30.2 C
Jakarta

Mengamankan NKRI: Penangkapan Teroris dan Bahaya Nyinyirisme

Artikel Trending

Milenial IslamMengamankan NKRI: Penangkapan Teroris dan Bahaya Nyinyirisme
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Tim Densus 88 Polri menangkap satu teroris di Tebing Tinggi, Sumatera Utara. Indra Syaputro alias Ono, usia 43 tahun, ditangkap di sebuah bengkel mobil di Jalan SM Raja, Bandar Sono, Tebing Tinggi, pada Jumat, (16/12) sekitar pukul 13.00 WIB. Tim juga menggeledah kediaman Ono dan mengamankan sejumlah barang bukti. “Antara lain satu buah pedang, HP pelaku, satu busur panah dan tujuh anak panah,” terang Kabag Ban Ops Densus 88 Polri, Kombes Aswin Siregar.

Setelah itu Densus 88 juga mengembalikan sejumlah barang milik Ono. Di antaranya, satu unit mobil Xenia, uang tunai Rp 1.200.000, dompet berisi Rp 150 ribu, satu buah STNK, SIM A, SIM C, dan kartu debit. “Sekira Pukul 15.00 WIB, terduga teroris tersebut berikut barang bukti dibawa ke Mapolda Sumut untuk dilakukan pendalaman interogasi dan penyelidikan lebih lanjut,” imbuh Aswin. Walau begitu, Aswin belum membeberkan Ono berasal dari jaringan teror mana.

Saya membaca berita penangkapan Ono di media sosial. Karena tersedia kolom komentar, saya juga membaca komentar-komentar warganet ihwal berita terkait. Detik, Republika, dan Kompas memberitakan penangkapan Ono, dan semua media pers tersebut kena nyinyiran netizen. Rata-rata berkomentar menyangsikan Densus 88, juga tidak memercayai adanya terorise. Nyinyiran serupa adalah bahwa itu semua adalah tak lebih dari semarak akhir tahun: Nataru.

Ada tiga poin yang saya tangkap. Pertama, media pers mainstream tak lagi menarik bagi netizen dan mereka fokus terhadap isinya. Kalau dirasa tidak cocok, mereka akan berkomentar negatif, apa pun media persnya. Kedua, ketidakpercayaan pada terorisme. Ini kemudian mewariskan tradisi nyinyir-menyinyir, alias nyinyirisme. Ketiga, ketidakpahaman akan jaringan teror. Poin ini juga melanggengkan poin kedua hingga ke titik yang mengkhawatirkan untuk NKRI.

Jaringan Teroris

Teroris ditangkap di berbagai tempat dan dari berbagai kelompok tidak punya tujuan lain, yaitu mengamankan NKRI. Menjelang Natal dan tahun baru, utamanya, pengamanan harus ditingkatkan. Namun ketika seorang teroris ditangkap, tidak sedikit dari masyarakat yang menganggap langkah tersebut, sebagaimana yang Densus 88 lakukan, sebagai langkah asal-asalan. Ini yang jadi masalah pemantik nyinyirisme; banyak yang belum paham mengenai jaringan teroris.

Terorisme di NKRI memiliki trajektori ganda. Satu, ia berafiliasi dengan teroris global yakni Al-Qaeda dan ISIS, dan kedua, ia terafiliasi antarjaringan teroris lokal. Aparat sendiri sudah mengantongi jaringan teroris tersebut dan tinggal menunggu waktu yang pas untuk menangkapnya. Sementara teroris memang masih ada yang belum terlacak, namun peta terorisme di Indonesia bisa menjadi jawabannya. Jadi, intinya, penangkapan teroris tidak dilakukan dengan sembarangan.

Jaringan teroris, kendati begitu, sangat kompleks. Masyarakat biasa tidak mungkin mengetahuinya secara detail, kecuali segelintir dari mereka. Karena itu, penilaian mereka atas jaringan teror juga terbatas. Dan pada titik di mana ketidakpahaman itu ada, nyinyirisme menemukan momentumnya. Densus 88 pun dianggap sembarangan menangkap, tanpa dasar yang jelas kecuali “dugaan” dan menegasikan peta jaringan teroris yang telah dikuasai aparat itu sendiri.

Saya jelas bukan human Densus 88. Saya juga tidak ada kepentingan dengan mereka. Namun jika penangkapan dinyinyiri sebagai tindakan tanpa dasar, sama sekali tidak benar. Faktanya, bukan Densus 88 yang kurang data ketika menangkap teroris, melainkan memang ada semacam penggiringan narasi untuk tidak percaya NKRI, sistem pemerintahan hingga aparatnya. Dengan bahasa yang lebih gamblang, nyinyirisme tersebut tidak tercipta sendiri, tapi didesain oleh antek-antek teroris itu sendiri.

Musim Nyinyirisme

Penting untuk dicatat, nyinyirisme di sini bukan seperti yang dinarasikan seorang politikus beberapa waktu lalu. Nyinyirisme yang saya maksud bukanlah paham politik untuk menjelekkan rezim, sebagaimana yang politikus tersebut sampaikan. Saya memaknai nyinyirisme sebagai sistem politik untuk melemahkan NKRI, membuatnya tidak dipercaya warga negaranya sendiri, menjadikannya sebagai alat untuk menegakkan sistem yang dikalim lebih baik.

Karena itu, nyinyirisme tidak dipersonifikasi sebagai sistem temporal menuju Pilpres 2024, tetapi siasat merongrong NKRI dengan menggerus kepercayaan masyarakat terhadap segala aspek internalnya. Jaringan terorisme di negara ini tidak bisa dianggap sepele, sehingga nyinyir atas penangkapan teroris tidak semestinya terjadi. Kenyinyiran tersebut dicipta oleh para simpatisan kelompok teror, yang punya agenda untuk mendirikan khilafah dan daulah—menggantikan NKRI.

Musim nyinyirisme karena itu bisa berlaku sepanjang masa, selama NKRI tidak menjadi daulah. Sebab, pelakunya hanya ingin khilafah tegak, dan mereka akan berisik terus-menerus, terlebih jika yang ditangkap aparat adalah rekan-rekanya sendiri. Para teroris dan jaringan mereka tidak terima, dan satu-satunya cara teraman yang mereka tempuh adalah nyinyir. Biasanya menggunakan akun media sosial palsu, sehingga tidak terlacak dan selamat dari jeratan hukum.

Dengan demikian, penting bagi seluruh masyarakat untuk paham bahwa penangkapan teroris adalah bagian dari usaha mengamankan NKRI. Sementara itu, penganut nyinyirisme adalah mereka yang tidak pernah percaya dengan negara dan sistem pemerintahan dan hendak menggantikannya. Bagi penganutnya, nyinyirisme adalah sistem pemecah persatuan, pemantik intoleransi, dan pewaris radikalisme. Para nyinyirisme tidak sedang mengkritik Densus  88. Sebab aslinya mereka sedang mengolok-olok NKRI.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Mahasiswa SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru