengan kelompok lain.

Pada abad itu intensitas persatuan umat Islam terasa di Indonesia dan di seluruh dunia. Namun pada hari ini umat Islam harus terus berupayah melakukan moderasi beragama karena intoleransi dan radikalisme merongrong umat Islam dari dalam.

Fakta Keagamaan Indonesia

Kesadaran itu saling mengukuhkan lapisan umat manusia tentang perbedaan pemahaman dan keyakinan. Secara praktis juga timbul rasa empati pada kasus-kasus bom bunuh diri atas nama agama, mengkafirkan sesama, bahkan caci-maki antarpemeluk agama dan umat manusia. Dari problem itulah prinsip Islam mengalami keterbukaan atau kritikan.

Bahkan, pada tanggal 4 Februari 2019, Al-Azhar dan Vatikan menandatangani dokumen persaudaraan umat manusia di Abu Dhabi, yang kemudian disebut “Deklarasi Abu Dhabi”. Penandatanganan dua komunitas besar itu diharapkan dapat mendamaikan dan merajut niat bekerjasama mengatasi tantangan kemanusiaan, termasuk musuh umat manusia berupa terorisme (Kompas, 6 Februari 2019).

Namun, tak bisa dimungkiri pada sanjakala abad modern kini, esensi Islam mulai terabaikan, bahkan mengalami kekacauan. Disadari atau tidak, dimensi agama meluap namun jauh dari laku kesalehan. Ritus dakwah agama Islam tampak membuncah, tetapi lupa pada derma Islam, yang sejatinya mengajarkan welas asih dan menjadi tetirah antar kelompok, agama, sesama. Seperti yang disimbolkan oleh tokoh Zarathurusta, Nietzsche, “agama sudah mati!”

Anomali

Realitas yang terjadi akhir-akhir ini Islam santun menjadi Islam keras lewat keterpautan paham-paham ekstrem yang lemah akan sejerah Islam dan lemah dalam ajaran furu Islam. Di sini, pendekatan-pendekatan Islam jauh dari kedermawanan dan hanya berkelindan di tengah krisis akhlak manusia yang defisit spritualisme, sehingga penganut agama menjadi gamang.

Haidar Bagir dalam buku versi terbarunya Islam Tuhan Islam Manusia: Agmana dan Spritualitas di Zaman Kacau (2019), menyebut ikhwal itu dengan “dunia kita sedang meluruh dan zaman kacau” yang merindukan nilai spirit spritualisme dan Islam cinta. Falsafah kehidupan berbangsa, bernegara, dan beragama, yang memuat nilai filosofis dan ideologis tak menuai perubahan dan masih memdekam di sikap parsial. Bergerak menjadi sentrifugal atau seperti kata Haidar Baqir, “inilah zaman kemerlimpahan kegalauan, negeri tuna budaya, yang puncaknya penganut agama berada di zaman kacau hingga terpapar ideologi radikalisme-takfiri ”.

Menurut Haidar Bagir, maraknya sikap takfirisme yang lahir dari kelompok ektremisme keagamaan juga dipantik dengan ketimpangan ekonomi-sosial, kekacauan politik, sistem pendidikan yang rapuh. Kendati itu yang memperparah keadaan umat Islam mutakhir (meski tak semua). Inilah kelemahan peradaban Islam terkait dengan hakikat agama itu sendiri yang perlu diobati dan dipulihkan demi persatuan umat beragama, baik Islam maupun umat yang lain sehingga tak timbul kecemburuan sosial.

Oleh karena itu, Haidar Bagir memberi resep pada konflik-konflik yang makin terbuka di beberapa sekte atau mazhab itu dengan menyodorkan asas cinta spritualitas Islam. Itu sejatinya menyadarkan kita bahwa hubungan manusia dengan manusia lain disandarkan pada asas cinta-kasih dan menolak pada kemungkaran (nahi mungkar). Menolak kemungkaran harus dijauhkan dari sikap represif, kasar, pembunuhan dan lebih mengutamakan cara-cara persuasif dan kebijaksanaan dalam mengambil upaya penyadaran atau tindakan. Bahkan, amar makruf nahi mungkar ini selalu dan harus memiliki kesadaran budaya, kemasyarakatan, dan historisitas (kondisi) sosial sebagai bekal upaya yang dijalankannya, melalui penjangkaran sikap-sikap budi luhur agung, hati lapang, sabar, dan lakon kebaikan, seperti dalam ayat (QS al-Taubah [9]:112).

BACA JUGA  Aksi Bela Islam dan Politisasi Masjid

Toleransi Beragama

Mengenai posisi umat manusia dalam beragama dan posisi agama di antara umat ada di dua katub: agama Tuhan (hanya Tuhan yang tahu) dan agama manusia (Tuhan dan manusia yang tahu). Agama Tuhan yang diturunkan atau berasal dari Tuhan yang berpindah kepada wilayah manusia, harus ditafsirkan dalam konteks manusia.

Sebab, manusia tidak akan pernah bisa bicara tentang agama, kecuali dalam konteks manusia. Agama yang dikhususkan untuk manusia selaiknya tak (boleh) dilepaskan dari unsur-unsur atau kebutuhan manusia, begitu juga negara tak boleh lepas dari unsur kemanusiaan-kesejahteraan-berkeadilan. Itulah cara beragama dan bernegara kita yang diperoleh dari nilai-nilai Pancasila.

Sesungguhnya, yang paling penting pada zaman kacau ini adalah dakwah keagamaan harus selalu mempromosikan sikap dan narasi toleransi nan santun yang berorentasi pada prinsip dasar Islam cinta, dan menegakkan wasathiyya atau umat yang moderat seperti yang digambarkan dalam surah (QS al-Baqarah [2]: 143).

Etika Islam

Dengan demikian, etika dakwah Islam didasarkan pada prinsip moderasi beragama, keadilan, dan bersifat rasional. Bukan semata-mata yang hedonistik, utilitarianistik, dan deontologis. Etika dakwah semata-mata harus mendasar ke ragawi yang sejalan pada prinsip Islam dalam surat al-Rahman: 7. “meletakkan neraca keadilan”, sehingga, pemangku agama merasai surga yang dicita-citakan tercipta di dunia, kebahagiaan, kenyamanan, keasyikan, dan kesejahteraan.

Semenetara itu, kita harus terus membangun paradigma moderat, moderasi beragama demi mengupayakan rekonsilasi perdamaian keagamaan dan persatuan sesama umat manusia, yang hidup di alam semesta yang sama. Supaya cita-cita Islam, “menjunjung tinggi rasa kemanusiaan menjadi nyata”. Dan kita tahu, cita-cita Islam itu yang menjadi laku dan sabda nafas berkehidupan kita di dunia adalah khazanah kedamaian: bertawassut, bertawassun, i’tidal, dan bertasamuh dalam asas cinta.

Kiranya, dengan berislam berbasis cinta yang bersumber spritualitas, menjadi kunci keberlimpahan berkah bagi sesama. Maka, sudah waktunya rukun Islam dan rukun Iman dikembalikan kepada puncaknya, yakni rukun Ihsan pilar cinta agama. Kendati, seperti sabda Nabi “cinta adalah asasku” yang menjadi alasan kita menjejaki agama Islam di semesta ini. Cinta sebagai asas manusia beragama untuk mencintai semua.

Agus Wedi
Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru