24.6 C
Jakarta

Mencegah Bangsa Indonesia dari Keracunan Radikalisme

Artikel Trending

Milenial IslamMencegah Bangsa Indonesia dari Keracunan Radikalisme
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Ada banyak motif mengenai penyebab mengapa orang bisa ikut terjangkit virus radikalisme. Salah satunya adalah karena pemahaman agama yang salah dan terlalu skriptualis memahami teks-teks agama. Namun di sisi lain, masih banyak faktor yang sangat krusial, kental dan riil menjadi alasan mengapa radikalisme membumi di dalam masyarakat kita.

Dr Ngatawi Al-Zastrouw, mengatakan bahwa, di masyarakat yang rendah secara ekonomi, kurangnya pendidikan, atau pendidikan yang buruk, di sana rentan dalam paparan ajaran radikalisme. Dan ini tergambar di negara Indonesia kita.

Apalagi ditambah dengan runyamnya internet. Internet bisa mendangkalkan pengetahuan manusia. Internet juga menjadi alat untuk menyebarkan ajaran-ajaran ekstrem. Sudah banyak contoh anak-anak muda Indonesia pergi atas nama jihad ke Afghanistan. Mereka percaya apa yang dilihat di internet dianggap sebagai sesuatu yang nyata. Mereka mengira, janji-janji surga yang diperlihatkan di digital oleh ISIS dan Al-Qaeda dianggap nyata.

Sampai ke Afghanistan, kemudian anak-anak ini hanya menjadi tumbal. Mereka dijadikan tentera gratisan untuk berperang melawan musuh teroris Afghanistan (teroris menyebut musuh Islam). Anak-anak kemudian nyesal dan minta pulang ke Indonesia.

Tren jihad ini sangat pesat dan mengalami kenaikan sejak tahun 2012, 2014 hingga 2016. Oleh beberapa analitis, tran itu naik karena dipicu oleh gencarnya kampanye dan propaganda ISIS di media sosial seperti Youtube, Facebook dan Twitter sejak 2014 lalu. Suatu wahana aplikasi yang sangat dekat dengan orang Indonesia.

Kita tahu, di tahun-tahun 2014, ISIS menggunakan media sosial untuk menyebarkan propagandanya ajarannya. Di dalam propagandanya, ia terus menyerukan agar pengikutnya melakukan jihad global secara mandiri atau lonewolf, sehingga tren serangan terorisme menjadi naik, bahkan di semua sel-sel seluruh dunia.

Jalan keluar

Jalan kaluar supaya tak mudah termakan ajaran radikalisme atau hoaks adalah semua pihak mulai dari negara hingga keluarga harus terlibat dari ikhtiar membantenge diri dari kepungan radikalisme dengan cara-cara penguatan literasi digital. Atau negara memberikan narasi alternatif supaya masyarakat bisa memilih mana webiste yang baik untuk mempelajari ajaran agama yang moderat menurut versinya.

Sebab, secara sosiologis, kita, merupakan kunci penting dalam melakukan edukasi bagi anak-anak agar mereka memiliki kepekaan dalam menyikapi kesimpangsiuran berita, lebih-lebih ajaran agama. Betatapun, keluarga merupakan garda terdepan dalam proses penanaman wawasan literasi kritis di wahana digital.

BACA JUGA  Air Mata Kanjuruhan: Tragedi Sepak Bola dan Tanggung Jawab Indonesia

Keluarga berperan strategis dalam memberikan peringatan atau penyadaran dari bahaya ajaran ekstrem, radikalisme, dan hoaks yang timbul dari penyalahgunaan informasi di gawai. Radikalisme, dan hoaks berisiko tinggi—bisa memecah belah bangsa yang harmonis-pluralis menjadi bangsa pembenci dan intoleran. Bangsa yang dinamis menjadi bangsa yang brutalis. Dari agamaisasi kedamaian menjadi agamaisasi kekerasan.

Dalam konteks ini, kesalehan pikiran dan tangan-tangan individu keluarga sangat dibutuhkan. Karena, ketika praktik ajaran keagamaan di keluarga saleh, maka akan berdampak pada kesalehan sosial.  Kita tak boleh permisif dalam fenomena demikian. Tatapi kita semakin dituntut memiliki sikap saleh dalam penguasaan dunia digital untuk diberikan pada kerabat dekat dengan tanggungjawab kemanusiaan—melalui pendekatan mengikat, kritis, dan mendalam.

Ikhtiar membantengi dari pusaran radikalisme dan hoaks dengan menata etika komunikasi digital dikeluarga penting dilakukan, mengingat banyak orang-orang kecanduan gawai yang berdampak negatif pula pada informasi-informasi yang bertebaran atau yang ingin dibagikan.

Nalar kritis dan kehati-hatian menerima ajaran dan informasi sangat diperlukan. Pudarnya kejernihan ajaran agama, termasuk informasi, akibat kita tak mengenali, mengontrol diri sendiri, tak memberikan jeda waktu berpikir kritis untuk merenungi ajaran-ajaran dan informasi-informasi yang belum tentu betul benarnya, akurasinya dan kelayakannya.

Membantengi Diri

Oleh sebab itu, untuk membantengi diri agar tidak terprovokasi atau terjerumus keranah kejahatan yang ditimbulkan akibat ajaran radikalisme, kita harus bisa membatasi dan merelaksasi diri dari gawai, serta lebih mengutamakan etika, respek kepada person dalam pemberlakuan sebagai penerima pesan ajaran agama.

Atas semua itu, kita, bisa meninggikan bela rasa dan kejujuran atas kebenaran, ketimbang pongah dengan pemalsuan yang lama-lama disenangkan dengan kebohongan dan menimbulkan fitnah besar-besaran bagi umat manusia. Media massa harus difungsikan sebagai sarana penjaga moral dalam konsensus keadaban-kebangsaan serta kemanusiaan.

Kita perlu bekerja keras mengolah agama dan informasi digital. Kita perlu ketulusan bertukar pikiran supaya bisa membedakan mana ajaran yang benar, dan mana ajaran nirkebanaran. Dengan begitu, akhirnya, kita, bisa menjaga martabat keluarga, bangsa, agar tetap sehat jiwanya, terbebas dari polusi ajaran radikalisme dipikirannya.

Agus Wedi
Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru