Memahami Hakikat Zikir di Tengah Pusaran Kesibukan Dunia

Ahmad Fairozi, M.Hum.

21/07/2026

5
Min Read
Memahami Hakikat Zikir di Tengah Pusaran Kesibukan Dunia

Harakatuna.com – Kesibukan manusia saat ini tampaknya semakin tidak terelakkan. Kita banyak melihat orang-orang dikendalikan oleh rutinitas mereka sehari-hari. Sebagiannya memiliki jam disiplin yang ketat, sebagian lagi memiliki jam kerja yang bebas. Namun, semuanya tetap harus bekerja, baik pekerja yang terikat dengan birokrasi, perusahaan-perusahaan, ataupun pekerja lepas.

Dengan rute aktivitas yang begitu padat, sempatkah kita meluangkan waktu untuk mengingat Sang Maha Pemberi segalanya—di samping Dia sendiri memerintahkan kita untuk memperbanyak mengingat-Nya?

Sebagaimana firman Allah Swt. dalam Al-Qur’an Surah Al-Jumu’ah ayat 10 berikut:

وَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Artinya: “Dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.”

Ayat di atas merupakan alarm bagi kita di tengah padatnya aktivitas setiap hari. Dan sekarang kita akan menjawab pertanyaan di atas dengan mulai membiasakan diri memperbanyak mengingat Allah Swt. Namun, sebelum itu, kita akan mengetengahkan makna zikir itu sendiri.

Esensi Zikir

Salah satu ayat yang menegaskan kepada kita untuk memperbanyak zikir adalah Surah Al-Ahzab ayat 41 berikut:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوا اللّٰهَ ذِكْرًا كَثِيْرًاۙ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah dengan zikir sebanyak-banyaknya.”

Ayat tersebut dengan lugas menjelaskan tentang pentingnya mengingat Allah Swt. dalam kondisi apa pun. Sebab, zikir (mengingat Allah Swt.) tidak dibatasi oleh waktu maupun tempat. Di mana pun dan kapan pun, zikir senantiasa memiliki ruang dalam hati setiap hamba yang beriman.

Paparan di atas seirama dengan pengertian zikir yang dijelaskan oleh Syekh Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi dalam kitab Al-Hikam al-‘Atha’iyyah: Syarh wa Tahlil, (Damaskus: Dar al-Fikr, 2019), jld. 4, hlm. 59 berikut:

حَقِيقَةُ الذِّكْرِ أَنْ يَبْقَى الْقَلْبُ مُتَعَلِّقًا بِاللَّهِ فِي جَمِيعِ الْأَحْوَالِ

Artinya: “Hakikat zikir ialah hati tetap bergantung kepada Allah dalam semua keadaan.”

Keterangan Syekh Al-Buthi tersebut menegaskan bahwa hal yang sangat prinsip di dalam berzikir adalah keadaan hati yang senantiasa terhubung dengan Allah Swt. Dengan demikian, semestinya zikir lisan yang dilakukan merupakan pancaran dari kesadaran hati akan kehadiran Allah Swt.

Dalam pemahaman yang sederhana, zikir dapat dipahami sebagai kondisi hati saat mengingat Allah Swt. Karenanya, jika ingatan seseorang tertuju kepada Allah Swt., maka bisa dikatakan dia sedang berzikir kepada-Nya. Hal ini sebagaimana yang disinggung oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din, bahwa zikir merupakan kondisi seseorang saat menghadirkan Yang Diingat (Allah Swt.) di dalam hatinya.

Adapun dalam dimensi makna zikir yang lebih mendalam, Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari dalam Miftah al-Falah wa Mishbah al-Arwah fi Dzikr Allah al-Karim al-Fattah memaparkan:

الذِّكْرُ هُوَ التَّخَلُّصُ مِنَ الْغَفْلَةِ وَالنِّسْيَانِ بِدَوَامِ حُضُورِ الْقَلْبِ مَعَ الْحَقِّ

Artinya: “Zikir adalah melepaskan diri dari kelalaian dan lupa melalui kesinambungan hadirnya hati bersama Allah.”

Ulasan makna zikir yang dikemukakan Syekh Ibnu Atha’illah tersebut mengarahkan kita untuk dapat memahami penjelasan Abu Yazid Al-Busthami tentang hakikat zikir.

Dalam kitab Hilyat al-Awliya’ wa Tabaqat al-Asfiya’ jilid 10, Al-Hafizh Abu Nu’aim Al-Ashfahani mengulas pemaknaan hakikat zikir Abu Yazid Al-Busthami sebagai berikut:

BACA JUGA  Cegah Fatwa Instan di Media Sosial, Bahtsul Masail Bahas Emas Digital hingga Gift TikTok

حَقِيقَةُ الذِّكْرِ أَنْ تَنْسَى الذِّكْرَ بِالذِّكْرِ

Artinya: “Hakikat zikir ialah engkau melupakan zikir itu sendiri karena tenggelam dalam zikir kepada Allah.”

Meskipun Abu Yazid Al-Busthami memaknai zikir sampai pada tataran puncak kesadaran tertinggi (maqam fana’), Islam tetap membuka jalan kepada siapa pun melalui dimensi praktisnya.

Selain itu, zikir tidak hanya sekadar perbuatan hati, tetapi juga dapat dilakukan dengan lisan. Bahkan, yang terbaik adalah ketika kita mampu berzikir dengan lisan sekaligus dengan hati.

Hal ini sebagaimana komentar Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar jilid I (Dar al-Minhaj, hlm. 9) bahwa:

الذِّكْرُ يَكُونُ بِالْقَلْبِ، وَيَكُونُ بِاللِّسَانِ، وَأَفْضَلُهُ مَا كَانَ بِالْقَلْبِ وَاللِّسَانِ جَمِيعًا

Artinya: “Zikir itu dapat dilakukan dengan hati dan juga dengan lisan. Sementara zikir yang paling utama ialah yang dilakukan dengan hati dan lisan secara bersamaan.”

Walhasil, uraian di atas mengantarkan kita sampai pada benang merah bahwa zikir (mengingat Allah Swt.) bukanlah satu bentuk utuh ritual ibadah dengan mekanisme tertentu—yang hanya bisa dilakukan di atas hamparan sajadah atau duduk berwirid di majelis-majelis zikir.

Lebih dari itu, zikir adalah kesadaran hati akan kehadiran Tuhan dalam setiap gerak tangan, langkah kaki, serta dalam setiap aktivitas dan rutinitas kita. Karena salah satu hakikat zikir sebagaimana yang disarikan dari penegasan ulama tasawuf adalah hadirnya Yang Diingat (Allah Swt.) di dalam hati.

Al-Qur’an dalam Surah Ali ‘Imran ayat 191 menjabarkan:

الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ

Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring.”

Satu hal penting yang perlu kita pahami dan sadari, bahwa di mana pun dan kapan pun manusia tidak pernah lepas dari genggaman qudrah dan iradah Allah Swt.

Dalam kehidupan dengan rute aktivitas yang padat ini, saatnya kita berusaha mendawamkan hati dalam kesadaran akan dimensi ketuhanan. Bukankah Dia telah mengabarkan kepada kita dalam firman-Nya pada Surah Qaf potongan ayat 16 berikut:

وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ

Artinya: “Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”

Selain itu, mungkin dari sinilah kita akan menyadari makna sesungguhnya ayat 28 pada Surah Ar-Ra’d, di mana ketenangan jiwa dan pikiran yang hakiki bersumber dari hati yang terhubung serta menyadari kehadiran dan kemahadekatan-Nya:

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ

Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.”

Pada akhirnya, hakikat keberhasilan seorang mukmin bukan diukur melalui sejauh mana hari-harinya disibukkan dengan berbagai aktivitas dan jadwal yang padat. Akan tetapi, letak keberhasilan sesungguhnya bagi seorang mukmin adalah pada setiap keadaan, sementara hatinya tidak pernah lalai dari berzikir kepada Allah Swt.

Wallahu a’lam bish-shawab.

OIeh: Muhammad Rosyidi (Alumni Ma’had Aly Situbondo dan pengajar di Pondok Pesantren Assholihiyah Santong, Terara, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.)

Leave a Comment

Related Post