31.1 C
Jakarta

Mengapa Hijrah adalah Topik Paling Ciamik Antek-Antek Khilafah dalam Berdakwah?

Artikel Trending

KhazanahTelaahMengapa Hijrah adalah Topik Paling Ciamik Antek-Antek Khilafah dalam Berdakwah?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com- Beberapa waktu lalu, saya mengikut kelas esai yang difasilitatori oleh Kalis Mardiasih. Dalam kelas tersebut, ada POV (Point of View) yang bisa diambil dari pertemuan adalah, alasan viralnya narasi yang disebarkan oleh para kelompok Islam konservatif. Ada satu tokoh yang sangat di spill oleh Kalis, yakni: Felix Siauw. Nama Felix, tidak hanya membumi di kalangan anak muda. Akan tetapi juga melangit di media sosial. Akun media sosialnya centang biru. Tulisannya tidak berbicara tentang marxisme, ataupun sosialisme. Namun, tentang hijrah dan percarian jati diri.

Tema ini barangkali merupakan tema receh, bahkan tidak penting untuk kita sebarkan. Namun, pada kenyatannya, topik tersebut gemar dibaca oleh anak muda dan tidak akan mati. Artinya, Felix yang sudah berumur lebih daripada umur dewasa itu, isu yang dibawa dalam dakwahnya tetap sama. Yakni tentang jodoh, dan hijrah memantaskan diri. Belajar dari Felix, segmentasi pasar dari konten yang ingin dikampanyekan itu sangat penting.

Di belahan dunia media sosial yang lain, selain Felix, akun-akun hijrah yang lain, seperti di Instagram yang diterapkan oleh akun @muslimahnews.id, konten yang disebarkan bukan konten yang esensial dan mencerminkan keilmuan pembuat konten. Justru, penggunaan kata seperti: bestie sholihah, bestie sesyurga, kerap meramaikan konten tersebut dan digemari oleh kalangan anak muda. Dari strategi inilah justru, kita belajar bagaimana segmentasi pasar yang dimiliki oleh kelompok di atas sangat terarah.

Apakah yang dibahas dalam konteks ini hanya sebatas konten? Ada misi besar yang diusung oleh kelompok-kelompok khilafah dalam menunjukkan kemandiriannya di media sosial, yakni menyebarkan ide khilafah kepada anak-anak muda melalui ajakan hijrah dan berislam secara kaffah. Strategi yang massif, kampanye yang cukup ciamik melihat umur, dengan isi konten yang ramah anak muda, menjadi salah satu hal yang perlu ditiru oleh kelompok-kelompok moderat.

Terkadang, membuat konten seperti kelompok khilafah justru sangat jarang dilakukan oleh kita sebagai kelompok yang berusaha melawan narasi mereka. Apalagi, konten tentang hijrah dan pencarian jodoh, untuk menuliskannya, sangat bertentangan dengan fokus keilmuan kita. Dianggapnya tidak idealis, atau tidak kredibilitas karena dianggapnya receh. Padahal, dari waktu-waktu, anak muda tidak pernah habis. Konten tentang hijrah dan pencarian jati diri, akan selalu dicari oleh anak muda, khususnya yang haus tentang agama dan mencari ketenangan diri. Dengan kebutuhan itu, kita perlu memetakan strategi pasar kepada anak muda, supaya konten yang kita buat, baik melalui tulisan, video ataupun ilustrasi, bisa dinikmati oleh semua kalangan.

BACA JUGA  Sustainability Kader HTI melalui Proses Dakwah di Lapas

Kampanye masif sangat diperlukan

Selain fakta di atas, ada beberapa hal yang bisa ditemukan dari para kelompok khilafah bahwa, apapun isunya, baik tentang buruknya Kesehatan, bencana alam terjadi, hingga kasus korupsi, mereka berupaya untuk menyebarkan narasi yang melemahkan sistem pemerintahan Indonesia, hingga ujung-ujungnya pendirikan negara Islam. Bagi orang yang sudah bergelut pada isu tersebut, narasi dari kelompok khilafah memang sangat membosankan. Namun, mereka justru tidak pernah bosan untuk mengaitkan segala bentuk masalah kepada solusi pendirian negara khilafah.

Melihat masalah yang demikian, upaya untuk melakukan kontra narasi terhadap narasi yang dikampanyekan oleh para kelompok khilafah, sampai kapanpun tetap dibutuhkan. Narasi mereka perlu dilawan dengan narasi alternatif, atau kontra narasi sebagai bahan perbandingan bagi pembaca. Namun, pada kenyatannya, kontra narasi saja tidak cukup untuk menjadi lawan main kelompok khilafah.

Kita perlu memetakan segmentasi pasar tulisan untuk menulis kekinian sesuai anak muda. Menyebarkan konten yang bisa menjangkau audience muda. Anak muda NU-Muhammadiyah, yang jelas jelas memiliki pengetahuan keagamaan dan kebangsaan serta nasionalisme tinggi, jangan terlalu dimabukkan dengan narasi yang harus bersifat akademik, menyajikan pemikiran para filsuf atau membuat narasi yang njlimet sehingga bisa membingungkan pembaca. Hal ini karena, narasi receh tentang patah hati, sakit hati dan hijrah lalu memantaskan diri, menjadi konten yang sangat ciamik dicari oleh anak muda sekarang. Tidak hanya saat ini, esok, atau di masa depan, konten itu masih relate dengan anak muda. Strategi itu bisa menjadi salah satu jalan untuk memperkenalkan Islam moderat, dan cara mencintai negara sesuai dengan aturan Islam tanpa berambisi untuk mendirikan negara Islam. Wallahu a’lam

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru