31.4 C
Jakarta

Kapitalisme dan Sekularisme; Fitnah Jahat Aktivis Khilafah HTI untuk Memecah-belah NKRI

Artikel Trending

Milenial IslamKapitalisme dan Sekularisme; Fitnah Jahat Aktivis Khilafah HTI untuk Memecah-belah NKRI
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Teori benturan peradaban (clash of civilizations) yang digagas Samuel Huntington sangat fenomenal pada akhir abad kedua puluh. Teori yang menyatakan bahwa identitas budaya dan agama seseorang akan menjadi sumber konflik utama di dunia itu masih relevan hingga sekarang. Namun, rekonsiliasi antaragama dan lintas budaya hari ini bisa menjawab teori tersebut. Agama dan budaya bukan lagi masalah primordial yang memantik benturan satu sama lain. Ada masalah lainnya.

Barat dan Timur masih kontras dan mungkin tidak akan pernah bersatu. Itu memang benar. Namun, jika ditilik lebih jauh, konflik Timur dan Barat hari ini bukan karena aspek agama, melainkan aspek ekonomi dan politik. Tanyakan pada seseorang, saat ini, tentang peradaban Barat; Amerika Serikat dan Kanada, Eropa Barat dan Tengah, Australia dan Oseania, mereka tak akan melihat dari sisi agamanya. Justru ia akan mengatakan sedikitnya dua kata: kapitalisme dan sekularisme.

Dua term tersebut sering disebut di dunia Muslim untuk menunjukkan permusuhan terhadap Barat. Dengan kata lain, ada upaya mengonstruksi sentimen anti-Barat dengan dalih menentang kapitalisme di bidang ekonomi dan sekularisme di bidang politik. Lalu para pelakunya menuntut Islam tidak didominasi Barat, dan tebak apa yang mereka tawarkan? Mendirikan khilafah. tidak sulit untuk menyimpulkan bahwa kapitalisme-sekularisme menjadi intrik jahat aktivis khilafah untuk memecah-belah NKRI.

Sebelumnya, telah dibahas bagaimana narasi liberalisme diseret sedemikian rupa untuk mengelabui umat Islam di NKRI bahwa iklim keberagamaan hari ini belum sesuai yang diajarkan Islam. Islam dianggap termarjinalkan, Muslim teralienasi, dan ajaran Islam dianggap tidak sempurna. Kapitalisme dan sekularisme juga demikian. Ia menjadi fitnah yang selalu disebarluaskan ihwal bobroknya sistem ekonomi di NKRI. Aktivis khilafah HTI jualan isu tersebut untuk menegakkan khilafah.

Jualan Isu Kapitalisme dan Sekularisme

Kita tak perlu bahas banyak tentang kapitalisme dan sekularisme. Tentu keduanya sistem ekonomi dan politik yang tidak sempurna. Namun, yang sangat penting dibahas ialah bagaimana kedua istilah tersebut dijadikan senjata untuk memecah-belah NKRI. Para aktivis khilafah, terutama dari kalangan HTI, menjadikan kapitalisme dan sekularisme bahan untuk mendisintegrasi bangsa dan melemahkan negara. Tujuan akhirnya—sebagaimana liberalisme—adalah agar umat membenci lalu memberontak rezim.

Padahal, ihwal kapitalisme, sebagaimana sosialisme, sebagai sistem ekonomi, tidak bisa dihindari. Negara-negara di dunia memang boleh memilih sistem ekonominya masing-masing, seperti sistem ekonomi tradisional, sistem ekonomi komando, sistem ekonomi campuran, sistem ekonomi pasar, maupun sistem ekonomi kerakyatan. Namun, penerapan sistem tersebut tidak bisa dipilih secara acakadut, karena sistem ekonomi dunia bersifat terintegrasi.

Persoalannya, jika aktivis khilafah jualan isu kapitalisme sebagai sistem yang menyalahi Islam, apa tawaran alternatif mereka dan apakah sistem ekonomi alternatif tersebut diakui sebagai sistem ekonomi dunia? Jika tidak, maka aktivis khilafah sama dengan berusaha menyeret umat ke jurang kemiskinan.  Bagaimana mereka ingin meraih kejayaan Islam tapi sistem ekonomi yang ditawarkannya teralienasi atau bahkan belum jelas? Nonsens.

Bagaimana dengan sekularisme? Jelas sekali bahwa aktivis khilafah, misalnya yang secara masif disuarakan dalam seminar-seminar mereka maupun website MuslimahNews, tidak punya basis argumentasi kokoh untuk mengkritik sistem politik di NKRI. Khilafah yang mereka tawarkan adalah sistem politik monarki yang sampai kiamat pun tidak relevan diterapkan di sini. Jika pun bukan monarki yang mereka maksud khilafah, tetap saja argumentasi mereka lemah dan tidak punya dasar yang jelas.

Belum lagi, terkait konsep khilafah itu sendiri belum jelas. Mereka bingung siapa yang layak jadi pemimpin tertinggi dan atas dasar apa pemilihan tersebut. Alih-alih berpikir cerdas tentang itu, mereka mengkritik sistem demokrasi dan Pancasila di NKRI sebagai sistem thaghut; mentok di situ argumennya, argumen andalan yang menunjukkan kegoblokan mereka sendiri. Meskipun demikian, kapitalisme dan sekularisme tetap jadi jualan mereka. Dan anehnya, ada saja umat Islam yang tertarik membelinya.

NKRI Pecah, Khilafah Tegak

Konsepnya adalah, setiap ada yang jualan, pasti ada yang beli. Aktivis khilafah menyadari itu lalu mereka terus menebarkan fitnah melalui isu kapitalisme dan sekularisme untuk memecah-belah NKRI. Jika NKRI pecah, khilafah tegak. Sesederhana itu misi mereka. Maka tidak peduli ormas pegiat khilafah dibubarkan, dakwah mereka terus berjalan. Tidak peduli argumennya lemah, yang penting umat Islam terus dicekoki sampai akhirnya mereka terpengaruh dan jadi bagian dari aktivis khilafah di NKRI.

Ada kegiatan R20, mereka bikin tulisan bahwa itu adalah upaya meniru Barat. Ada event G20, mereka kembali menebar fitnah bahwa sekelas KTT yang membanggakan pun tidak ada gunanya untuk masyarakat, dan tak lebih dari bukti menggilanya kapitalisme di NKRI. Jika ada sesuatu yang sekiranya menjadi sinyal bahwa NKRI adalah negara besar nan islami; juga disegani dunia; juga negara maju, para aktivis khilafah langsung membuat narasi tandingan melalui isu liberalisme, kapitalisme dan sekularisme.

Bagi mereka, NKRI tidak boleh tampak berprestasi di mata masyarakat, sebab itu artinya dakwah mereka selama lebih dua dekade nihil dan menghasilkan lelah belaka. Karenanya, apa pun yang terjadi, tiga isu tersebut menjadi konter ekonomi, politik, dan keagamaan di NKRI. Sembari menyebarkan fitnah jahatnya, para aktivis khilafah, terutama dari kalangan HTI, menyuguhkan masyarakat sebuah iklim keberagamaan dan sosial-politik yang islami. Tidak lain dan tidak bukan adalah khilafah.

Untuk itu, seluruh masyarakat mesti memahami satu fakta penting bahwa kapitalisme dan sekularisme, juga liberalisme yang telah diulas sebelumnya, murni adalah fitnah jahat aktivis khilafah HTI untuk memecah-belah NKRI. Pada saat yang sama, aparat perlu segera bertindak agar mereka jera dan tidak tersu-menerus berbuat ulah di negara ini. Seluruh aktivis khilafah harus dipenjara atau diusir ke luar negeri. Jika tidak, NKRI akan pecah dan NKRI akan tegak. Dan jika khilafah tegak, artinya NKRI sudah hancur.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Mahasiswa SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru