Skip to content
Harakatuna.com
  • X
  • Instagram
Kirim Tulisan

  • Editorial
  • Agenda
  • Khazanah
    • Inspiratif
    • Ekonomi Syariah
      Artikel yang membahas tentang ekonomi syariah
    • Literasi
    • Opini
    • Perempuan
    • Perspektif
    • Resensi Buku
    • Resonansi
    • Suara Pembaca
    • Telaah
  • Asas-asas Islam
    • Akhlak
    • Al-Qur’an
    • Fikih Islam
    • Hadist
    • Ibadah
    • Sirah Nabawiyah
    • Syariah
    • Tafsir
    • Tasawuf
  • Akhbar
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
  • Islam dan Timur Tengah
    • Islam dan Kebangsaan
    • Ulasan Timur Tengah
  • Milenial Islam
Home » Khazanah » Perspektif » “Log In” Deddy Corbuzier: Ini Alasan Kaum Radikal Kehilangan Panggung Digital

“Log In” Deddy Corbuzier: Ini Alasan Kaum Radikal Kehilangan Panggung Digital

405

Salwa Ridha Afiifah

15/04/2026

5
Min Read
Log In Deddy

Harakatuna.com – Di era algoritma, pertarungan ideologi tidak lagi berlangsung di ruang seminar atau forum tertutup, melainkan di layar media sosial yang ditonton jutaan orang. Siapa yang viral, dialah yang berpengaruh. Fenomena ini membuat ruang digital menjadi arena baru bagi berbagai narasi keagamaan, termasuk radikalisme. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kelompok radikal memanfaatkan medsos untuk menyebarkan ideologi eksklusif dan merekrut simpatisan baru. Namun, sejak ada program “Log In” di podcast Deddy Corbuzier, benarkah kaum radikal sudah kehilangan panggung?

Namun, perkembangan terbaru justru memperlihatkan arah yang optimistis. Program Log In dalam podcast Deddy Corbuzier menghadirkan diskusi lintas organisasi Islam dalam format santai dan komunikatif. Ketika perbedaan ditampilkan sebagai dialog, bukan konflik, publik menyaksikan praktik nyata moderasi beragama. Fenomena ini penting karena melawan radikalisme tidak cukup hanya melalui kebijakan formal, tetapi juga melalui penguasaan ruang digital yang populer.

Yang menarik dari episode lintas organisasi tersebut adalah keberanian mempertemukan perwakilan berbagai ormas Islam dalam satu ruang percakapan. Perwakilan Muhammadiyah, Persis, LDII, serta unsur Nahdlatul Ulama hadir untuk berbicara mengenai perbedaan dan titik temu mereka. Dalam konteks Indonesia yang plural, langkah ini memiliki nilai strategis.

Selama ini, sebagian kelompok radikal memanfaatkan perbedaan antar ormas untuk memperkuat narasi konflik. Mereka menonjolkan perbedaan sebagai bukti bahwa umat Islam tidak solid, lalu menawarkan ideologi tunggal sebagai solusi. Namun, ketika publik melihat tokoh dari berbagai organisasi duduk bersama, bercanda, dan berdialog tanpa ketegangan, narasi konflik tersebut otomatis melemah.

Dialog lintas organisasi juga menunjukkan bahwa perbedaan bukan ancaman, melainkan kekayaan. Muhammadiyah dengan pendekatan rasionalnya, Persis dengan semangat pemurnian, LDII dengan penekanan ukhuwah, dan NU dengan pendekatan kultural, semuanya menjadi warna dalam tradisi Islam Indonesia. Ketika keberagaman ini ditampilkan secara positif, generasi muda belajar bahwa perbedaan adalah sesuatu yang wajar dan dapat dikelola secara dewasa.

Pendekatan Santai: Strategi Efektif Kontra-Radikalisme

Salah satu kekuatan program Log In adalah gaya penyampaian yang santai. Dipandu oleh Habib Ja’far bersama Tretan Muslim dan Mamat Alkatiri, diskusi agama dikemas dengan humor dan bahasa sehari-hari. Pendekatan ini penting karena radikalisme sering berkembang melalui retorika keras dan narasi hitam-putih.

Humor mencairkan ketegangan dan membuka ruang refleksi. Pesan yang disampaikan secara santai cenderung lebih mudah diterima dibandingkan pesan yang konfrontatif. Generasi muda yang mungkin enggan mengikuti ceramah formal justru tertarik menyaksikan percakapan ringan yang relevan dengan kehidupan mereka. Dengan demikian, pesan moderasi tidak terasa menggurui, tetapi hadir secara alami dalam dialog.

Pendekatan ini sekaligus menunjukkan bahwa dakwah di era digital memerlukan inovasi. Narasi kebangsaan tidak harus disampaikan dalam format akademis yang berat. Ketika diskusi keagamaan dikemas secara komunikatif, audiens yang terjangkau menjadi jauh lebih luas. Podcast populer menjadi “majelis baru” yang menjangkau generasi muda secara langsung.

Viralnya episode lintas organisasi tersebut membuktikan bahwa narasi moderat memiliki pasar yang besar. Selama ini ada anggapan bahwa konten provokatif lebih mudah viral dibandingkan konten moderasi. Namun fenomena ini menunjukkan bahwa publik juga tertarik pada dialog yang menyejukkan.

BACA JUGA  Ancaman Algoritma: Fenomena Kesepian Sosial dan Tumbuhnya Radikalisme Digital

Ini menjadi sinyal penting bagi para pendakwah dan akademisi. Untuk melawan radikalisme, tidak cukup hanya memproduksi konten moderasi, tetapi juga memastikan konten tersebut menarik dan relevan. Podcast populer dengan jutaan penonton memiliki dampak signifikan dalam membentuk opini publik. Ketika konten moderasi berhasil viral, maka ruang digital tidak lagi didominasi oleh narasi ekstremisme.

Selain itu, viralnya dialog lintas ormas juga memperlihatkan perubahan perilaku audiens. Generasi muda cenderung mencari diskusi yang autentik dan tidak kaku. Mereka ingin melihat tokoh agama berbicara secara manusiawi, bukan hanya formal. Log In menjawab kebutuhan ini dengan menghadirkan percakapan yang ringan tetapi bermakna.

Pergeseran Otoritas Keagamaan di Era Digital

Fenomena podcast populer juga menandai pergeseran otoritas keagamaan. Jika sebelumnya otoritas agama didominasi oleh mimbar konvensional, kini ruang digital menjadi sumber pembelajaran baru. Generasi muda tidak hanya belajar dari kitab atau ceramah, tetapi juga dari diskusi lintas organisasi di media sosial.

Pergeseran ini dapat menjadi peluang sekaligus tantangan. Jika ruang digital diisi oleh narasi moderat, maka generasi muda memiliki referensi yang luas. Sebaliknya, jika ruang digital dikuasai oleh kaum radikal, maka risiko radikalisasi meningkat. Oleh karena itu, kehadiran diskusi lintas ormas dalam platform populer menjadi langkah strategis dalam menjaga keseimbangan narasi.

Podcast populer juga memungkinkan dialog lintas generasi. Tokoh agama yang hadir dapat menjelaskan perbedaan organisasi secara terbuka, sementara generasi muda dapat memahami konteksnya tanpa prasangka. Interaksi ini membantu membangun literasi keagamaan yang lebih sehat.

Dalam konteks kebangsaan, dialog lintas organisasi tersebut memiliki dampak yang signifikan. Indonesia dibangun di atas keberagaman, termasuk keberagaman dalam tradisi keislaman. Ketika organisasi Islam yang berbeda duduk bersama, publik melihat contoh nyata persatuan.

Narasi kebangsaan tidak lagi hanya slogan, tetapi dipraktikkan dalam percakapan. Ini menjadi kontra-narasi terhadap ideologi radikal yang sering mempromosikan eksklusivisme. Persatuan yang ditampilkan secara nyata lebih kuat dibandingkan retorika formal.

Lebih jauh, dialog lintas organisasi juga memperkuat kepercayaan publik bahwa perbedaan dapat dikelola melalui komunikasi. Ketika perbedaan dibicarakan secara terbuka, potensi konflik dapat diminimalkan. Ini menjadi pelajaran penting bagi masyarakat luas, terutama di tengah polarisasi yang sering terjadi di media sosial.

Fenomena Log In bukan sekadar konten hiburan. Ia adalah model baru kontra-radikalisme digital. Ketika organisasi Islam dengan latar belakang berbeda duduk bersama dalam percakapan santai, publik menyaksikan praktik nyata moderasi beragama.

Di tengah pertarungan algoritma, setiap episode dialog lintas organisasi menjadi ruang edukasi publik. Jika ruang digital terus diisi oleh percakapan seperti ini, maka radikalisme akan kehilangan panggungnya. Moderasi tidak lagi hanya konsep, tetapi menjadi budaya yang hidup di media sosial.

Podcast populer telah menunjukkan bahwa dialog dapat viral, bahwa persatuan dapat menarik perhatian, dan bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan. Ketika moderasi menjadi arus utama, Indonesia tidak hanya melawan radikalisme dengan kebijakan, tetapi juga dengan budaya dialog yang tumbuh di ruang digital, episode demi episode.

#BhinnekaTunggalIka, #Indonesia #Anti #Radikalisme, Cegah Radikalisme, Ekstremisme, Islam Kaffah, Login, Radikalisme, Terorisme

Salwa Ridha Afiifah

Penulis & analis riset digital dan ekstremisme

Leave a Comment Cancel reply

Related Post

Roblok Dakwah

Roblox: Mimbar Dakwah atau Ladang Propaganda Baru?

Harakatuna.com – Dahulu, mimbar dakwah identik dengan masjid, majelis taklim, atau ruang-ruang pengajian. Di sanalah seorang dai berdiri menyampaikan pesan agama kepada jamaah

by

Tri Marhatun

20/07/2026

Moderasi Nabi

Menelisik Moderasi Beragama Perspektif Nabi; Strategi Kontra-Terorisme?

Harakatuna.com – Dua dekade terakhir, isu terorisme dan ekstremisme berbasis kekerasan telah menjadi salah satu tantangan terbesar bagi banyak negara, termasuk Indonesia. Berbagai

by

Fajar

17/07/2026

MBG

MBG dan Terlalu Banyaknya Bumbu Agama

Harakatuna.com – Ada satu hal yang menarik dari negeri ini: apa pun urusannya, kalau sudah dibumbui agama, apalagi tokoh agama ikut berkomentar, rasanya

by

Jafar S Abdurakhman

15/07/2026

Kebangsaan Generasi Muda

Menelisik Etika Kebangsaan Generasi Muda di Era Polarisasi

Harakatuna.com – Di hampir setiap fase penting perjalanan bangsa, generasi muda selalu tampil sebagai aktor yang menentukan arah sejarah. Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah

by

Miftakhul Huda Arrofi’

13/07/2026

Perpres Bangsa

Perpres 111/2025 dan Masa Depan Ketahanan Bangsa di Era Perang Narasi

Harakatuna.com – “Perang masa depan bukan lagi semata dipertarungkan dengan peluru, rudal, atau kekuatan militer. Ia berlangsung melalui perebutan gagasan, informasi, budaya, hingga

by

Ikhsan Maulana

10/07/2026

Hijrah Muharram

Hijrah Sebatas Tren: Muharram, Medsos, dan Tantangan Kita

Harakatuna.com – Muharram kembali hadir sebagai penanda pergantian tahun dalam kalender Islam. Setiap kali bulan ini tiba, ruang digital seolah mengalami perubahan suasana.

by

Muhammad Taofik

08/07/2026

Latest Post

Generative AI Terorisme

21/07/2026

Generative AI dan Generating Terror: Ketika AI jadi Pengganda Kekuatan Terorisme

cv

21/07/2026

Kekerasan Proksi atau Conveyor Belt? Mengurai Dilema Hizbut Tahrir dalam Kajian Terorisme

Memahami Hakikat Zikir di Tengah Pusaran Kesibukan Dunia

21/07/2026

Memahami Hakikat Zikir di Tengah Pusaran Kesibukan Dunia

Polisi Pastikan Ledakan Bom Rakitan di Sekolah Padang Bukan Aksi Terorisme

21/07/2026

Polisi Pastikan Ledakan Bom Rakitan di Sekolah Padang Bukan Aksi Terorisme

Polri Tegaskan WN Palestina yang Ditangkap di Indonesia Berstatus Buronan Terorisme Interpol

21/07/2026

Polri Tegaskan WN Palestina yang Ditangkap di Indonesia Berstatus Buronan Terorisme Interpol

20/07/2026

Yaman Siapkan Pernyataan Penting, Ketegangan Timur Tengah Kian Memanas

penembakan

20/07/2026

Penembakan Massal di Sekolah

Roblox: Mimbar Dakwah Digital atau Ladang Propaganda bagi Generasi Muda?

20/07/2026

Roblox: Mimbar Dakwah Digital atau Ladang Propaganda bagi Generasi Muda?

20/07/2026

BNPT Perkuat Literasi Digital dan Kolaborasi Cegah Radikalisme di Ruang Siber

20/07/2026

Pelajar Kalsel Diajak Cerdas Bermedia Sosial untuk Cegah Hoaks dan Radikalisme

Popular

Densus 88 Tangkap Terdugga Teroris Afiliasi JI

Bus Pembawa Anak-Anak Jadi Target Bom Saudi di Yaman, 29 Orang Tewas

Catatan Akhir Tahun 2019: Terorisme Musuh Semua Negara dan Agama

Dalil Doa dan Amalan Mengusap Mata Saat Adzan

Makna Rahmat dalam Al-Qur’an Al-Karim

Bagi Istri, Ridho Allah Itu Ada Pada Ridho Suami

Hadis Nabi, Di Akhir Zaman Islam Tinggal Nama Saja

Berapa Usia Para Istri Rasulullah Ketika Dinikahi? Ini Jawabannya

Harakatuna ©2026

Maintenance and Developed by Pondokgue Digital

Perdoman Media Siber Redaksi

KIRIM TULISAN