31.4 C
Jakarta

Masing-masing Saling Mengaku Paling Benar, Terus Mana yang Salah?

Artikel Trending

Islam dan Timur TengahIslam dan KebangsaanMasing-masing Saling Mengaku Paling Benar, Terus Mana yang Salah?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Masing-masing kelompok dalam Islam saling mengklaim paling benar. Mereka tidak menerima diklaim sebagai kelompok yang sesat. Sementara, untuk mengklaim orang lain sebagai kelompok yang sesat itu sangat getol. Bukan hanya sesat, tetapi juga kafir. Pertanyaannya kelompok mana yang benar? Apakah mereka benar semua? Jika mereka benar semua, terus siapa yang salah? Bukankah di samping kebenaran ada kebatilan?

Saya masih ingat pada saat belajar Ilmu Logika di pesantren dulu bahwa jika di antara banyak orang terdapat perbedaan pendapat, maka yang benar itu hanya satu. Konsep berpikir ini terus saya ingat bahwa di antara klaim masing-masing kelompok itu pasti ada yang benar dan ada yang salah. Ini bukan soal hitam dan putih atau benar dan salah. Tapi, penting menegaskan sesuatu agar tampak jelas kebenaran itu bukan kebatilan.

Persoalan benar dan salah itu disinggung dalam Al-Qur’an surah al-Isra’ ayat 81, bahwa sesuatu yang benar itu akan abadi dan sesuatu yang batil atau salah akan sirna. Perhatikan saja kisah musnahnya orang-orang yang menentang Allah Swt. seperti Fir’aun yang ditenggelamkan ke dasar laut, Qarun yang ditelan bumi, Abu Lahab yang diklaim celaka, dan masih banyak yang lainnya. Ini bisa jadi sama dengan musnahnya kelompok radikal di Indonesia, seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Jamaah Islamiyah (JI), dan lain-lain yang semuanya berakhir riwayatnya di negeri pluralis ini.

Kemudian, untuk mengetahui secara lebih jelas mana yang benar dan mana yang salah dapat diperhatikan dari beberapa hal: Pertama, Motivasi yang melatarbelakangi kelompok itu melakukan sesuatu. Jika motivasi untuk agama dan kemanusiaan, maka itu benar. Motivasi ini, sebut Franz Magnis-Suseno, menjadi standar benar-salahnya sesuatu. Motivasi ini dalam Islam dikenal dengan istilah ”niat”. Nabi Saw. berpesan: ”Innama al-a’malu bi an-niyat wa innama likulli imri’in ma nawa. Segala perbuatan tergantung pada niatnya, dan bagi seseorang adalah apa yang ia niatkan.”

Motivasi itu yang tahu sebenarnya hanyalah Allah Swt. dan si pelaku. Orang lain tidak bakal mampu mengetahui motivasi seseorang. Meskipun begitu, kebenaran akan selalu mengantarkan pada kedamaian, sebaliknya kebatilan akan pasti menjebak pelakunya pada kenistapaan. Perhatikan saja bagaimana penyesalan orang kafir setelah ditimpa siksaan yang cukup dahsyat dan pedih, padahal mereka selama hidup sombong dan menentang segala perintah Tuhan.

Kedua, Apa yang diperjuangkan. Kelompok radikal selalu berdalih bahwa perjuangan mereka hanya untuk agama Islam. Sementara, perbuatan mereka berseberangan dengan nilai-nilai perdamaian itu. Islam, sebagaimana maknanya, dipahami dengan agama yang cinta perdamaian dan kesejahteraan. Apakah aksi-aksi ujaran kebencian dengan klaim kafir dan aksi-aksi terorisme itu adalah bagian dari perjuangan untuk menebarkan perdamaian? Sungguh akal sehat akan membantah segala perbuatan kelompok radikal itu. Hati bahkan menegaskan bahwa perbuatan ekstrem mereka bertentangan dengan misi Islam itu sendiri.

Sedangkan, perbuatan kelompok yang menjunjung tinggi nilai-nilai moderasi itu dapat dibenarkan, karena perjuangan mereka sesuai dengan pesan Al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 143 yang menggambarkan tujuan penciptaan manusia sebagai umat yang moderat (ummatan wasathan). Umat yang moderat ini, sebagaimana disebutkan dalam surah Ali Imran ayat 110, termasuk umat terbaik (khaira ummah) yang dipercayai untuk berdakwah dengan memerintah yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar.

Kedua kriteria ini dapat dijadikan landasan beragama bagi umat manusia agar mereka tidak terjebak pada kelompok yang salah. Karena, sekali terjebak di dalamnya akan sangat sulit keluar. Mereka akan dipenjara dalam jeruji paham radikal yang membahayakan itu. Selain itu, agar umat ini tidak merugikan diri sendiri dan orang lain dengan kelalaiannya, seperti terjadinya perpecahan, pertumpahan darah, dan masih banyak yang lainnya.

Sebagai penutup, kebenaran itu sudah jelas kriterianya dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi. Tidak perlu dikaburkan lagi. Tinggal bagaimana umat ini menafsirkan kedua teks tersebut dengan baik dan benar. Penafsiran yang baik dan benar ini termasuk penafsiran yang komprehensif. Penafsiran ini akan mengantarkan pada perdamaian dan persatuan di tengah perbedaan yang ada.[] Shallallah ala Muhammad. 

Khalilullah
Khalilullah
Penulis kadang menjadi pengarang buku-buku keislaman, kadang menjadi pembicara di beberapa seminar nasional

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru