Ancaman Algoritma: Fenomena Kesepian Sosial dan Tumbuhnya Radikalisme Digital

Nailul Hakim 'Izzul Anwar

29/05/2026

6
Min Read
Algoritma Radikalisme Digital

On This Post

Harakatuna.com – Manusia kini hidup di zaman modern, dimana semua serba canggih. Namun ditengah-tengah dunia ini, terdapat keramaian yang terasa ganjil. Jalanan ramai terlintasi kendaraan, lini masa penuh percakapan, tongkrongan penuh tawa. Tetapi, juga banyak hati yang berjalan seperti rumah kosong, lampunya menyala tapi tanpa penghuni.

Kehidupan kini semakin banyak orang mudah terkoneksi, namun semakin sulit pula untuk merasa dimiliki. Media sosial telah menjelma menjadi pasar malam dalam jumlah besar: riuh, terang, dan bising. Tetapi ketika layar media sudah dimatikan, maka kesunyian panjang akan hadir kembali.

Fonomena tersebut kemudian secara perlahan melahirkan krisis baru dalam masyarakat modern berupa kesepian dalam bersosial. Kesunyian hari ini bukan hanya sekedar tidak memiliki teman bicara. Melainkan perasaan yang tak di pahami, tidak dianggap, sehingga tidak menemukan tempat kembali secara emosional.

Kebanyakan tumbuhnya anak muda dibawah tekanan yang semakin kompleks: persaingan ekonomi, tuntutan eksistansi digital, standar kehidupan, hingga kecemasan masa depan. Sementara ruang untuk mendengar justru semakin sempit. Akibatnya anak muda terlihat sehat dipermukaan, tetapi secara diam-diam rapuh dalam dirinya.

Algoritma perlahan membuat manusia terjebak dalam ruang digital yang berisik namun terasa hampa. Kerap kali individu menghadapi tekanan dari faktor lingkungan sosial maupun  ekonomi. Dalam penelitian Jean M Twenge dan Joiner berjudul Hubungan Antara Waktu Menatap Layar dan Kesejahteraan Psikologis di Kalangan Anak Muda (2018).

Penjelasan dari penelitiannya “meningkatnya waktu menatap layar berkaitan dengan menurunnya kesejahteraan psikologis anak muda”. Fenomena ini masih memiliki keterkaitan dengan gagasan Karl Marx tentang Teori Keterasingan Sosial (Social Alienation Theory).

Karl Marx melihat “manusia kehilangan makna kemanusiannya ketika hidup hanya berjalan secara mekanis dan dikendalikan oleh sistem”. Jika pada masa revolusi industri dulu manusia terasingkan oleh mesin pabrik, kini menjelma lewat algoritma digital. Memang tidak terasa secara langsung, tetapi perlahan membuat manusia terhubung dengan layar tapi asing dalam kehidupan nyata.

Jika dikalkulasi, tentu potensi radikalisme dari dulu era 90-an sampai sekarang sudah banyak yang siap untuk mengekspansi kelompoknya dalam berbagai bentuk. Kelompok radikal memanfaatkan media sosial untuk menambah anggotanya dengan cara menyusup diberbagai konten.

Maka dari sisni sudah bisa terbaca bahwa kelompok radikal tidak selalu datang dengan simbol peperangan maupun teriakan kebencian. Mereka bergerak seperti maling yang menyusup rumah tanpa kunci. Kelompok ini bisa hadir lewat konten keresahan hidup, kajian agama yang terpotong, hingga kolom komentar yang dipenuhi narasi intoleransi dan kebencian.

Generasi Tanpa Ruang Pulang

Anak muda hari ini hidup di tengah dunia yang serba cepat sepeti kedipan mata, disisi lain ia juga kehilangan tempat ketenangan. Kehidupan mereka dibersamai dengan notifikasi, tuntutan eksistensi, dan tekanan untuk terlihat baik-baik saja. Jiwa kesolidaritasannya dengan manusia setempat sudah hilang, karena gaya digitalisasinya sendiri.

Ilmuan sosiologi dari polandia Zygmunt Bauman (1925-2017), pernah menjelaskan bahwa manusia hidup dalam hubungan yang cair dan rapuh. Manusia mudah terkoneksi, tetapi juga sulit membangun kedekatan secara utuh. Akibatnya, banyak anak muda merasa memiliki banyak relasi, namun juga sepi tempat untuk pulang secara emosional.

Dari narasi diatas sudah cukup menggambarkan bahwa kini penyebab anak muda terseret narasi radikal ialah hilangnya ruang interaksi dalam kehidupannya. Sekarang anak muda sering berinterkasi dengan layar kaca dibanding insan sekitarnya.

Waktu mereka terkuras didalam ruang digital, sementara ruang diskusi, majelis keilmuan, dan komunitas sosial di lingkungan sekitar sudah mulai diabaikan. Dampaknya, anak muda mulai mengalami keresahan hidupnya. Mereka mudah mencari jawaban melalui media internet dibanding bertemu langsung dengan ilmuan.

Situasi seperti ini secara perlahan membuat algoritma mencuri peran sebagai guru baru. Awalnya, anak muda sedekar mencari konten hijrah, keresahan hidup, atau kritik sosial namun secara perlahan mereka diarahkan pada vidio yang serupa. Kemudia mereka tertarik untuk mendalami kajiannya dan selalu mengulang vidio itu.

Yusuf Qardhawi (1926-2022) mengingatkan bahwa ketika memahami agama tanpa ada bimbingan keilmuan akan menumbuhkan sikap berlebihan dalam beragama. pemahaman agama dari potongan teks atau vidio sering kali memahami islam sebatas kemarahan tanpa nilai rahmat dan kebijaksanaan sosial.

Oleh karena itu ruang sosial seperti majelis ilmu, komunitas pemuda, dan kegiatan sosial sangat urgensi untuk dihidupkan kembali. Supaya anak muda tidak tumbuh sendirian dibawah algoritma. Sebab lingkungan yang sehat dan ruang bercerita bisa mencegah terjebak dari solidari semu dan narasi kebencian. Radikalisme melalui jalur digital adalah tentang manusia yang kehilangan jiwa kedekatan sosial. Ketika ruang ruang pulang dikehidupan nyata mulai hilang, media sosial akan mudah menjadi tempat pelarian bagi kegelisan yang tak menemukan jawaban.

Algoritma Emosi dan Politik Kemarahan

Di era digital hari ini, algoritma media sosial tidak bekerja sekadar menampilkan hiburan. Ia membaca emosi manusia, merekam keresahan, lalu menyodorkan konten yang mampu membuat seseorang bertahan lebih lama di layar. Dalam logika platform digital, perhatian adalah komoditas. Semakin lama seseorang terpaku, semakin besar keuntungan yang dihasilkan.

Masalahnya, emosi negatif seperti marah, takut, kecewa, dan benci terbukti lebih mudah menarik perhatian dibanding narasi yang tenang. Karena itu, konten bernuansa provokatif sering kali lebih cepat menyebar dibanding pesan damai atau diskusi yang sehat. Akibatnya, ruang digital perlahan dipenuhi pola komunikasi yang keras, reaktif, dan penuh kemarahan.

Fenomena ini menjelaskan mengapa banyak anak muda yang awalnya hanya mencari pelarian emosional akhirnya terseret pada narasi ekstrem. Mereka tidak langsung direkrut secara formal, melainkan digiring secara psikologis melalui konsumsi konten berulang. Algoritma bekerja seperti lorong panjang: satu video membawa ke video lain yang lebih emosional, lebih marah, dan lebih radikal.

Dalam konteks ini, radikalisme digital tumbuh bukan hanya karena ideologi, tetapi juga karena ekosistem emosi yang dipelihara terus-menerus. Ketika seseorang merasa kecewa terhadap hidup, lalu terus menerus menerima konten tentang ketidakadilan, kebencian, atau permusuhan identitas, maka perlahan dunia akan terlihat sebagai tempat penuh ancaman. Dari situlah lahir pola pikir “kami melawan mereka”.

Situasi ini semakin berbahaya karena media sosial menciptakan echo chamber atau ruang gema. Seseorang hanya dipertemukan dengan pandangan yang serupa dengan keyakinannya. Akibatnya, ia kehilangan kemampuan mendengar perspektif berbeda. Perbedaan tidak lagi dianggap sebagai kenyataan sosial, tetapi dipahami sebagai musuh yang harus dilawan.

Pada titik tertentu, individu yang terisolasi secara sosial akan merasa menemukan “keluarga baru” di ruang digital. Kelompok-kelompok ekstrem memahami celah ini dengan sangat baik. Mereka menawarkan solidaritas semu, rasa diterima, bahkan identitas perjuangan. Padahal di balik itu terdapat proses indoktrinasi yang perlahan mengubah cara pandang seseorang terhadap masyarakat.

Karena itu, ancaman algoritma tidak bisa dipahami hanya sebagai persoalan teknologi. Ia sudah menyentuh wilayah psikologi, relasi sosial, bahkan keamanan masyarakat. Ketika manusia kehilangan ruang dialog di dunia nyata, maka ruang digital akan lebih mudah mengendalikan arah emosinya.

Maka tantangan terbesar hari ini bukan sekadar membatasi konten radikal, tetapi juga membangun kembali budaya percakapan yang sehat di tengah masyarakat. Anak muda membutuhkan ruang didengar tanpa dihakimi, ruang bertumbuh tanpa tekanan pencitraan, dan ruang komunitas yang mampu menghadirkan makna sosial secara nyata. Sebab ketika manusia merasa benar-benar dimiliki oleh lingkungannya, propaganda kebencian akan jauh lebih sulit menemukan tempat tumbuh.

Leave a Comment

Related Post