25.7 C
Jakarta

Kehangatan Keluarga Tepis Radikalisme

Artikel Trending

AkhbarDaerahKehangatan Keluarga Tepis Radikalisme
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Semarang – Ibu adalah jantung keluarga yang sangat vital keberadaannya. Tak sekadar masalah urusan dapur ngebul ataupun pendidikan anak, ibu punya andil besar untuk membentengi keluarga dari ancaman radikalisme.

Pernyataan itu ditegaskan Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Provinsi Jawa Tengah Indah Sumarno dalam Rapat Kerja dengan pengisian Talkshow, tema “Peran DWP Provinsi Jawa Tengah Dalam Mencegah Radikalisme”, Kamis (18/8/2022).

Indah menyampaikan radikalisme hingga saat ini masih menjadi musuh bersama. Tindakan terorisme dan intoleransi, jelas bertentangan dengan spirit dan nilai pancasila yang menjunjung tinggi kebhinekaan. Untuk itu perlu upaya pencegahan mulai dari keluarga karena jika telah terdoktrin radikalisme akan susah untuk terlepas.

Untuk itu, ibu harus bisa menghangatkan keluarga dengan kasih sayang, perhatian, dan kemampuan, untuk mendidik anak menjadi orang-orang yang bermartabat dan berakhlak mulia. Indah mengingatkan jangan sampai anak-anak ataupun suami kekurangan perhatian, agar tidak terjerumus dan menjadikan radikalisme sebagai pelarian.

“Ibu adalah jantung keluarga yang akan mewarnai, membawa kehidupan dalam keluarga. Begitu penting peran Ibu untuk membentengi keluarga dari radikalisme yang saat ini masih menjadi musuh bangsa kita” ujarnya.

Selain memberikan perhatian dan kasih sayang penuh, ibu diharapkan selalu memantau dan waspada terhadap situs-situs yang di jelajahi anak-anak. Jangan sampai mengakses situs-situs yang berisi ujaran kebencian.

Hal senada juga disampaikan Penasihat DWP Provinsi Jawa Tengah Atikoh Ganjar Pranowo. Menurutnya, penguatan antiradikalisme harus dimulai dari diri sendiri. Bentengi diri dari pengaruh negatif yang mengarah pada masuknya faham radikalisme.

“Setelah diri sendiri, berikutnya adalah penguatan pada keluarga. Kita sebagai orang tua jangan sampai salah asuh. Kita harus bisa menjadi role model bagi anak. Kenalkan dan tekankan pada anak sejak dini, kecintaan terhadap NKRI dan sesama,” bebernya.

Tak hanya itu, sebagai istri PNS, Atikoh meminta anggota DWP untuk mengingatkan para suami agar terus menjadi benteng NKRI. Ajak pula masyarakat untuk mencegah radikalisme. Tebarkan narasi perdamaian di media sosial, saat bergaul, atau di manapun. Kedepankan nilai-nilai.kemanusiaan, agar seluruh masyarakat, terutama perempuan, bisa menjaga dirinya.

“Bagaimana pun, penvegahan dan pemberantasan radikalisme, terorisme, dan intoleransi, bukan semata tanggung jawab pemerintah. Tapi harus dilaksanakan secara gotong royong semua komponen bangsa, termasuk perempuan,” tegasnya.

BACA JUGA  Bakesbangpol Jawa Timur Bentuk Tim Penyuluh Terpadu Anti Radikalisme

Jauhi Situs Ujaran Kebencian

Kurangnya kehangatan keluarga menjadi salah satu alasan terjerumus dalam paham radikalisme diamini oleh Eks Napiter (narapidana kasus terorisme) Binaan Badan Kesbangpol Provinsi Jawa Tengah Ika Puspitasari (41) yang hadir sebagai narasumber.

Berasal dari keluarga broken home dan merupakan tulang punggung keluarga sejak kecil, saat itu Ika merasa mendapat sebuah pelarian ketika masuk ke dalam paham radikalisme dan memiliki teman-teman yang senasib. Sehingga faham tersebut mudah terpatri di benaknya. Selain itu paparan berita-berita di situs online membuat keyakinannya akan paham radikalisme meningkat.

“Saya berasal dari keluarga broken home, lalu waktu itu masih SMP mau lanjut ke SMA tapi tidak punya biaya. Akhirnya bekerja ke Malaysia jadi TKW, dengan menuakan usia. Saya juga anak pertama dan tulang punggung keluarga. Tekanan tanggung jawab inilah yang membuat saya akhirnya mencari-cari, dan akhirnya terjerumus radikalisme,” ungkap Ika.

Perempuan asal Purworejo itu mengaku, dia pun terpapar paham radikalisme lewat media sosial, dan koordinasi dilakukan lewat online.

Dia menambahkan, sebagian besar masyarakat Indonesia terpapar dari media-media online. Untuk itu, Ika mengingatkan pentingnya berselancar di media sosia, dan menjauhi situs-situs yang menyebarkan ujaran kebencian kepada NKRI.

Hadir mendampingi Ika, sang suami Ahmad Supriyanto, yang juga seorang Eks Napiter. Dia menambahkan, generasi muda adalah golongan yang paling mudah disusupi paham radikalisme, yaitu sebanyak 80%.

Ahmad pun memberikan tips agar generasi muda tidak terjatuh dalam jurang radikalisme. Antara lain, dengan memperkuat ilmu agama, tidak gampang percaya doktrin-doktrin tanpa ilmu yang pasti, tidak fanatik terhadap sebuah kelompok.

Apabila ada salah satu keluarga yang terdeteksi paham radikalisme, coba ajak berdialog dan berdiskusi. Waspadai jika dia menentang pemerintah, dengan membawa dalili-dalil agama.

Namun, sejak kembali kepada NKRI, Ika dan Ahmad mengaku merasa lebih damai dan tenang. Mereka berharap dapat ikut bersinergi memajukan Indonesia, dan kelak akan membentengi anak-anak mereka dari paham radikalisme.

Ahmad Fairozi
Ahmad Fairozihttps://www.penasantri.id/
Mahasiswa UNUSIA Jakarta, Alumni PP. Annuqayah daerah Lubangsa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru