26.8 C
Jakarta

Membungkam Mulut Ngabalin untuk Memberantas Propaganda Radikalisme

Artikel Trending

Milenial IslamMembungkam Mulut Ngabalin untuk Memberantas Propaganda Radikalisme
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – #Ngabalin trending di Twitter. Nama Ali Mochtar Ngabalin memang tidak asing di Republik ini. Saat ini, ia menjadi Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden RI. Viralnya Ngabalin di Twitter berkaitan dengan adu mulut dirinya dengan eks-pengacara Bharada E, Deolipa Yumara, di Catatan Demokrasi TVOne, pada Selasa (30/8), bertajuk “Rekonstruksi Sandiwara Sambo: Menguak Misteri Duren Tiga”. Ngabalin, dalam adu mulut tersebut, tampil terdepan membela Polri. Mulut Ngabalin pun jadi ejekan warga Twitter.

Baik. Saya perjelas di awal duduk perkaranya. Saat ini, kasus paling sensitif di negara ini adalah pembunuhan Brigadir J oleh Ferdy Sambo dan gengnya. Kasus tersebut menjadi sensitif setelah Sambo diketahui merupakan sosok di balik kasus KM50 tahun lalu. Keterlibatan Sambo dalam penembakan enam laskar FPI tersebut terjadi ketika ia di Satgasus Merah Putih. Keterlibatan itulah juga yang membuah kasus Brigadir J juga disorot sebagian kelompok Islam militan.

Misalnya, seperti diketahui, beberapa waktu lalu beredar narasi penyidikan kembali kasus KM50 karena dugaan kesamaan skenario dengan tewasnya Brigadir J. Kepolisian Indonesia bahkan juga jadi sasaran amuk warganet karena puluhan polisi terlibat skenario Sambo. Ada dentuman narasi yang keras di situ: Polri tengah disorot masyarakat mengenai integritasnya. Apakah ia, sebagai institusi negara, akan tegas mengadili Sambo dan kasus lain seperti KM50 atau justru memihak?

Kemarin kasus Brigadir J telah dilakukan rekonstruksi kejadian. Itu yang diperdebatkan di TVOne. Polri, lagi-lagi, dianggap tidak transparan dan eks-anggota Komisi III DPR Panda Nababan kemudian menyarankan Presiden Jokowi merombak total institusi Polri. Mulut Ngabalin pun beraksi seperti biasanya: galak, akrobatik, dan bak singa mik. Seperti buldozer yang meratakan kerikildan bebatuan, Ngabalin melindas semua lawan bicaranya tanpa kasihan.

Ternyata aksi adu mulut Ngabalin juga disorot kelompok sebelah. Ironisnya, yang disalahkan justru pemerintah secara umum, dianggap main-main dalam kasus besar di Indonesia dan melindas seluruh upaya mencari keadilan melalui mulut buldozer Ngabalin. Alih-alih dibenci secara personal, Ngabalin justru dianggap personifikasi negara. Masalahnya, bukankah itu berbahaya untuk integritas pemerintah sendiri? Dan karena tu, bukankah membungkam mulut Ngabalin bisa menjadi solusi?

Ngabalin yang Dibenci

Jalan pikirnya sederhana: jika kita ingin radikalisme tidak berkutik, maka jangan berikan mereka celah dari aib kita sendiri. Memberantas propaganda radikalisme setali tiga uang dengan menutup akses mereka untuk menebarkan propagandanya. Ngabalin adalah celah bagi kelompok radikal, dan dari mulut Ngabalin-lah para radikalis menebarkan isu ke publik bahwa pemerintah begini dan begitu. Semua lawan memang kalah pada Ngabalin, tapi efek sampingnya perlu dipikirkan juga.

Mengapa Ngabalin dibenci masyarakat? Mungkin sebagian akan menjawab karena inkonsistensi Ngabalin. Pada Pilpres 2019 lalu, ia adalah narator oposisi yang sangat keras, dan kini dirinya malah jadi buldozer pemerintah. Namun sebenarnya tidak seperti itu. Pembenci Ngabalin rata-rata beralasan karena mulut sampahnya. Coba saja ia berperangai baik, tidak suka misuh di TV, sekalipun ia berada di istana tidak akan dibenci. Toh banyak oposisi yang jadi koalisi dan aman-aman saja.

Dalam konteks Polri, yang diperdebatkan di TVOne kemarin, saya tentu tidak setuju perombakan Polri. Masalah Polri sebenarnya ada pada upaya institusi tersebut memenangkan hati masyarakat dengan menjaga integritas dan transparansi. Jika Sambo adalah dalang besar, maka eks-jenderal bintang dua tersebut harus dihukum dengan adil. Bahkan misalnya UU mengancam Sambo dihukum mati, Polri harus tegas untuk menghukum mati Sambo. Itu yang diinginkan masyarakat. Tidak perlu rombak institusi.

BACA JUGA  ACT:  Aksi Tipu Agama, Kemanusiaan, Hingga 1000 Warung Tegal

Tetapi, masyarakat yang pro-Polri pun akan susah menerima mulut Ngabalin yang sebegitu kasarnya. Alih-alih menjaga marwah Polri, Ngabalin bisa jadi justru semakin merusak citranya sebab ulah mulut buldozernya. Seharusnya, istana mengutus orang lain yang bisa menenangkan publik: membela integritas Polri sekaligus meneduhkan narasi panas yang beredar di masyarakat. Mengirim Ngabalin adalah sama dengan semakin menghancurkan integritas Polri itu sendiri.

Ngabalin yang dibenci masyarakat seharusnya bertaubat. Rekam jejaknya sebagai kader militan PII yang memainkan politik bawang alias politik hipokrit, yang jago debat, yang ahli menciutkan mental lawan, yang ahli lompat sana-sini sesuai kepentingan, sudah diketahui banyak orang dan mereka sudah tidak percaya lagi padanya. Memosisikan Ngabalin di saf pertama istana hanya akan menyemarakkan propaganda radikalisme. Faktanya, istana negara memang ada dalam sorotan mereka.

Istana Disorot Radikalisme

Tujuan saya adalah memberantas propaganda radikalisme. Sama sekali tidak ada kepentingan dengan Ngabalin. Tetapi jika Ngabalin menjadi dalang di balik maraknya narasi radikal akibat ulah mulutnya, ia juga harus bertanggung jawab dan pemerintah mesti berbenah diri. Citra santun, murah senyum, welas asih, memangku milenial, dan berpihak kepada wong cilik yang digemborkan istana apa gunanya jika mulut Ngabalin terus mengotori khalayak—menciptakan kebencian di mata masyarakat.

Dalam memberantas propaganda radikalisme, konter dengan keras memang keniscayaan. Artinya, tidak apa-apa kita mengonter narasi radikal dengan keras dan tegas, selama argumentasi kita kuat akan hal itu. Istana sudah punya dua jurus untuk itu, yakni hard approach dan soft approach, yang sama-sama mengedepankan humanisme. Masalahnya, mulut Ngabalin sama sekali tidak humanis. Tidak ada welas asih-nya dan yang terpenting: tidak layak mewakili istana.

Apakah tanpa Ngabalin propaganda radikalisme akan habis? Tidak juga. Saya tidak bilang demikian. Namun paling tidak kita telah menutup satu aib atau celah di mana dengannya para radikalis beraksi meracuni masyarakat. Sebab, propaganda radikalisme itu banyak sekali. Mereka menggunakan jalan apa pun, termasuk apa yang ada dalam diri kita sendiri. Sekalipun istana tidak berbuat apa-apa, ia bisa dicitraburukkan karena apa yang ada di tubuhnya: di tubuh istana ada Ngabalin.

Saya tidak tahu kapan Ngabalin berhenti jadi representasi istana. Mungkin sampai 2024, dan setelah itu ia akan melompat lagi entah ke mana, sesuai keahliannya dalam jurus politik bawang, seperti diilustrasikan Muhidin M. Dahlan, junior Ngabalin: profesional, non-loyalitas, dan berbayar. Yang jelas, ia harus puasa dari ruang publik, baiknya meninggalkan perdebatan di TV yang berakibat semakin terpojoknya negara oleh propaganda radikalisme.

Jangan sampai hanya karena mulut Ngabalin, propaganda radikalisme—terutama yang memanfaatkan kasus Brigadir J dan KM50—semakin marak. Radikalisme harus diberantas, dan begitu pula jalan menuju propagandanya harus dibungkam sekeras mungkin. Termasuk, yang harus dibungkam, mohon maaf, seperti yang saya katakan dalam tiga kata pertama judul tulisan ini.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Mahasiswa SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru