24.6 C
Jakarta

Jangan Plagiat!

Artikel Trending

KhazanahLiterasiJangan Plagiat!
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Beberapa waktu lalu, bulan Agustus 2022, dunia literasi baca tulis heboh ketika kasus plagiat terungkap. Buku Seri Edukasi Korona yang  disusun oleh Watiek Ideo, Nindia Maya-sebagai penulis, dan Luluk Nailufar-sebagai ilustrator,  diplagiat oleh Umi Rosyidah, seorang sarjana lulusan Bahasa dan Sastra Indonesia yang berprofesi guru. Tak tanggung-tanggung, selain diplagiat, buku tersebut juga diterbitkan.  Aneh, buku plagiasi tersebut bisa lolos IPusnas Perpusnas RI dan  dan mendapat ISBN, EISBN, dan diterbitkan oleh penerbit Indocamp.

Sementara, sebelumnya, April  2022 ada kasus plagiat novel berjudul Twin Ning karya Azri Zakkiyah yang tahun 2010 diterbitkan penerbit Matapena LKiS, Yogyakarta. Naskah plagiasi tersebut oleh seorang peserta diikutkan lomba menulis novel di Penerbit LovRinz. Menang dan kemudian diterbitkan, baru ketahuan.

Pelaku plagiat tergolong nekat, memakai judul yang sama: Twin Ning. Kasusnya terbongkar.  Sang plagiatornya adalah pemilik FB ArsyLa  alias Sri Utami, mengaku sebagai guru SD di Surakarta.

Sementara, November 2021, puisi Setia Naka Andrian berjudul Kerabat diplagiat oleh sasterawan Malaysia bernama Wacan Mida/Mohamad Asri Mah Hussin. Puisi diubah judulnya:  Mahukah Engkau Lelap Sekejap di Halaman yang Tiada Pohon Rendang dan dimuat di Majalah Dewan Sastera Desember 2021.

Kasus yang masih  hangat, adalah yang menimpa penyair Muhammad Daffa. Puisinya diplagiasi oleh seorang remaja yang dalam profil FB mengaku sebagai penulis dan seniman. FB Alwi Khoirozzad  di halaman FB miliknya mengeposkan puisi berjudul Minggu Untuk Kekasih karya Muhammad Daffa. Judulnya tetap, tapi nama penyair asli dihapus, digantikan namanya. Ini adalah plagiasi paling kentara.

Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga

Sebagai penulis apakah saya pernah plagiasi? Jawabnya tidak, bahkan sama sekali tak ada sejak dalam pikiran untuk plagiasi. Apakah karena karya saya pernah diplagiasi? Alhamdulillah, sampai hari ini belum. Semoga saja tidak  Hanya saja beberapa tahun silam saya pernah selancar di internet, menemukan cerpen saya berjudul Lebaran Tanpa Suami, dimuat di Nova Edisi Lebaran pada tahun 2012 silam.

Dalam sebuah blog, cerpen Lebaran Tanpa Suami  ditulis ulang oleh seseorang dengan judul diganti: I Love You Too. Nama-nama  tokohnya juga diganti. Entah apa maksudnya. Tapi saya berpikir ini belum termasuk plagiasi. Karena cerpen yang berganti judul dan nama tokoh itu tetap mencantumkan nama Kartika Catur Pelita alias KCP sebagai penulisnya!

Dalam bagian lain, saya pernah tercemari gara-gara plagiasi. Maksudnya, tanpa diduga saya menemukan kasus plagiasi dan mengumumkannya di medsos. Tanpa dinyana pula dia, si pelaku ternyata satu buku dengan saya. Saya benar-benar jijik!

Baiklah, agar pembaca tiada bingung, begini alur kisahnya. Tahun 2020 ketika wabah Covid-19 melanda dunia, tidak terkecuali di Indonesia, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif & IKAPI menyelenggarakan program Nulis dari Rumah. Sayembara menulis cerpen atau esai bertema pandemi dan Indonesia. Peserta ribuan. Panitia menyeleksi, dan memilih 100 pemenang, yaitu 50 naskah cerpen dan 50 naskah esai. Para juri: Eka Budianta, Melani Budianta, Agus Noor, Pax Benedanto, Arys Hilman Nugraha.

Alhamdulillah, saya terpilih sebagai pemenang dalam 50 naskah terpilih. Cerpen saya berjudul Ula Lempe terpilih. Para pemenang mendapat hadiah sejumlah uang tunai.

100 karya dibukukan ke dalam dua buku. Saatnya Menjadi Bangsa yang Tangguh,  berisi 50 esai pemenang. Sementara, cerpen saya dibukukan dalam buku antologi 50 cerpen pemenang,  Pesan Penyintas Siang. Di sinilah awal mulanya terembus plagiasi dan cacat dalam buku Pesan Penyintas Siang.

Saya menemukan cerpen berjudul Jalan Sunyi Menuju Mati, yang telah dimuat Koran Kompas pada 09 Agustus 2020, dan kemudian dimuat di buku Pesan Penyintas Siang. Cerpen Jalan Sunyi Menuju Mati ditulis Fandrik Ahmad.

Kemudian, ada cerpen berjudul Doa Sunyi Dedaunan Trembesi  atas nama Yose Rizal Triarto, ternyata karya plagiat dari cerpen   berjudul Salawat Dedaunan karya sastrawan Yanusa Nugroho!

BACA JUGA  Formula Mencari Ide dan Menabungnya Hingga Jadi Tulisan

Kedua penulis jelas melanggar MoU Penerbitan yang salah satunya menyatakan bahwa  naskah cerpen merupakan karya orisinal, karya asli penulis dan belum pernah diterbitkan!

Kasus ini saya ungkap dalam status panjang FB, bahkan ada media Pikiran Rakyat.com yang memblow upnya. Banyak pelaku literasi baca tulis, termasuk para sastrawan yang mendukung dan menghujat pelaku plagiarisme. Sayangnya tidak ada tindak lanjut kasus tersebut.

Kasus ini berakhir senyap seiring waktu. Si plagiator Yose Rizal Triarto menutup akun medsosnya. Tidak ada klarifikasi dan permintaan maaf secara terbuka atau umum Hanya rasa keprihatinan diungkapkan  dari  penerbit Mekar Cipta Lestari. Penerbit menyatakan tidak ikut menyeleksi naskah. Sementara para juri seolah lepas dari tanggung jawab.

Hanya penerbit MCL  yang mewakili dalam status FB-nya, bahwa kemenangan si plagiator dianulir. Entah hadiah uang sebagai ditarik atau tidak. Bahkan tidak ada permintaan maaf dari panitia. Saya yang beberapa menghubungi dicuekin.

Apa yang dilakukan Setelah Plagiat Terjadi?

Mengapa plagiasi terjadi dan terjadi? Setidaknya ada 2 motif ketika melakukan plagiasi. Motif finansial dan motif status sosial, ingin diakui sebagai penulis atau sastrawan, sehingga mendaku karya orang lain. Apa yang dilakukan ketika seorang terlibat plagiasi? Minimal minta maaf dan tidak mengulangi. Jika seorang muslim tentu mohon maaf dan taubat nasuha.

Dalam kasus buku Seri Edukasi Corona,  penerbit dan pelaku plagiat meminta maaf di atas materai. Kasus novel Twin Ning, sang penulis memilih memaafkan, tidak membawanya ke jalur hukum. Si plagiator meminta maaf di atas materai dan  dalam sebuah unggahan video. banyak kasus plagiat hanya diselesaikan secara minta maaf di atas materai, padahal penulis asli dirugikan secara material dan immaterial.

Sementara kasus terbaru, Alwi Khoirozzad,  pelaku plagiat puisi Muhammad Daffa, memilih tidak membalas komentar alias lari dari kenyataan. Mungkin sebagian plagiator adalah penganut aliran halu. Merasa sebagai penulis yang punya karya. Sementara kasus plagiasi yang saya buka di program NdR, saya dan seorang sastrawan melakukan aksi coret di buku PPS.

Entah buku yang sudah dicetak ribuan eksemplar dan ‘cacat ‘ itu dicabut dari peredaran dan dilakukan  revisi atau tidak? Seperti yang ditulis dalam webnya  penerbit MCL tidak mengikuti seleksi, hanya menerbitkan. Saya pikir sudah legawa ketika penerbit tersebut mengklasifikasi dengan  merasa karena  nila setitik rusak susu sebelanga. Konon penulis dianulir kemenangan. Sementara tak ada pemberitahun resmi dari panitia, Kemenparekraf atau dewan juri terhormat terkait kasus plagiarisme tersebut.

Apakah sia-sia yang saya lakukan mengungkap kasus plagiat? Paling tidak kami telah membuka kedok kejahatan intelektual. Saya dan sastrawan Heru Amurwabumi, Emerging UWRF 2019, penulis cerpen Rangda Girah Calon Arang telah melakukan aksi Coret Karya Plagiator dengan dengan tinta merah pada tulisan si plagiator Yose Rizal Triarto di buku Pesan Penyintas Siang. Beberapa penulis yang karyanya termaktub dalam buku mendukung. Beberapa terlihat cuek. Padahal sebagai penulis seharusnya kita abai ketika plagiarisme terjadi

Plagiasi Melanggar Etika dan Hukum

Pada dasarnya, plagiasi tak ada beda dengan mencuri. Plagiasi adalah pencuri karya milik orang lain. Pencurian hak cipta milik orang lain. Saya ingin membuka wawasan para pegiat literasi tentang etika sebagai penulis. Apa pun alasannya plagiasi adalah perbuatan tidak beretika dan melanggar hukum. Plagiator selain  nama  tercemar dan juga karirnya sebagai penulis bisa tamat.

Tempo hari ketika sastrawan Remmy Novaris DM dan Omnie Koesnadi menyusun buku antologi puisi dan dia menemukan nama plagiator, maka secara otomatis karyanya tidak diloloskan.  Demikian pula ketika plagiator mengirim karya ke media cetak atau daring. Tak ada tempat bagi plagiator. Jadi, kamu ingin bernapas panjang karirnya sebagai penulis? Jangan sekali-kali plagiat. Plagiat takkan menjadikanmu penulis yang hebat!

Kartika Catur Pelita
Kartika Catur Pelita
Pegiat Komunitas Akademi Menulis Jepara (AMJ)

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru